Pembatasan Jawa-Bali Berlanjut, Harga Telur Semakin Anjlok Rp16 Ribu Per Kilogramnya

29 Januari 2021

JAKARTA - Peternak ayam petelur di sejumlah wilayah di Tanah Air pusing. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir penurunan harga ayam terbilang cukup signifikan.

Biasanya harga telur ayam di tingkat peternak secara nasional dijual sampai Rp24-25 ribu per kilogram (kg)-nya. Tetapi, kini harganya hanya berkisar antara Rp16-17 ribu per kg.

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi mengatakan, penurunan harga telur ayam di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yakni sebesar Rp19 ribu hingga Rp21 ribu per kg.

HET tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. “Kalau harga telur ayam Rp16 ribu, kita rugi Rp3 ribu per kg,’’ katanya, kemarin (28/1).

Dikatakan, penyebab harga telur ayam anjlok di tingkat peternak lantaran berbagai pemberlakukan kebijakan pembatasan sosial yang dilakukan berulang-ulang selama pandemi Covid-19 berlangsung. Kondisi itu membuat aktivitas konsumen menjadi terbatas, sehingga daya beli masyarakat belum kembali normal.

“Seperti sekarang ini, PPKM diperpanjang hingga 8 Februari. Ini kan otomatif ibu-ibu yang ke pasar menjadi terbatas. Jadinya, daya belum terus tertekan,’’ ucapnya.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, memasuki Januari 2021, harga telur terus turun, dan terendah pada 19 Januari 2021 di harga Rp26.600 per kg.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Syailendra mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih berkoordinasi untuk melihat kembali harga acuan bahan pokok.

“Infonya kan pakan ternak ayam naik, harga DOC naik meskipun harga ini masih di range batas acuan, sehingga peternak ayam merasa dirugikan. Kami sedang melihat dan masih proses,” katanya.

Kementerian Perdagangan juga akan melakukan treatmentsecara struktural. Treatment yang dimaksud adalah diperlukan untuk pakan ternak yang organik. Dengan cara ini diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah pakan ternak, komponen terbesar biaya produksi. (kan1)