Didik, Administrator
Tim Redaksi

JAKARTA, Kanal9.id — Mempertahankan kondisi keuangan keluarga di tengah meningkatnya kebutuhan membuat sebagian masyarakat mulai mengubah gaya hidup.

Mobil yang sebelumnya menjadi kendaraan utama keluarga mulai diganti dengan kendaraan yang lebih murah. Kebiasaan makan di luar dikurangi, liburan ditunda, sementara pembelian barang baru dipertimbangkan lebih matang.

Fenomena menurunkan gaya hidup atau downgrade tersebut belakangan ramai dibagikan masyarakat melalui media sosial. Bagi sebagian keluarga, keputusan itu bukan berarti mereka sama sekali tidak mampu memenuhi kebutuhan, melainkan bagian dari strategi mengatur kembali keuangan rumah tangga.

Dari Mobil ke Motor

Salah satu yang melakukan penyesuaian tersebut adalah Tartika (31), warga Jakarta Timur yang bekerja sebagai agen asuransi.

Ad Space

Bersama suaminya, Tartika memutuskan menjual mobil Honda yang selama ini digunakan keluarga dan beralih menggunakan sepeda motor Honda Beat Street.

Tartika masih bekerja sebagai agen asuransi dengan rata-rata penghasilan sekitar Rp6,7 juta per bulan. Sementara suaminya bekerja sebagai karyawan swasta dengan pendapatan sekitar Rp7,2 juta per bulan.

Pasangan tersebut memiliki dua anak laki-laki berusia 11 dan 7 tahun.

Menurut Tartika, kebutuhan keluarga semakin bertambah seiring usia anak-anak. Biaya sekolah, kebutuhan rumah tangga, serta berbagai pengeluaran lainnya membuat anggaran keluarga harus kembali disusun.

“Dulu mungkin kami masih merasa bisa punya mobil karena kebutuhan belum sebanyak sekarang. Sekarang anak-anak sudah besar, kebutuhan sekolah juga terus jalan, kebutuhan rumah tangga juga banyak,” kata Tartika saat dihubungi, Selasa (29/9/2026).

Ad Space

Keputusan mengganti mobil dengan motor, menurut dia, bukan karena keluarga tidak memiliki uang. Namun, biaya mempertahankan mobil dinilai membuat ruang keuangan untuk kebutuhan lainnya semakin terbatas.

Untuk aktivitas sehari-hari, terutama ketika bepergian sendiri untuk bekerja, motor dianggap sudah cukup.

“Dari pengeluaran dan kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak sedang membawa anak-anak, motor sebenarnya sudah cukup,” ujarnya.

Mobil sebelumnya lebih banyak digunakan ketika keluarga bepergian bersama, mengantar anak, atau membawa berbagai barang. Karena itu, menjual kendaraan tersebut bukan keputusan yang mudah.

Tartika mengaku sempat merasa sedih dan gengsi ketika harus beralih dari mobil ke sepeda motor. Namun, kebutuhan keluarga akhirnya menjadi pertimbangan utama.

Ad Space

“Mau naik mobil atau motor yang penting kebutuhan anak-anak tetap terpenuhi dan kondisi keuangan keluarga tidak terganggu,” katanya.

Tak hanya kendaraan, keluarga Tartika juga mengurangi kebiasaan makan di luar, belanja barang yang tidak terlalu penting, serta bepergian saat akhir pekan.

Pengeluaran rumah tangga untuk makan dan belanja kebutuhan sehari-hari berada di kisaran Rp4 juta-Rp5 juta per bulan. Sementara anggaran makan di luar atau jajan keluarga dibatasi sekitar Rp500.000 hingga Rp1 juta per bulan.

Setiap hendak membeli barang, Tartika dan suaminya kini terlebih dahulu mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar diinginkan.

Honda HR-V Berganti Daihatsu Ayla

Ad Space

Cerita serupa dialami Wulan (29), warga Bogor yang bekerja sebagai host live freelance.

Awal 2026, Wulan dan suaminya mulai melakukan penyesuaian gaya hidup setelah pendapatan keluarga mengalami penurunan.

Suaminya mengalami penurunan insentif pekerjaan, sementara pekerjaan Wulan dari rumah juga sedang tidak sebaik sebelumnya. Dengan tiga anak dan kewajiban membayar KPR, keluarga tersebut kemudian menempatkan kebutuhan utama sebagai prioritas.

Wulan akhirnya mengganti Honda HR-V yang telah digunakan selama tiga tahun dengan Daihatsu Ayla.

Sebelumnya, cicilan Honda HR-V yang harus dibayar mencapai sekitar Rp6,5 juta per bulan, dengan pajak sekitar Rp5,9 juta per tahun. Setelah berganti kendaraan, cicilan turun menjadi sekitar Rp3 juta per bulan dan pajak sekitar Rp2,5 juta per tahun.

Ad Space

“Karena mobil lama saya itu lumayan juga cicilannya dan pajaknya, jadi kami sepakat untuk mengganti mobil yang lebih terjangkau,” ujar Wulan.

Penyesuaian tidak berhenti pada kendaraan. Keluarga Wulan yang sebelumnya rutin pergi ke mal dan makan di luar saat akhir pekan kini mengurangi kebiasaan tersebut.

Liburan ke luar kota saat tahun baru juga dihentikan.

Meski beban pengeluaran kendaraan menjadi lebih ringan, keputusan tersebut tetap terasa berat bagi Wulan. Ia mengaku masih merasa kehilangan mobil yang selama ini menjadi kendaraan impiannya.

“Jujur saya sedih kehilangan mobil impian saya, bahkan saya tidak merasa senang padahal sudah membeli gantinya,” ungkapnya.

Ad Space

Pengalaman tersebut kemudian dibagikan Wulan melalui Threads. Tak disangka, unggahannya mendapat respons luas. Ia menyebut unggahan tersebut telah ditonton sekitar 1,25 juta kali.

Sejumlah pengguna lain turut membagikan pengalaman melakukan penyesuaian serupa. Ada yang mengganti kendaraan, mengurangi aktivitas rekreasi, hingga memilih barang dengan harga lebih rendah.

Bukan Berarti Berhenti Konsumsi

Sosiolog Universitas Nasional Sigit Rochadi melihat fenomena *downgrade* sebagai salah satu bentuk strategi penyesuaian masyarakat, khususnya kelompok yang sebelumnya terbiasa dengan pola konsumsi kelas menengah.

Menurut Sigit, penyesuaian tersebut memungkinkan masyarakat tetap menjalankan aktivitas yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi dengan pilihan yang lebih murah.

Ad Space

“Downgrade merupakan adjustment strategy bagi kelas menengah untuk mempertahankan status sosial dengan menurunkan kualitas barang yang dikonsumsi,” kata Sigit.

Pola tersebut dapat terlihat dari berbagai aktivitas, seperti makan di restoran, berbelanja di mal, menikmati kopi di kafe, berlibur, menonton konser, hingga menggunakan kendaraan pribadi.

Ketika ruang keuangan semakin terbatas, sebagian masyarakat tidak selalu menghentikan aktivitas tersebut sepenuhnya. Mereka dapat memilih alternatif yang biayanya lebih rendah.

Mobil dapat diganti kendaraan yang lebih sederhana. Makan di restoran dikurangi atau diganti dengan pilihan yang lebih murah. Sementara kegiatan rekreasi dapat dialihkan ke aktivitas yang tidak membutuhkan banyak biaya.

Menurut Sigit, keputusan tersebut juga berkaitan dengan prioritas rumah tangga, termasuk pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan cicilan.

Ad Space

“Keputusan untuk menjalani gaya hidup lebih pragmatis dan realistis, selain didorong oleh kondisi ekonomi rumah tangga, juga didorong oleh kelangsungan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Pendapatan Ada, tetapi Pengeluaran Makin Besar

Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira menilai persoalan tersebut juga perlu dilihat dari struktur pengeluaran rumah tangga.

Pendapatan yang diterima setiap bulan tidak seluruhnya dapat digunakan untuk konsumsi fleksibel. Sebagian sudah dialokasikan untuk kebutuhan tetap dan semi-tetap, seperti tempat tinggal, transportasi, pendidikan, kesehatan, listrik, internet, cicilan, asuransi, dan berbagai tagihan rutin.

“Yang menentukan rasa sejahtera bukan hanya besarnya pendapatan, melainkan juga selisih antara pendapatan dan standar hidup yang dianggap layak,” kata Adrian.

Ad Space

Kondisi tersebut dapat semakin terasa pada keluarga dengan pendapatan menengah. Penghasilan masih ada, tetapi kebutuhan yang harus dipenuhi juga semakin banyak.

Kondisi keluarga pun dapat berubah mengikuti fase kehidupan. Setelah menikah, memiliki anak, membeli rumah, atau mulai membantu orangtua, alokasi pengeluaran ikut berubah.

Penghasilan yang sebelumnya cukup untuk kebutuhan sekaligus gaya hidup akhirnya harus dibagi kembali.

Pada situasi seperti itu, masyarakat mulai memilah pengeluaran berdasarkan prioritas. Kebutuhan yang dianggap wajib dipertahankan, sedangkan pengeluaran yang masih dapat ditunda atau dikurangi menjadi ruang untuk melakukan penghematan.

Penyesuaian dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari mengganti kendaraan, mengurangi makan di restoran, menunda liburan, membatasi belanja, hingga memilih barang dengan fungsi sama tetapi harga lebih terjangkau.

Ad Space

Pengeluaran Warga Jakarta Capai Rp2,96 Juta per Kapita

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan besarnya pengeluaran yang harus ditanggung masyarakat Jakarta.

Berdasarkan Susenas Maret 2025, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk DKI Jakarta mencapai Rp2.962.412 per bulan.

Angka tersebut terdiri dari pengeluaran makanan sebesar Rp1.153.404 dan pengeluaran bukan makanan Rp1.809.008 per kapita setiap bulan.

Pada kelompok makanan, pengeluaran terbesar berasal dari makanan dan minuman jadi yang mencapai Rp503.469 per kapita per bulan. Berikutnya antara lain rokok Rp88.208, ikan, udang, cumi dan kerang Rp85.029, sayuran Rp82.972, serta padi-padian Rp82.352.

Ad Space

Untuk kelompok bukan makanan, pengeluaran terbesar berada pada kebutuhan perumahan dan fasilitas rumah tangga, yakni Rp956.351 per kapita per bulan.

Selanjutnya terdapat aneka barang dan jasa sebesar Rp514.718, pajak, pungutan dan asuransi Rp145.390, serta barang tahan lama Rp94.975.

Rata-rata pengeluaran tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang berada di angka Rp2.794.485 per kapita per bulan.

Secara nasional, rata-rata pengeluaran per kapita juga meningkat dari Rp1.500.556 pada 2024 menjadi Rp1.569.088 pada 2025.

Data tersebut tidak secara langsung menunjukkan bahwa seluruh masyarakat Jakarta melakukan downgrade gaya hidup. Namun, angka tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya pengeluaran yang harus dialokasikan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ad Space

Di tengah perubahan kebutuhan dan struktur pengeluaran, sebagian keluarga memilih menyesuaikan gaya hidup sebagai cara menjaga agar kondisi keuangan tetap terkendali.

Pada akhirnya, downgrade bukan selalu tentang kehilangan kemampuan membeli sesuatu. Bagi sebagian keluarga, keputusan tersebut merupakan pilihan untuk mengatur ulang prioritas: mengurangi pengeluaran yang bisa ditunda agar kebutuhan yang dianggap lebih penting tetap terpenuhi.

Bagikan: