Transformasi Teknologi Pendidikan, Langkah Nyata Menuju Era Society 5.0

12 November 2022

Pendidikan merupakan sektor yang paling penting dalam membentuk peradaban, baik peradaban bangsa maupun peradaban dunia. Ini jelas telah ditunjukkan bahwa pada sektor pendidikan telah banyak mengalami transformasi dan perubahan sebagai upaya agar mampu menjawab tatangan disetiap zamannya.

Dalam perkembangannya manusia harus terus berinovasi agar lebih efektif dan efisien. Masa Pandemi covid-19 telah “memaksa” kita untuk bertransformasi lebih jauh termasuk pada sektor pendidikan. Adanya Pandemi telah menjadi pintu masuk yang cukup efektif sebagai bentuk penyadaran bahwa pendidikan harus bertransformasi.

Transformasi yang dimaksud tentunya untuk mempermudah jalannya proses pendidikan, baik dari sisi pembelajaran, kurikulum hingga budaya sekolah.

Perubahan media pembelajaran dan perubahan sumber belajar ke arah digital saat pandemi awalnya terkesan “memaksa”, namun cara ini mampu membawa perubahan transformasi digital yang cukup efektif agar meninggalkan zona nyaman yang cukup membosankan.

Penyesuaian tersebut berupa pengajaran berbasi proyek, kolaborasi, inovasi dan berorientasi lifes skill. Hal ini merupakan modal utama untuk menjadi bekal peserta didik menuju era society 5.0 yang digagas oleh negara Jepang yang merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang berbasis modern yang memanfaatkan teknologi internet of things seperti kecerdasan buatan (AI), komputerisasi, juga industry robot.

Adapun pendidikan society 5.0 ialah dengan memanfaatkan teknologi saat ini yang tentu sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang tidak kalah cerdas dari negara lain. Sebab banyaknya SDM yang berkualitas akan membuat bangsa ini menjadi negara maju yang berkeadaban.

Menurut Trilling dan Fadel (2019) akan terjadi perubahan yang cukup signifikan pada Abad 21 diantaranya terkoneksinya transportasi dan informasi di dunia, berubahnya pendapatan dan pekerjaan baru akibar pertumbuhan ekonomi, dan kompetisi persainagn global hingga sektor pendidikan.

Pada sektor pendidikan telah terjadi pergeseran orientasi sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk menghasilkan lulusan agar semakin berkualitas dan tentunya siap menghadapi era disrupsi.

Melansir penelitian McKinsey pada tahun 2016 bahwa implikasi dari pesatnya perkembangan teknologi dalam lima tahun kedepan akan ada 52.6 juta jenis pekerjaan akan punah dan mengalami pergeseran, salah satunya pada sektor pendidikan.

Bagi Indonesia ini merupakan tantangan yang harus di hadapi mengingat penduduknya yang padat dan harus mempersiapkan output pendidikan yang siap (Harahap, 2018). Maka dengan demikian sektor pendidikan harus serius dalam menyiapkan regulasi yang dibutuhkan dan sesuai untuk menjawab tantangan tersebut.

Transformasi teknologi tentu harus diiringi dengan transformasi pendidikan sehingga perlu adanya perubahan paradigma pendidikan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi era society 5.0. Pendidik akan meminimalkan perannya sebagai learning material provider sehingga akan menjadi penginspirasi dalam proses tumbuhnya kreativitas peserta didik.

Dalam hal ini pendidik berperan sebagai tutor, fasilitator, penginspirasi dan pembelajar sehingga akan tercipta “Merdeka Belajar”. Dengan merdeka belajar akan terciptanya pendidikan yang berkualitas untuk kemajuan bangsa Indonesia mendatang.

Tentunya bukan hanya sebatas meningkatkan layanan pendidikan semata, namun juga mengupayakan memperbaiki infrastruktur teknologi di sekolah. Maka jika infrastruktur dan teknologi sudah cukup memadai, akan lebih memudahkan dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas.

Dilansir dari siaran pers kementerian pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi pada 26 september lalu Mendikbudristek telah melakukan transformasi teknologi pada sektor pendidikan dalam waktu yang cukup singkat. Lebih dari 1,6 juta guru telah menggunakan platform merdeka mengajar yang membuka akses pada pengembangan diri secara lebih mandiri yang disesuaikan dengan kondisi.

Dengan telah terbentuknya lebih dari 3.500 komunitas belajar para guru dan telah terkumpulnya lebih dari 55 ribu konten belajar mandiri. Transformasi teknologi juga telah membantu memfasilitasi pengembangan diri lebih dari 724 ribu mahasiswa melalui program kampus merdeka dengan bergabungnya lebih dari 2.700 mitra industri ke dalam kampus merdeka dan bergabungnya 43 ribu lebih praktisi ke dalam program praktisi mengajar.

Dengan tersedianya Kedaireka, sebuah platform digital yang telah berhasil mempertemukan perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri tersebut. Adapun jumlah penerima manfaat Kedaireka dari 2021 ke 2022 telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan yakni 80% peningkatan pengguna platform perguruan tinggi, 400% peningkatan pengguna platform DUDI, 251% peningkatan untuk proposal Kreasi Reka.

Melihat capaian Mendikdristek yang dinahkodai oleh Nadiem Makarim tersebut telah membawa perubahan yang nyata pada sektor pendidikan dalam berupaya mengaktualisasikan diri untuk terus bertransformasi. Merdeka belajar telah terbukti mampu mentransformasi pendidikan pada era teknologi sehingga tercapainya digitalisasi pendidikan. Semoga dengan upaya transformasi tersebut akan terus membawa kebaikan dan kemajuan bangsa Indonesia melalui sektor pendidikan.

Ditulis oleh : Riza A. Novanto, M.Pd
Pegiat Literasi Ditigal