Joe Kris, Administrator
Tim Redaksi

Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh menegaskan bahwa ulama tidak hanya bertugas membimbing umat dalam urusan keagamaan, tetapi juga memikul tanggung jawab besar menjaga keutuhan bangsa dan negara. Menurutnya, peran ulama sebagai waratsatul anbiya atau pewaris para nabi merupakan amanah yang harus diwujudkan melalui kepemimpinan, perjuangan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan KH Ubaidullah saat memberikan mauidhoh hasanah dalam Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren di halaman Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (1/8/2026).

"Sebagai seorang ulama, sebagai waratsatul anbiya bertanggung jawab atas kekhalifahan ini," ujar KH Ubaidullah.

Ia menjelaskan, tanggung jawab kekhalifahan bukan hanya menyangkut pembinaan umat, tetapi juga memastikan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara tetap berjalan dalam nilai-nilai kebaikan. Karena itu, menurutnya, ulama memiliki kewajiban untuk menegaskan kepemimpinan dan hadir di tengah berbagai persoalan umat.

KH Ubaidullah mencontohkan perjuangan pendiri Pondok Buntet Pesantren, Mbah Muqoyyim, yang tetap teguh menyebarkan syiar Islam meski berada di bawah tekanan penjajahan Belanda. Pada masa itu, penjajah berupaya melemahkan peran kerajaan-kerajaan di Cirebon, sehingga ulama menjadi garda terdepan dalam menjaga martabat bangsa.

Ad Space

"Mbah Muqoyyim melaksanakan perintah suci. Dengan tekanan Belanda dan situasi penjajahan yang begitu berat, tanggung jawab membebaskan bangsa kembali berada di tangan para ulama," tuturnya.

Perjuangan tersebut, lanjut KH Ubaidullah, tidaklah mudah. Mbah Muqoyyim bahkan pernah diburu tentara Belanda dan pesantrennya dibakar. Demi mempertahankan dakwah, ia harus berpindah-pindah tempat, dari Cirebon hingga Pamelang, agar tetap dapat mengajarkan Islam kepada masyarakat.

Saat Cirebon dilanda wabah yang menewaskan ribuan orang, Mbah Muqoyyim memutuskan kembali ke kampung halamannya untuk mengayomi masyarakat. Kepulangannya dilakukan dengan syarat pesantren tidak diganggu dan setiap desa diperbolehkan mendirikan masjid. Kisah tersebut, menurut KH Ubaidullah, menjadi bukti bahwa pesantren sejak dahulu merupakan pusat perjuangan sekaligus benteng moral bangsa.

Ia juga mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak bisa dipisahkan dari perjuangan para ulama dan pesantren. Semangat persatuan para kiai yang dirintis Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari menjadi fondasi penting dalam mempertahankan keutuhan bangsa.

"Kalau kita berbicara tentang bangsa dan negara, kita tidak bisa melepaskan persatuan barisan para ulama yang telah dikonkretkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari," katanya.

Ad Space

KH Ubaidullah menegaskan, kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan para kiai bersama rakyat. Karena itu, santri dan seluruh warga pesantren memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga persatuan serta merawat Indonesia sebagai amanah yang diwariskan para pendahulu.

"Kita bertanggung jawab pula merawat bangsa dan negara Indonesia," tegasnya.

Acara Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren dihadiri sejumlah tokoh nasional dan ulama, di antaranya Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Katib Syuriyah PBNU KH Reza Ahmad Zahid, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani, Sesepuh Pondok Buntet Pesantren KH Hasanuddin Kriyani, Ketua Umum YLPI Buntet Pesantren KH Aris Ni'matulloh, serta Ketua Panitia Haul Ust Ammar Firman Maulana.

Turut hadir pula Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Pipit Rismanto, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bandung Abdul Hakim, serta Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan yang sebelumnya mengikuti rangkaian Ziarah dan Tahlil Umum di Makbaroh Gajah Ngambung, Buntet Pesantren.


Ad Space
Bagikan: