Bocor, 270 Juta Data Penduduk Indonesia Dijual USD6.000

8 Juni 2021
Foto: cnnindonesia.com

JAKARTA - Polisi terus menyelidiki kasus bocornya data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Hinga kini, penyidik masih mendalami keterangan dari sejumlah saksi.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono, mengatakan masih belum ada pemeriksaan saksi lanjutan. Penyidik masih mendalami keterangan dari lima vendor di BPJS Kesehatan dan saksi yang telah diperiksa.

"Tentunya dari perkembangan yang terakhir kita telah memeriksa beberapa saksi dari BPJS kesehatan dan juga vendor yang mengatakan daripada teknologi informasi di BPJS Kesehatan hasil dari keterangan para saksi ini masih didalami oleh penyidik," katanya, Senin (7/6).

Dijelaskannya, keterangan dari para saksi menjadi dasar bagi penyidik dalam melakukan langkah selanjutnya.

"Penyidik masih mendalami keterangan-keterangan saksi untuk terus menyelesaikan kasus ini bersama-sama dengan instansi yang lain tentunya nanti apabila ada perkembangan-perkembangan akan disampaikan ke publik," terangnya.

Penyelidikan soal kebocoran data ini telah bergulir sejak isu kebocoran data mencuat di masyarakat.

Diketahui, penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri telah memeriksa lima vendor penyedia layanan teknologi informasi di BPJS Kesehatan pada Rabu (2/6). Penyidik juga telah meminta keterangan empat saksi, yakni dua saksi dari BPJS Kesehatan dan dua saksi lainnya dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Akun bernama Kotz memberikan akses download (unduh) secara gratis untuk file sebesar 240 megabit (Mb) yang berisi 1.000.000 data pribadi masyarakat Indonesia.

File tersebut dibagikan sejak 12 Mei 2021. Bahkan, dalam sepekan ini ramai menjadi perhatian publik. Akun tersebut mengklaim mempunyai lebih dari 270 juta data lainnya yang dijual seharga USD6.000. (kan1)