Didik, Administrator
Tim Redaksi

JAKARTA, Kanal9.id – Persoalan gangguan penglihatan di Indonesia menjadi perhatian serius. Berdasarkan data tahun 2020 yang disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Prof. Dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K), M.Med.Ed., Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam jumlah penderita kebutaan, setelah India dan China.

Dalam data tersebut, tercatat sekitar 34,9 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan penglihatan. Kondisi ini dinilai membutuhkan penanganan menyeluruh melalui peningkatan kesadaran masyarakat, deteksi dini, serta pemerataan akses terhadap pelayanan kesehatan mata.

Fakta tersebut disampaikan Prof. Budu dalam peringatan World Sight Day yang diselenggarakan PERDAMI di Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026).

Ia mengingatkan, tanpa upaya pencegahan dan penanganan yang dilakukan secara masif serta melibatkan berbagai pihak, posisi Indonesia dalam jumlah kasus kebutaan dunia berpotensi semakin memburuk.

“Jika kita tidak melakukan usaha-usaha yang masif dan bersama, kurang lebih beberapa tahun akan datang, bisa saja negara kita akan menduduki peringkat kedua,” ujarnya.

Ad Space

Katarak Masih Menjadi Penyebab Utama Kebutaan

Salah satu kelompok yang paling rentan mengalami gangguan penglihatan adalah masyarakat berusia lanjut. Keterlambatan memperoleh pemeriksaan dan penanganan medis menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian, terutama pada kasus kebutaan yang sebenarnya dapat dicegah atau ditangani.

Prof. Budu merujuk pada hasil Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) periode 2013–2017 yang mencatat prevalensi kebutaan sebesar 3 persen pada penduduk berusia di atas 50 tahun. Angka tersebut merupakan rata-rata dari penelitian di 15 provinsi, dengan variasi prevalensi yang cukup besar antarwilayah.

Dari hasil kajian tersebut, katarak yang belum dioperasi menjadi penyebab dominan kebutaan pada kelompok usia tersebut.

“81,2 persen kebutaan usia kurang lebih 50 tahun disebabkan oleh katarak yang belum dioperasi,” jelasnya.

Ad Space

Kondisi ini menjadi perhatian karena kebutaan akibat katarak pada umumnya dapat ditangani melalui operasi. Oleh sebab itu, peningkatan jangkauan layanan operasi katarak dan pemeriksaan mata secara berkala dinilai penting untuk mengurangi risiko kehilangan penglihatan permanen.

Selain katarak, glaukoma dan miopia atau rabun jauh juga menjadi persoalan kesehatan mata yang membutuhkan perhatian. Ketiganya memiliki karakteristik berbeda sehingga memerlukan pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi pasien.

Gangguan Penglihatan Mulai Mengancam Anak-anak

Ancaman gangguan penglihatan tidak hanya terjadi pada kelompok lanjut usia. Anak-anak hingga masyarakat usia produktif juga menghadapi risiko masalah mata, terutama akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi.

Prof. Budu menjelaskan, gangguan refraksi jarak dekat, termasuk presbiopia atau rabun dekat akibat pertambahan usia, masih menjadi persoalan yang banyak ditemukan. Sementara itu, kelainan refraksi jarak jauh juga dialami anak-anak, mulai dari usia taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.

Ad Space

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan mata sejak dini, khususnya pada anak usia sekolah. Gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi dapat menghambat aktivitas sehari-hari, termasuk proses belajar dan perkembangan anak.

Pemeriksaan secara berkala diperlukan agar kelainan refraksi dapat diketahui lebih awal dan dikoreksi menggunakan alat bantu penglihatan atau penanganan lain sesuai rekomendasi tenaga medis.

Perubahan Gaya Hidup Perlu Diwaspadai

Di samping katarak dan kelainan refraksi, perubahan pola hidup juga berkaitan dengan meningkatnya risiko sejumlah penyakit mata. Beberapa kondisi yang perlu diwaspadai antara lain degenerasi makula, glaukoma, dan retinopati diabetik.

Retinopati diabetik merupakan komplikasi diabetes yang dapat merusak pembuluh darah retina, sedangkan degenerasi makula memengaruhi bagian retina yang berperan penting dalam penglihatan pusat. Glaukoma juga dapat menyebabkan kerusakan saraf optik dan berujung pada kehilangan penglihatan apabila tidak terdeteksi serta ditangani dengan tepat.

Ad Space

Risiko penyakit tersebut memperkuat pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh, mengendalikan penyakit penyerta seperti diabetes, serta melakukan pemeriksaan mata sesuai kebutuhan dan anjuran dokter.

Kolaborasi Dibutuhkan untuk Menekan Angka Kebutaan

Tingginya jumlah masyarakat dengan gangguan penglihatan menjadi tantangan yang tidak dapat ditangani oleh tenaga medis saja. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, komunitas, dan masyarakat untuk memperluas akses pemeriksaan serta pengobatan mata.

Edukasi mengenai gejala gangguan penglihatan, pemeriksaan dini, dan pentingnya menjalani pengobatan juga perlu terus ditingkatkan. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menemukan kasus lebih awal, mencegah komplikasi, serta mengurangi risiko kebutaan yang sebenarnya dapat dihindari.

Dengan penanganan yang terintegrasi dan berkelanjutan, beban gangguan penglihatan di Indonesia diharapkan dapat ditekan sehingga masyarakat, baik anak-anak maupun lanjut usia, memiliki kesempatan lebih besar untuk mempertahankan kualitas penglihatannya.

Ad Space
Bagikan: