Dari Pusat Oleh Oleh Khas Semarang ke Melihat Gereja Blenduk di Kota Lama hasil Kolaborasi Portugis dan Belanda

12 February 2024
Gereja Blenduk di Kawasan Kota Lama Semarang

kanal9.id - Di Kota Lumpia sebaiknya memuaskan hasrat belanja buah tangan di Pusat Oleh Oleh Khas Semarang Jl Pandanaran. Setelah itu nikmatilah keelokan arsitektur Belanda yang berkolaborasi dengan Portugis di Kawasan Kota Lama.

Ya, dari Pusat Oleh Oleh Khas Semarang ke Gereja Blenduk di Kawasan Kota Lama hanya butuh 20 menitan naik BRT atau TransSemarang, atau naik taxi, atau naik ojol.

Mengapa disebut kolaborasi Belanda dan Portugis? Apa ada kaitannya dengan Piala UEFA Eropa dan Gereja Blenduk Kawasan Kota Lama Semarang? Berapa jarak antara Pusat Oleh Oleh Khas Semarang Jl Pandanaran depan Menara Suara Merdeka ke Gereja Blenduk di Kawasan Kota Lama?

BACA JUGA: Melangkah ke Masa Depan: Mengungkap Keajaiban Apple Vision Pro untuk Produktivitas dan Hiburan

Meski sudah berusia ratusan tahun, hingga kini Gereja Blenduk masih aktif lo gaess. Status Gereja Blenduk di Kawasan Kota Lama Semarang hingga saat ini sebagai Cagar Budaya.

Gereja Blenduk yang hingga kini masih aktif untuk peribadatan ini termasuk ke dalam warisan budaya Kota Semarang sekaligus landmark dan daya tarik wisata yang penting.

Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama Semarang Agama Apa? Sebenarnya namanya GPIB Immanuel Semarang, namun karena bentuk kubahnya yang "mblenduk" maka kemudian populer disebut Gereja Blenduk.

Gereja Blenduk di Kawasan Kota Lama Semarang adalah Agama Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di Kawasan Kota Semarang (dulu belum bernama Kawasan Kota Lama) itu pada 1753, dengan bentuk oktagonal (persegi delapan).

BACA JUGA: Melangkah ke Masa Depan: Mengungkap Keajaiban Apple Vision Pro untuk Produktivitas dan Hiburan

Sejarah Gereja Blenduk

kanal9.id melansir laman resmi Disbudpar Kota Semarang, yakni pariwisata.semarangkota.go.id, Gereja Blenduk mulai dibangun oleh orang-orang Portugis tahun 1753 dengan bentuk yang sederhana.

Baru setelah Belanda berkuasa dan merombak total bangunan gereja tahun 1894-1895 dan menjadikannya sebagai gereja Immanuel yang memiliki bentuk atap kubah dengan dua buah menara.

Luas Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, 31 hektare. Di Kawasan Kota Lama Semarang terdapat banyak bangunan tua peninggalan zaman kolonial Belanda.

Salah satu ikonnya adalah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel atau dikenal dengan Gereja Blenduk, yang terletak di Jalan Letjen Suprapto No. 32.
Dari situs resmi cagarbudaya.kemdikbud.go.id, tahun 1753 Bangsa Portugis membangun gereja yang kini disebut Gereja Blenduk. Awalnya, gereja ini berbentuk rumah panggung Jawa. Atapnya disesuaikan dengan arsitektur Jawa.

Di Buku "Mengenal Gereja Blenduk sebagai Salah Satu Landmark Kota Semarang (Moedjiono dan Indriastjario)pada 1894-1895, bangunan tersebut diperbaiki dan dibangun ulang oleh Belanda.

Belanda melakukan perubahan yang drastis dengan mendirikan dua buah menara. Bentuk atapnya pun diubah seperti kubah setengah bola. Perubahan bentuk bangunan ini tertuang dalam sebuah prasasti yang tertulis di tiang gereja.

Prasasti itu menyebut, H.P.A. De Wilde dan W. Westmaas adalah arsitek yang menangani perubahan bentuk bangunan. Oleh karena itu, ada yang menyebut gereja ini dengan Hervorm de Kerk (Gereja Bentuk Ulang), Protestanche Kerk (Gereja Protestan), dan Koepel Kerk (Gereja Kembar). Khusus julukan yang ditulis di akhir, sebutan itu dimaksudkan sebagai dua menara kembar yang ada di depan gereja dan mengapit bangunan utama.

Asal-usul Nama Gereja Blenduk

Usai atap GPIB Immanuel mengalami perubahan, masyarakat banyak yang menyebutnya sebagai Gereja Blenduk. Dalam bahasa Jawa, “mblenduk” atau “menggelembung”.

Gereja Blenduk dibangun dengan gaya Neo Klasik. Jika dilihat sekilas, memang terlihat mirip dengan bangunan-bangunan gereja di Eropa pada abad 17-18 yang menggunakan kubah sebagai penutup atap.

Jika dilihat dari atas, denah gereja berwujud seperti salib Yunani dengan ruang kebaktian sebagai titik sentral. Dikutip dari kebudayaan.kemendikbud.go.id, ditempatkannya ruang ibadah di tengah, erat kaitannya dengan simbolisasi Kristus yang disalibkan.

Ornamen di Gereja Blenduk ini memiliki kekhasan, seperti orgel setinggi enam meter yang berusia lebih dari 200 tahun. Tempat duduk jemaat di Gereja Blenduk juga berbeda dari lainnya. Tempat duduknya berupa kursi tunggal berbahan kayu jati dengan sandaran punggung dan dudukan dari anyaman rotan.

Ventilasi ruangan berupa jendela-jendela lengkung model Romawi kuno. Jendela berbahan kaca patri itu mempunyai gaya gotik. Jendela-jendela tersebut tidak bisa dibuka-tutup. Kini, GPIB Immanuel atau yang disebut juga dengan Gereja Blenduk telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Demikian artikel mengenai sejarah Gereja Blenduk di Kawasan Kota Lama Semarang. Jika diukur berapa jaraknya dari Pusat Oleh Oleh Khas Semarang sekitar 5 km, atau jika lancar 10-20 menit perjalanan dengan BRT atau TransSemarang, ojol, grab, taxi online, naik motor sendiri, atau naik mobil sendiri. Semoga bermanfaat.***

Kontributor:

Terkait