Kanal9.id - Stevia menjadi salah satu pilihan pemanis alternatif yang semakin diminati masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi gula dan kalori. Berasal dari tanaman, pemanis ini memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi dibandingkan gula pasir tanpa memberikan tambahan kalori yang berarti.
Meski kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat, konsumsi stevia ternyata tidak sepenuhnya bebas risiko. Pada sebagian orang, pemanis ini dapat menimbulkan efek samping, mulai dari gangguan pencernaan, pusing, hingga reaksi alergi.
Stevia berasal dari tanaman Stevia rebaudiana yang telah lama dimanfaatkan sebagai pemanis alami di kawasan Amerika Selatan. Ekstrak tanaman tersebut diketahui memiliki tingkat kemanisan sekitar 250 hingga 300 kali lebih tinggi dibandingkan gula biasa.
Secara umum, stevia aman dikonsumsi oleh sebagian besar orang apabila digunakan sesuai batas yang dianjurkan. Namun, orang dengan kondisi kesehatan tertentu, khususnya penderita diabetes dan hipertensi yang sedang menjalani pengobatan, perlu lebih berhati-hati.
Dikutip dari Verywell Health, Jumat (30/10/2026), terdapat sejumlah efek samping stevia yang penting diketahui sebelum menjadikannya sebagai pengganti gula sehari-hari.

1. Bisa Menyebabkan Gangguan Pencernaan
Salah satu efek samping yang dapat muncul setelah mengonsumsi produk stevia adalah gangguan pada sistem pencernaan.
Gejalanya meliputi mual, muntah, diare, perut kembung, hingga sakit perut. Meski demikian, keluhan tersebut tidak selalu berasal dari ekstrak stevia.
Pada sejumlah produk pemanis stevia, terdapat tambahan gula alkohol atau *sugar alcohol* yang digunakan untuk memberikan tekstur dan volume. Bahan tambahan inilah yang dapat memicu gangguan pencernaan, terutama pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap gula alkohol.
Karena itu, penting untuk memeriksa komposisi produk sebelum mengonsumsinya.

2. Berisiko Menurunkan Tekanan Darah
Stevia juga diketahui memiliki potensi membantu menurunkan tekanan darah. Efek ini mungkin bermanfaat bagi sebagian penderita hipertensi.
Namun, konsumsi stevia perlu diperhatikan oleh orang yang sudah menggunakan obat penurun tekanan darah. Kombinasi keduanya berpotensi memperkuat efek penurunan tekanan darah.
Akibatnya, tekanan darah bisa turun lebih rendah dari yang diharapkan. Meski risiko tersebut tidak selalu terjadi, penderita hipertensi sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi stevia dalam jumlah besar.
3. Dapat Memicu Penurunan Gula Darah Berlebihan

Bagi penderita diabetes, stevia sering dipilih karena dapat menjadi alternatif pemanis tanpa tambahan gula seperti gula pasir.
Akan tetapi, stevia berpotensi memengaruhi kadar gula darah. Jika dikonsumsi bersamaan dengan obat diabetes, efek penurunan gula darah dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko hipoglikemia.
Hipoglikemia merupakan kondisi ketika kadar gula darah berada di bawah batas normal dan dapat menimbulkan gejala seperti gemetar, keringat dingin, pusing, hingga kebingungan.
Selain itu, penderita diabetes juga perlu memperhatikan kandungan produk stevia yang beredar di pasaran. Beberapa produk mengandung bahan tambahan seperti maltodekstrin yang dapat memengaruhi kadar gula darah.
Dengan demikian, label komposisi menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan.

4. Pengaruhnya terhadap Kesehatan Hati Masih Diteliti
Dampak konsumsi stevia terhadap kesehatan hati masih menjadi salah satu perhatian dalam penelitian.
Sebuah penelitian terhadap hewan, khususnya tikus, menemukan adanya hubungan antara konsumsi stevia dan peningkatan kadar enzim hati. Namun, hasil penelitian pada hewan tersebut belum bisa langsung disamakan dengan dampaknya terhadap manusia.
Di sisi lain, penelitian pada manusia justru menunjukkan potensi manfaat stevia dalam membantu menurunkan beberapa penanda penyakit perlemakan hati atau fatty liver.
Perbedaan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengaruh stevia terhadap kesehatan hati masih memerlukan kajian lebih lanjut.

5. Bisa Menimbulkan Reaksi Alergi
Meskipun tergolong jarang, konsumsi stevia juga perlu diwaspadai oleh orang yang memiliki riwayat alergi terhadap tanaman tertentu.
Risiko sensitivitas dapat menjadi perhatian khusus bagi mereka yang alergi terhadap ragweed maupun tanaman yang masih berkerabat, seperti krisan, marigold, dan bunga daisy.
Orang dengan riwayat alergi terhadap kelompok tanaman tersebut sebaiknya lebih berhati-hati sebelum mencoba produk stevia.
Jika muncul gejala yang mengarah pada reaksi alergi setelah mengonsumsinya, penggunaan produk perlu dihentikan dan segera mencari pertolongan medis apabila terjadi reaksi berat.

Benarkah Stevia Bisa Menyebabkan Kanker?
Selain efek samping tersebut, keamanan stevia juga pernah menjadi perdebatan karena dugaan kaitannya dengan risiko kanker.
Kekhawatiran itu muncul dari penelitian awal yang memicu pertanyaan mengenai keamanan penggunaan stevia sebagai bahan pangan. Bahkan, pada 1991, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) sempat melarang penggunaannya.
Namun, penelitian lanjutan yang mengevaluasi ratusan studi tidak menemukan bukti peningkatan risiko kanker akibat konsumsi stevia.
Seiring berkembangnya bukti ilmiah, FDA kemudian mengakui ekstrak stevia dengan tingkat kemurnian tinggi atau high-purity steviol glycosides sebagai bahan yang secara umum aman dikonsumsi.

Meski demikian, status keamanan tersebut tidak berlaku secara otomatis untuk seluruh bentuk stevia. Daun stevia utuh dan ekstrak stevia mentah belum memperoleh pengakuan keamanan yang sama untuk digunakan sebagai bahan makanan.
Berapa Batas Aman Konsumsi Stevia dalam Sehari?
Stevia tetap dapat digunakan sebagai pemanis alternatif selama konsumsinya tidak melebihi batas asupan harian yang dianjurkan.
Komite Ahli Gabungan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang Bahan Tambahan Pangan atau JECFA menetapkan batas asupan harian yang dapat diterima (Acceptable Daily Intake/ADI) sebesar 4 miligram per kilogram berat badan per hari, dihitung berdasarkan ekuivalen steviol.
Sebagai gambaran, seseorang dengan berat badan 60 kilogram memiliki batas asupan harian sebesar 240 miligram ekuivalen steviol.

Namun, angka tersebut bukan berarti setiap orang dengan berat badan 60 kilogram boleh mengonsumsi 240 miligram produk stevia dalam bentuk apa pun.
Hal ini karena kandungan steviol dalam setiap produk berbeda-beda, tergantung jenis ekstrak, tingkat kemurnian, dan komposisi pemanis yang digunakan.
Tetap Perhatikan Kondisi Kesehatan Sebelum Mengonsumsi Stevia
Stevia dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin mengurangi asupan gula dan kalori. Namun, anggapan bahwa pemanis alami selalu aman dikonsumsi tanpa batas perlu diluruskan.
Selain memperhatikan jumlah konsumsi, masyarakat juga perlu membaca label komposisi untuk mengetahui bahan tambahan yang terkandung dalam produk stevia.

Perhatian khusus diperlukan bagi penderita diabetes, hipertensi, serta orang dengan gangguan ginjal atau hati. Mereka yang sedang menjalani pengobatan juga sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum meningkatkan konsumsi stevia secara rutin.
Dengan memahami potensi manfaat, efek samping, dan batas konsumsinya, penggunaan stevia sebagai pengganti gula dapat dilakukan secara lebih bijak.