Joe Kris, Administrator
Tim Redaksi

kanal9.id - Kalau sedang jalan-jalan ke Kota Malang, rasanya ada satu misi kuliner yang sayang untuk dilewatkan: berburu semangkuk Soto Lombok.

Namanya memang membuat orang penasaran. Apakah soto ini menggunakan cabai lombok dalam jumlah banyak? Atau jangan-jangan resepnya dibawa langsung dari Pulau Lombok?

Ternyata, jawabannya bukan keduanya.

Nama Soto Lombok justru diambil dari lokasi tempat kuliner legendaris ini berdiri, yakni Jalan Lombok, Kota Malang. Dari tempat sederhana inilah semangkuk soto kemudian dikenal lintas generasi dan menjadi salah satu kuliner yang lekat dengan Kota Malang.

Begitu semangkuk soto tersaji, aroma gurih kuahnya langsung menggoda. Isinya bukan sekadar nasi dan kuah, tetapi lengkap dengan irisan ayam kampung yang cukup melimpah, kubis, kentang, tauge, serta taburan seledri.

Ad Space

Yang membuat rasanya semakin khas adalah koyah kelapa berwarna cokelat gelap. Tambahan sederhana ini memberikan sensasi gurih yang membuat kuah Soto Lombok terasa semakin kaya.

Belum selesai sampai di situ. Ada satu pendamping yang juga wajib dicoba, yakni kerupuk ikan berukuran jumbo. Ukurannya yang besar membuat kerupuk ini bukan hanya pelengkap, tetapi sudah menjadi bagian dari pengalaman menyantap Soto Lombok.

Di balik semangkuk soto tersebut, tersimpan cerita panjang yang sudah berlangsung sejak 1955.

Soto Lombok dirintis oleh Hj Maimunah. Setelah puluhan tahun, usaha tersebut kini diteruskan oleh generasi ketiga. Tiga cucunya, Ira Puspita atau Ita, Dodi Heru Sancoko, dan Silfi Suroiya Sahar, turut melanjutkan usaha keluarga yang sudah bertahan selama puluhan tahun.

“Dulu yang merintis mbah, kemudian turun ke anaknya, sekarang ke generasi ketiga,” kata Ita.

Ad Space

Menariknya, meski sudah melewati berbagai zaman, Soto Lombok tetap bertahan di lokasi yang sama. Jalan Lombok menjadi saksi perjalanan usaha tersebut sejak pertama kali berdiri hingga sekarang.

Seiring waktu, tempatnya pun berkembang. Bangunan yang awalnya tidak terlalu luas kemudian bertambah setelah keluarga membeli ruko di sebelahnya.

Popularitas Soto Lombok juga membuatnya tidak hanya bertahan di satu tempat. Kini, sejumlah cabang telah hadir di beberapa wilayah, antara lain Tlogomas, Purwosari, Mondoroko, hingga Gempol.

Namun, mempertahankan usaha kuliner legendaris tentu bukan perkara mudah. Pandemi COVID-19 sempat membuat penjualan Soto Lombok anjlok.

Sebelum pandemi, sekitar 500 hingga 600 mangkuk soto bisa terjual dalam sehari. Setelah pandemi, jumlahnya sempat turun hingga sekitar setengahnya.

Ad Space

Kini, penjualan perlahan kembali meningkat dengan rata-rata sekitar 250 hingga 300 mangkuk per hari.

Salah satu alasan Soto Lombok mampu mempertahankan penggemarnya adalah resep yang tetap dijaga. Resep tersebut merupakan racikan Hj Maimunah dan hingga kini masih dipertahankan oleh keluarga.

Ayam kampung menjadi bahan yang tidak boleh digantikan. Begitu juga dengan koyah kelapa yang menjadi salah satu kunci rasa khasnya.

Ada pula satu pemandangan unik yang langsung mencuri perhatian ketika masuk ke restoran ini. Di bagian tengah terdapat pikulan kayu yang menjadi ikon Soto Lombok.

Pikulan tersebut bukan sekadar pajangan. Dahulu, peralatan itu benar-benar digunakan Hj Maimunah untuk berjualan di pasar malam.

Ad Space

Karena tempat jualan zaman dulu masih bongkar pasang, pikulan menjadi cara praktis untuk membawa perlengkapan berjualan pulang ke rumah.

Kini, benda tersebut justru menjadi pengingat perjalanan panjang Soto Lombok dari sebuah usaha sederhana hingga dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris Malang.

Untuk mencicipinya, pengunjung tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Semangkuk Soto Lombok dibanderol sekitar Rp25.000.

Jika ingin isian lebih mantap, tersedia pilihan dengan tambahan daging ayam, jeroan, atau brutu seharga Rp30.000. Ada pula menu spesial dengan tambahan daging ayam, jeroan, dan brutu sekaligus seharga Rp35.000.

Sementara kerupuk ikan jumbo khas Soto Lombok bisa menjadi teman makan dengan harga sekitar Rp8.000 per plastik.

Ad Space

Jadi, kalau suatu hari kaki membawa Anda ke Kota Malang, jangan buru-buru mencari soto yang namanya terdengar biasa.

Cobalah Soto Lombok.

Sebab, meski namanya memakai “Lombok”, kisah dan rasa di dalam mangkuknya justru begitu erat dengan Kota Malang. Dan bisa jadi, satu mangkuk saja belum cukup untuk menjawab rasa penasaran Anda.



Ad Space
Bagikan: