Strategi Kompetitif Toko Modern

19 September 2022
Devis Anang A

PURWOKERTO - Di tengah perkembangan situasi yang tidak menentu dan penuh ketidakpastian yang ditandai dengan munculnya berbagai fenomena seperti Pandemi Covid-19 yang membatasi ruang gerak seluruh masyarakat, saat ini kembali kita dikejutkan dengan terjadinya disrupsi keamanan global terjadinya perang Rusia-Ukraina yang memiliki dampak multidimensional termasuk ekonomi dengan potensi timbulnya krisis ekonomi global yang diawali kenaikan harga minyak yang menjadikan pemerntah di seluruh dunia bersikap adaptif mengurangi subsidi dengan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) termasuk di Indonesia.

Di tengah situasi tersebut, seluruh pelaku bisnis tentunya harus bersikap adaptif dan melakukan berbagai langkah strategis guna menjaga daya saing dan keberlangsungan suatu bisnis. Bisnis ritel saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini ditandai dengan semakin banyak bermunculan bisnis ritel tradisional yang mulai membenah diri menjadi bisnis modern. Bisnis memiliki ciri kurangnya pemilihan lokasi yang tepat, tidak memperhitungkan potensi pembeli, jenis barang dagangan yang tidak terarah dan tidak ada seleksi merek. Sedangkan ciri dari bisnis ritel modern yaitu lokasi strategis yang merupakan faktor penting dalam bisnis ritel, prediksi cermat terhadap potensi pembeli, pengolaan jenis barang dagangan yang terarah, dan seleksi merek yang sangat ketat. Tersedianya sistem informasi yang canggih, memungkinkan bisnis ritel mampu menyediakan produk-produk baru, pelayanan yang sangat cepat, teliti, dan mampu memuaskan pelanggan.

Di Indonesia, saat ini pertumbuhan usaha ritel atau eceran sangat pesat menyebabkan persaingan semakin ketat. Menurut data Euromonitor International (2021), pada tahun 2021 di Indonesia terdapat 38.323 gerai minimarket atau convenience store, angka tersebut bertambah cukup signifikan dibanding pada tahun 2017 yang jumlahnya masih 31.488 gerai. Minimarket atau conveinence store yang dominan di Indonesia adalah Indomaret dan Afalmart. Pada 2021 Indomaret menjadi perusahaan dengan gerai ritel minimarket terbanyak, yakni 19.133 gerai, sedangkan Alfamart memiliki 16.060 gerai. Euromonitor International (2021) juga mencatat minimarket menjadi format toko ritel modern dengan penjualan tertinggi di Indonesia, dengan nilai total penjualan US$12,86 miliar sepanjang 2021. Dengan demikian, maka dapat diartikan bisnis ritel minimarket terus tumbuh meskipun terjadi Pandemi Covid-19.

Melihat data tersebut, maka keberadaan para pelaku usaha ritel toko modern mandiri harus berbenah agar usahanya dapat bersaing di tengah meningkatnya perkembangan bisnis ritel, yang dapat dilakukan melalui strategi antara lain:

Pertama, pemilihan lokasi. Menurut Hendri Maruf dalam buku Pemasaran Ritel (2006) menyebutkan lokasi merupakan faktor yang sangat penting dalam bauran pemasaran ritel, karena lokasi akan mempengaruhi jumlah dan jenis konsumen yang akan tertarik untuk datang ke lokasi yang strategis, mudah dijangkau, serta kapasitas lahan parkir yang cukup memadai bagi konsumen. Pada umumnya konsumen akan memilih toko yang paling dekat agar dapat menghemat waktu dan tenaga. Dalam aspek ini penguasaha ritel harus sangat cermat memilih tempat yang akan dijadikan usaha dan biasanya tempat ini berada di dekat dengan pusat kegiatan masyarakat misalnya di dekat Pasar, di dekat perkantoran maupun sekolah yang juga dipertimbangkan adalah analisis populasi penduduk di sekitar lokasi tersebut. Selain itu, aspek ketersediaan akses seperti lahan parkir juga menjadi salah satu pertimbangan pemilihan lokasi, karena masyarakat atau konsumen akan lebih tertarik datang ke toko yang memiliki parkiran luas dibandingkan toko yang memiliki parkiran sempit.

Kedua, kelengkapan keragaman produk. Aspek ini merupakan produk-produk yang akan dijual peritel dalam gerai atau tokonya. Produk merupakan sesuatu yang dapat ditawarkan di pasar sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan seseorang. Ritel harus mampu memutuskan karakteristik barang dagangan yang dipilih untuk ditawarkan kepada konsumen. Barang dagang yang memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen akan menciptakan rasa puas pada konsumen. Faktor ini sangat penting untuk memenuhi seluruh kebutuhan yang diinginkan konsumen. Hal ini dibutuhkan analisis pasar yang tepat, namun demikian hal ini dapat pula dilakukan dengan menjadikan karyawan toko sebagai agen pengumpul informasi tentang produk yang diinginkan masyarakat atau konsumen. Hal ini menciptakan daya saing toko ritel melawan gempuran minimarket conveinance store yang telah memiliki design planogram dan analisis pasar yang tersistem.

Ketiga, penentuan harga. Faktor harga tetunya menjadi faktor kunci memikiat konsumen yang dapat menciptakan image toko dan loyalitas pelanggan melalui kecintaan terhadap toko karena toko kita dianggap lebih murah dibandingkan dengan minimarket modern lainnya. Dalam aspek ini, juga dapat dilakukan strategi subsidi silang dengan menekan harga penjualan barang-barang sembako sebagai target utama pembelian konsumen dengan menaikan harga kompetitif untuk produk lain.

Keempat, Pelayanan. Menurut Philip Kotler (2003:464) menyebutkan bahwa pelayanan merupakan suatu tindakan atau kinerja yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain. Dalam bisnis ritel ini, pelayanan yang diberikan oleh karyawan kepada pelanggan menjadi hal yang paling utama, pelayanan dapat diberikan dengan membudayakan 3S (senyum, sapa dan salam) kepada pelanggan yang baru memasuki toko dan memilih barang hingga sampai proses pembayaran pada kasir. Namun demikian, pelayanan tidak hanya sampai disitu, proses pelayanan pasca penjualan (after sales service) juga sangat penting dilakukan, hal ini untuk mengukur tingkat kepuasan konsumen atas layanan yang diberikan oleh karyawan toko sekaligus untuk mengikat kecintaan konsumen kepada toko.

Kelima, Promosi. Aspek promosi menjadi hal yang sangat penting untuk menyampaikan atau memperkenalkan produk-produk kita kepada kosumen. Philip Kotler dan Kevin Keller dalam buku maaajemen pemasaran (2009:5) meyebutkan pemasaran adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia da sosial atau memenuhi kebutuhan dengan cara yang menguntungkan. Pada era saat ini, digitalisasi dan visualisasi promosi melalui media sosial menjadi aspek yang sangat penting untuk menawarkan produk-produk dari toko kita. Selain itu, menjadikan karyawan toko sebagai agen pemasaran juga dapat menjadi solusi dalam mendukung strategi pemasaran, hal ini juga untuk mengetahui atau mengukur kecintaan karyawan toko kepada produk-produk toko untuk dapat dijual kepada konsumen.

Keenam, Ketepatan Perencanaan SDM dan Rekruitmen Karyawan. SDM menjadi hal yang sangat vital dalam suatu organisasi termasuk toko. Oleh karena itu, strategi mendapatkan SDM unggul menjadi aspek penting. Hal ini dilakukan dengan penyusunan atau perumusan perencanaan SDM yang meliputi penentuan kebutuhan karyawan, penentuan job design dan job sepesification sehingga dengan mengetahui hal tersebut, maka akan mudah untuk menentukan berapa jumlah karyawan dan kriteria karyawan yang dibutuhkan toko. Pemilihan karyawan yang memiliki kepribadian baik yang meliputi ekstraversi, keramahan, kehati-hatian, stablitas emosional dan keterbukaan pada pengalaman (Big Five Model kepribadian) dan menghindari perekrutan karyawan yang memiliki Dark Triad (machivellianisme, narsisme dan psikopat). Selain aspek tersebut, aspek passion dalam bersosial media juga dapat ditambahkan dalam perekrutan calon karyawan guna mendukung aspek promoting toko.

Ketujuh, Pemanfaatan Teknologi Informasi. Hal ini dilakukan dengan menerapkan sistem teknologi dalam operasional toko, mulai dari sistem kasir, sistem inventory dll untuk memudahkan bagi karyawan dalam pengoperasionalan toko. Penggunan teknologi informasi ini juga akan menjadikan usaha toko yang kita jalankan menjadi autopilot yang dapat kita kontrol dan kendalikan dari jarak jauh, sehingga hal ini tidak membatasi owner toko untuk selalu stand by atau berada di toko seperti toko-toko konvensiona. Dengan penggunaan teknologi informasi ini, owner toko atau pemangku kepentingan toko dapat merumuskan segmen pembelian produk yang fast movinng maupun slow moving dan dapat mengetahui trafic kunjungan toko, yang dapat digunakan sebagai feed back dalam perumusan strategi maupun manajemen operasional toko guna menciptakan keunggulan kompetetif maupun daya saing tinggi di tengah meningkatnya perkembangan toko modern saat ini.

Artikel ini ditulis Oleh : Devis Anang A. (Mahasiswa Magister Manajemen Fakultan Ekonomi Bisis Universitas Jenderal Soedirman