Catatan Hardiknas 2021 KPAI: Kualitas Pendidikan Menurun dan Belum Sentuh Keluarga Miskin

2 Mei 2021

JAKARTA - Di balik peringatn Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2021 yang dilakukan oleh berbagai instansi penilain terhadp pelaksanaan pendidikan di Indonesia masih bermunculan.

Salah satunya dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang memang bersentuhan langsung dengan kondisi anak Indonesia yang harusnya memperoleh pendidikan dengan layak. Akan tetapi masih banyak anak di negeri ini yang belum mendapatkan haknya dengan semestinya.

Untuk itu KPAI memberikan catatan pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei. KPAI menilai kualitas pendidikan Indonesia pada masa pandemik belum menyentuh anak-anak keluarga miskin.

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengungkapkan, pandemik telah berdampak signifikan terhadap menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia, bahkan angka putus sekolah meningkat hingga target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) terancam gagal tercapai.

"Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat bahwa pandemik COVID-19 di Indonesia telah menambah jumlah penduduk miskin, meningkatkan pekerja anak, dan meningkatkan putus sekolah," ujarnya dalam siaran tertulis, Minggu (2/5).

Berdasarkan data pengawasan KPAI selama 2020, kata Retno, angka putus sekolah karena menikah sebanyak 119 kasus, dan putus sekolah akibat menunggak SPP 21 kasus.

Sedangkan, pada Januari hingga Maret 2021 ada 33 kasus anak putus sekolah karena menikah, 2 kasus karena bekerja, 12 kasus karena menunggak SPP, dan 2 kasus karena kecanduan gadget sehingga harus menjalani perawatan dalam jangka panjang.

Selain itu, kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar daring terus menuai masalah, dan belum ada solusi dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

"Meskipun berbagai kebijakan sudah dibuat, seperti bantuan kuota internet, kebijakan kurikulum khusus dalam situasi darurat, kebijakan standar penilaian di masa pandemik, namun itu tidak efektifnya," kata Retno seperti dikutip dari IDNTimes.

Retno menilai PJJ terlalu bertumpu pada internet, akibatnya sejumlah kendala pembelajaran daring terjadi karena keragaman kondisi keluarga peserta didik, keragaman kondisi daerah seluruh daerah, dan kesenjangan digital yang begitu lebar antar daerah, mulai dari Jawa dengan luar Jawa sampai daerah perkotaan dengan pedesaan.

"Anak-anak dari keluarga kaya cenderung terlayani PJJ secara daring, namun anak-anak dari keluarga miskin kurang terlayani, bahkan banyak yang sama sekali tidak terlayani, hal ini berdampak kemudian dengan angka putus sekolah," ungkap Retno. (Kan3)

Terkait