SEMARANG,Kanal9.id – Suasana khidmat sekaligus penuh semangat perjuangan menyelimuti kawasan Tugu Muda, Kota Semarang, Rabu malam (14/10/2026). Ribuan warga berkumpul untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang melalui upacara peringatan dan pertunjukan teatrikal kolosal yang membangkitkan kembali ingatan tentang heroisme para pejuang pada 1945.
Suara terompet yang menggema di sekitar monumen bersejarah tersebut menjadi penanda dimulainya prosesi penghormatan kepada para pahlawan. Di bawah kibaran bendera Merah Putih, peserta upacara dari berbagai unsur berdiri tegap, mengikuti rangkaian acara dengan penuh khidmat.
TNI, Polri, Pramuka, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Karang Taruna, pelajar SMA/SMK, hingga komunitas seni turut ambil bagian dalam peringatan tersebut. Upacara dipimpin langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang bertindak sebagai inspektur upacara.
Dalam amanatnya, Agustina mengingatkan bahwa semangat kepahlawanan tidak boleh berhenti sebagai kenangan sejarah. Nilai perjuangan harus diteruskan melalui pengabdian, kepedulian, dan kerja nyata untuk masyarakat.
Menurutnya, semangat tersebut dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui pengabdian orang-orang yang bekerja di balik layar dan kerap luput dari perhatian publik.

“Hari ini, perjuangan itu dapat kita temukan ada sosok-sosok yang mungkin jarang disebut, tetapi perannya selalu dekat dengan kehidupan kita,” ujarnya.
Ia mencontohkan tenaga kesehatan yang tetap merawat pasien ketika sebagian besar masyarakat beristirahat. Begitu pula petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, dan petugas lingkungan hidup yang berjuang menghadapi kebakaran di Jatibarang demi melindungi warga serta menjaga lingkungan.
Pesan tersebut menegaskan bahwa perjuangan pada masa kini tidak selalu diwujudkan melalui pertempuran bersenjata. Dedikasi, keberanian menghadapi risiko, dan keikhlasan dalam melayani masyarakat juga menjadi bagian dari semangat kepahlawanan.
Teatrikal Kolosal Hidupkan Kembali Sejarah 1945
Peringatan di Tugu Muda semakin semarak ketika penulis naskah teatrikal, Stephanu Sukirno, membacakan penggalan sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang. Dengan intonasi lantang dan penuh penghayatan, ia membawa penonton menyusuri kembali suasana genting ketika rakyat Semarang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Seruan “Cah Semarang wani perang ora wedi mati!” menggema di tengah kerumunan, membangkitkan suasana heroik dan menggugah antusiasme masyarakat yang hadir.
Dalam pembacaan naskah tersebut, Stephanu juga mengingatkan bahwa proklamasi kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan bangsa. Ancaman untuk kembali menguasai Indonesia masih muncul, sementara pertempuran pecah di berbagai daerah.
Semangat perlawanan itulah yang kemudian dihadirkan melalui pertunjukan teatrikal kolosal oleh Komunitas Teater Pitoelas Untag Semarang bersama pelajar, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat.
Berpadu dengan iringan orkestra dan tarian kolaboratif, pertunjukan tersebut menggambarkan perjuangan rakyat Semarang pada 1945 dalam menghadapi pasukan Jepang dengan persenjataan seadanya. Adegan demi adegan membawa penonton menyelami keberanian, pengorbanan, dan tekad masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Pertunjukan itu bukan sekadar sajian seni untuk menghibur pengunjung. Lebih dari itu, teatrikal menjadi medium untuk menyampaikan sejarah kepada generasi muda sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan panjang, pengorbanan, dan keberanian menghadapi ancaman.

Mengenang Dr. Kariadi, Merawat Semangat Kepahlawanan
Nama Dr. Kariadi dan para pejuang Semarang kembali menjadi bagian penting dalam pesan sejarah yang disampaikan malam itu. Keteladanan mereka menjadi pengingat bahwa keberanian dan pengabdian memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa mempertahankan kemerdekaan.
Melalui peringatan di kawasan Tugu Muda, sejarah tidak hanya dihadirkan sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi generasi penerus. Nilai patriotisme diharapkan terus tumbuh melalui kepedulian sosial, semangat gotong royong, dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pesta kembang api yang menerangi langit Kota Semarang. Cahaya warna-warni menghiasi kawasan Tugu Muda, menandai berakhirnya malam peringatan yang sarat dengan pesan kebangsaan.
Di tengah perubahan zaman, semangat perjuangan para pahlawan tetap relevan untuk diwariskan. Jika dahulu keberanian ditunjukkan melalui perlawanan di medan pertempuran, kini semangat yang sama dapat diwujudkan melalui karya, pelayanan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dari Tugu Muda, pesan itu kembali digaungkan: mengenang perjuangan bukan hanya tentang menoleh ke masa lalu, melainkan juga tentang meneruskan cita-cita para pahlawan demi masa depan Indonesia.
