Baru Rayakan Idul Fitri Jumat Kemarin, Ternyata Islam Aboge di Jepara Berlebaran Dua Kali

15 Mei 2021

JEPARA - Aliran Islam di Indonesia begitu banyak. Sebagian bahkan mempunyai cara yang berbeda dalam menjalankan ibadah. Salah satunya dalam menentukan mulainya bulan hijriyah. Sehingga seringkali ada perbedaan. Terasuk waktu lebaran yang akhirnya menjadi bahan berita.

Penganut Aliran Islam Alif Rebo Wage (Aboge) menjadi salah satunya. Aliran ini selalu mempunyai cara penghitungan sendiri, sehingga hampir pasti waktu perayaan lebaran selalu berbeda dengan yang lain.

Seperti yang terjadi di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Jepara, penganut Islam Aboge baru merayakan Lebaran Idulfitri, Jumat (14/5) kemarin.

Aroma kemenyan dan dupa mulai semerbak sesaat setelah pemimpin Aboge membakarnya di depan para jemaah. Pagi itu, pukul 05.30 WIB, puluhan orang selamatan di pendapa Balai Desa Sukodono.

Selamatan itu adalah pertanda penganut Islam Aboge mengakhiri puasa 30 hari penuh selama bulan Ramadan. Malam tadi, mereka melaksanakan takbiran di tempat yang sama.

Tak jauh berbeda dengan selamatan pada umumnya, sebelum menikmati makanan, jemaah melantunkan kalimat-kalimat tahlil.

Basyir, sesepuh Aboge di Sukodono, mengungkapkan bahwa jatuhnya 1 Syawal tahun ini sudah diketahui sejak beberapa tahun silam. Untuk itu, pegikut Aboge tetap meyakini bahwa hari ini adalah Idulfitri.

“Kalau saya, ramainya Idulfitri ya, hari ini. Dibanding kemarin,” kata Basyir, usai selamatan acara.

Meski begitu, jelas Basyir, dirinya dan penganut Aboge lainnya tetap ikut merayakan Idulfitri kemarin, sesuai dengan keputusan pemerintah penanggalan Hijriah.

Basyir menambahkan, realitas tersebut merupakan akulturasi kepercayaan dan kebudayaan Islam Jawa. Yakni tetap mempertahankan hitungan penanggalan ala Aboge.

Namun, seperti dikutip dari murianews.com, tetap menjalankan ibadah keagamaan berdasarkan ketetapan Islam yang dianut masyarakat pada umumnya.

Selamatan hari ini, bagi Basyir dan penganut Aboge lainnya, adalah upaya untuk tetap menjalankan tradisi kepercayaan leluhur. Sebab, kemarin pihaknya sudah melaksanakan Salat Idulfitri berjemaah dengan umat Islam lainnya.

“Ini (selamatan, red) hanya untuk menetapi syarat saja. Kalau salat Id nya tetap mengikuti kalender Hijriah hari kemarin,” terang dia. (Kan3)