Didik, Administrator
Tim Redaksi
Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, Kanal9.id – Badan Gizi Nasional (BGN) melihat respons positif siswa terhadap uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan. Model penyajian ini dinilai membuat makanan lebih segar dan hangat, sekaligus memberi kesempatan kepada siswa untuk menambah porsi apabila makanan masih tersedia.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, hasil uji coba selama sepekan menunjukkan tingkat konsumsi makanan yang lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya. Antusiasme siswa juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam evaluasi pelaksanaan program tersebut.

"Kalau secara berdasarkan piloting yang seminggu ini, itu kita lihat hasilnya dari sisi tingkat kehabisannya lebih bagus. Kemudian freshness dari makanan yang disajikan lebih baik, lebih hangat. Terus antusiasme siswanya juga lebih senang ya, karena selain porsi yang dia dapat, kalau masih ada sisa masih bisa nambah," ujar Sudaryono di Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Meski menunjukkan hasil awal yang positif, BGN belum ingin langsung menerapkan konsep prasmanan secara luas. Pemerintah masih mengevaluasi sejumlah aspek teknis untuk memastikan mekanisme penyajian tersebut dapat berjalan efektif di sekolah.

Kesiapan Sekolah dan Tenaga Kerja Jadi Perhatian

Ad Space

Sudaryono menjelaskan, penerapan MBG dengan sistem prasmanan membutuhkan persiapan yang berbeda dibandingkan metode pembagian makanan dalam porsi siap saji.

Sekolah perlu mendapatkan edukasi agar siswa memahami tata cara mengambil makanan, menjaga kebersihan, serta memastikan makanan dapat dibagikan secara tertib. Selain itu, kesiapan tenaga kerja juga menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan.

Menurut Sudaryono, pelaksanaan sistem baru tidak bisa dilakukan secara terburu-buru tanpa memberikan pemahaman kepada pihak sekolah dan siswa.

"Enggak bisa sat set kita datang ke situ, terus kita berharap siswanya pasti paham," ucapnya.

BGN juga masih mengkaji kemungkinan kendala dalam penerapan sistem prasmanan. Evaluasi tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah manfaat yang diperoleh sebanding dengan kebutuhan tambahan dalam operasional dapur maupun sekolah.

Ad Space

Menu Prasmanan Perlu Disesuaikan dengan Usia Siswa

Selain persoalan teknis, perbedaan kebutuhan siswa berdasarkan jenjang kelas juga menjadi perhatian BGN. Sudaryono menilai, anak kelas 1 dan 2 sekolah dasar memiliki karakteristik serta kebutuhan makan yang berbeda dibandingkan siswa kelas 5 dan 6.

Perbedaan tersebut perlu dipertimbangkan dalam pengaturan menu, porsi, dan mekanisme pengambilan makanan. Dengan begitu, penerapan prasmanan diharapkan tetap memperhatikan kebutuhan gizi dan kemampuan anak dalam mengambil makanan sesuai kebutuhannya.

"Atau misalnya prasmanan di SD kelas 1 kelas 2, itu kan beda sama kelas SD kelas 6 sama kelas 5 kan beda. Kelas 1 kelas 2 kan masih kecil-kecil, nah itu beberapa hal yang memang secara teknis harus kita solve," kata Sudaryono.

Karena itu, hasil uji coba akan menjadi bahan evaluasi sebelum BGN menentukan pola penerapan yang sesuai untuk berbagai jenjang pendidikan.

Ad Space

Uji Coba Ditargetkan Menjangkau 5.000 Titik

BGN berharap uji coba MBG dengan konsep prasmanan dapat terus berlangsung hingga akhir 2026. Sudaryono menyampaikan harapannya agar program percontohan tersebut bisa menjangkau 5.000 titik.

Namun, pencapaian target tersebut bergantung pada kesiapan masing-masing dapur penyedia makanan dan sekolah yang akan menerapkan sistem prasmanan.

Ia menjelaskan, dapur perlu memastikan mampu memenuhi kebutuhan penyajian dan mengantisipasi kemungkinan siswa mengambil tambahan makanan. Sementara itu, sekolah juga harus bersedia menyesuaikan kegiatan serta pengaturan siswa selama proses makan berlangsung.

"Karena kan prasmanan ini harus dapurnya harus mau. Mau tuh artinya dia memang bisa, karena dia ada nambah ya, ada nambah sedikit kerepotan gitu. Kemudian juga sekolahnya juga mesti mau, karena juga sekolahnya juga ada sedikit kerepotan gitu," imbuh Sudaryono.

Ad Space

Melalui uji coba tersebut, BGN ingin mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan sistem prasmanan secara lebih menyeluruh. Hasil evaluasi nantinya diharapkan menjadi dasar untuk menentukan pola pelaksanaan MBG yang efektif, tertib, serta sesuai dengan kebutuhan siswa dan kemampuan operasional sekolah.

Dengan demikian, perluasan MBG prasmanan tidak hanya berfokus pada jumlah titik pelaksanaan, tetapi juga kesiapan fasilitas, tenaga kerja, pengaturan porsi, dan pemahaman siswa agar tujuan pemenuhan gizi dapat tercapai secara optimal.

Bagikan: