Kanal9.id – Kemampuan anak dalam mengelola emosi tidak muncul begitu saja seiring pertambahan usia. Keterampilan tersebut berkembang melalui pengalaman sehari-hari, terutama dari cara orangtua, guru, dan orang dewasa di sekitarnya menghadapi berbagai situasi emosional.
Psikolog perkembangan anak Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus anggota ECED Council Indonesia, Marisa F Moeliono, menjelaskan bahwa regulasi emosi merupakan bagian penting dari perkembangan sosial emosional anak. Kemampuan ini menjadi bekal untuk proses belajar, membangun hubungan sosial, serta menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.
Marisa menerangkan bahwa anak perlu melalui proses belajar untuk mengenali perasaan, memahami penyebabnya, mengungkapkan emosi, hingga mampu mengendalikan respons secara bertahap.
Menurutnya, regulasi emosi bukan sekadar kemampuan menghentikan tangisan atau mencegah tantrum. Lebih dari itu, keterampilan tersebut membantu anak berkomunikasi, menyelesaikan konflik, meminta pertolongan, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Anak Meniru Cara Orang Dewasa Mengelola Emosi

Marisa menekankan bahwa anak lebih mudah mempelajari pengelolaan emosi melalui contoh nyata dibandingkan hanya menerima nasihat. Perilaku orangtua ketika marah, kecewa, kelelahan, atau menghadapi konflik menjadi bagian dari proses pembelajaran anak.
Misalnya, orangtua meminta anak tidak berteriak ketika marah. Namun, ketika menghadapi masalah, orangtua justru berteriak, membanting barang, atau menyalahkan orang lain. Situasi tersebut dapat membuat anak menerima pesan yang berbeda antara ucapan dan tindakan orang dewasa.
Proses belajar melalui pengamatan perilaku orang lain ini dikenal sebagai modeling. Anak mengamati bagaimana orang-orang terdekat bereaksi, kemudian menjadikan perilaku tersebut sebagai salah satu referensi dalam menghadapi situasi serupa.
Marisa juga merujuk pada meta-analisis Zimmer-Gembeck dan kolega pada 2022 yang mencakup 53 penelitian. Kajian tersebut menemukan hubungan antara regulasi emosi orangtua, pola pengasuhan, dan penyesuaian anak.
Karena itu, orangtua tidak harus selalu tampil tenang atau tidak pernah menunjukkan kemarahan. Hal terpenting adalah kemampuan mengelola emosi dan menunjukkan cara menyelesaikan persoalan secara sehat.

Dampingi Anak Sebelum Mengajaknya Memahami Perasaan
Pada usia dini, anak belum memiliki kemampuan yang matang untuk menenangkan diri secara mandiri. Mereka membutuhkan bantuan orang dewasa melalui proses yang disebut *co-regulation*, yakni pendampingan untuk membantu anak mengelola emosi hingga secara bertahap mampu melakukannya sendiri.
Ketika anak menangis, marah, atau kecewa, orangtua sebaiknya membantu anak merasa aman dan tenang terlebih dahulu. Setelah kondisi emosionalnya lebih stabil, anak dapat diajak mengenali perasaan dan memahami penyebabnya.
Pendekatan tersebut membantu anak belajar bahwa semua emosi dapat diterima, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan.
Marisa mencontohkan, anak boleh merasa marah, tetapi tidak diperbolehkan memukul orang lain. Anak juga boleh merasa kecewa, tetapi tidak boleh melukai temannya.

Pendekatan ini dapat dilakukan melalui emotion coaching, yaitu mendampingi anak mengenali dan memahami perasaannya, menerima emosi yang muncul, menetapkan batas perilaku, serta mengarahkan anak untuk memilih respons yang lebih tepat.
Dengan cara tersebut, anak tidak hanya diarahkan untuk berhenti menangis atau marah, tetapi juga dibantu memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Guru dan Sekolah Turut Membentuk Kematangan Emosional
Pembelajaran regulasi emosi tidak hanya berlangsung di rumah. Ketika anak mulai mengikuti pendidikan formal maupun pendidikan anak usia dini, guru dan teman sebaya turut berperan dalam membentuk keterampilan sosial emosionalnya.
Guru dapat membantu anak mengenali perasaan, memberikan pendampingan ketika terjadi konflik, serta menjadikan persoalan sehari-hari sebagai kesempatan untuk belajar mengelola emosi.

Sementara itu, interaksi dengan teman sebaya memberikan pengalaman bagi anak untuk berbagi, menunggu giliran, menghadapi kekecewaan, bernegosiasi, dan menyelesaikan perselisihan.
Pengalaman yang konsisten di rumah dan sekolah membantu anak memahami cara menghadapi berbagai situasi tanpa harus meluapkan emosi melalui perilaku yang merugikan orang lain.
Oleh sebab itu, kerja sama antara orangtua dan guru menjadi penting agar anak memperoleh contoh serta pendampingan yang selaras dalam kehidupan sehari-hari.
Ciptakan Lingkungan yang Aman untuk Belajar Emosi
Marisa mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan emosi tidak cukup diukur dari seberapa cepat anak menjadi tenang. Lingkungan tempat anak tumbuh juga harus mendukung proses mengenali dan mengelola perasaan.

Di rumah, orangtua dapat membiasakan percakapan tentang emosi, mendengarkan penjelasan anak, menetapkan batas yang jelas, serta memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik.
Di sekolah, guru dapat menggunakan bahasa yang membantu anak mengenali perasaannya dan membimbing mereka mencari solusi ketika menghadapi perselisihan. Dalam lingkungan sosial yang lebih luas, anak juga perlu melihat bahwa perbedaan dapat diselesaikan melalui komunikasi tanpa kekerasan.
Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi teriakan, ancaman, atau penghinaan berisiko memberikan contoh yang kurang baik dalam menghadapi konflik. Anak dapat menganggap perilaku tersebut sebagai cara yang biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Karena itu, orang dewasa perlu menunjukkan perilaku yang ingin ditanamkan kepada anak, seperti menenangkan diri, mendengarkan orang lain, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki hubungan.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan emosi bukanlah menjadikan anak selalu tenang atau menuntut orangtua tidak pernah kehilangan kesabaran. Proses ini berfokus pada bagaimana anak belajar memahami perasaan dan memilih tindakan yang lebih sehat melalui pendampingan yang berkelanjutan.

Setiap respons orang dewasa, termasuk ketika menghadapi tangisan atau tantrum, dapat menjadi pengalaman penting bagi anak dalam membangun kemampuan mengelola emosi hingga dewasa.
