Kanal9.id - Traveling kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi Z (Gen Z), bukan sekadar aktivitas saat liburan. Bepergian bahkan memengaruhi cara generasi muda mengatur keuangan hingga menentukan pilihan pekerjaan.
Survei American Express Travel 2026 mencatat, 74 persen responden milenial dan Gen Z menganggap traveling sebagai pengeluaran yang tidak bisa ditawar. Sebanyak 40 persen responden global juga berencana meningkatkan anggaran perjalanan pada 2026. Bahkan, 64 persen responden milenial dan Gen Z bersedia menerima pekerjaan dengan tunjangan lebih sedikit demi fleksibilitas yang lebih besar untuk bepergian.
Pengalaman dan relaksasi jadi daya tarik
Bagi Gen Z, traveling bukan hanya tentang mengunjungi destinasi populer, tetapi juga mencari pengalaman baru. Mulai dari menikmati kuliner lokal, mengenal budaya, menghadiri konser, hingga menghabiskan waktu bersama teman, berbagai aktivitas tersebut menjadi alasan untuk bepergian.
Media sosial turut memengaruhi pilihan destinasi melalui konten wisata, ulasan pengunjung, dan rekomendasi kreator. Salah satu tren yang berkembang adalah concert tourism, yakni perjalanan ke kota atau negara lain untuk menghadiri konser sekaligus menjelajahi destinasi di sekitarnya.

Selain mencari pengalaman, traveling juga menjadi cara untuk beristirahat dari rutinitas. McKinsey mencatat, 40 persen konsumen Gen Z di Amerika Serikat merasa hampir selalu mengalami stres, dibandingkan 23 persen konsumen secara keseluruhan.
Studi Klook bersama Global Wellness Institute terhadap lebih dari 7.000 responden di 14 pasar menemukan, 64 persen wisatawan muda memandang perjalanan sebagai kesempatan untuk menjauh dari rutinitas dan membangun kembali rasa percaya diri.
Sementara itu, TGM Europe Travel Insights 2026 menunjukkan bahwa 50 persen wisatawan berusia 18–24 tahun memilih relaksasi atau liburan ke pantai sebagai gambaran utama perjalanan musim panas mereka.
Tetap memperhitungkan anggaran
Meski menjadi prioritas, traveling tetap direncanakan secara cermat. Gen Z mempertimbangkan harga, kenyamanan, fleksibilitas, dan pengalaman yang diperoleh dari setiap pengeluaran.

Menurut TGM Europe Travel Insights 2026, sebanyak 38 persen wisatawan berusia 18–24 tahun memperkirakan menghabiskan 500–1.000 euro per orang untuk perjalanan utama mereka pada musim panas.
Kemudahan pemesanan dan pembayaran juga menjadi bagian dari pertimbangan. Di Indonesia, Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen secara tahunan. Transaksi mobile banking meningkat 47,08 persen, sedangkan QRIS tumbuh 67,22 persen.
“Setiap pasar memiliki kebiasaan pembayaran yang berbeda, meskipun tujuan perjalanan yang dicari bisa saja sama,” ujar Chief of Partnership Airpaz Wesley Wijaya.
Menurut Wesley, metode pembayaran yang familier dapat mempermudah konsumen menyelesaikan pemesanan perjalanan.
Airpaz, platform pemesanan perjalanan yang berdiri sejak 2011, menyediakan lebih dari 100 metode pembayaran, 61 mata uang, dan 38 bahasa. Di Indonesia, pilihan pembayarannya mencakup QRIS serta layanan perbankan BCA, Mandiri, BNI, BRI, dan CIMB Niaga. Platform ini juga menawarkan akses ke lebih dari 450 maskapai dan 600 ribu rute penerbangan.

Tren tersebut menunjukkan bahwa Gen Z memandang traveling sebagai bagian dari keseimbangan hidup. Mereka ingin memperoleh pengalaman baru dan melepas penat, tetapi tetap mengutamakan anggaran serta kemudahan dalam merencanakan perjalanan.
