BALI — Pesona Pulau Dewata tidak hanya terpancar dari keindahan alamnya, melainkan juga dari akar sejarah dan kebudayaannya yang sangat kaya. Sebelum masa penaklukan kolonial Belanda berkuasa sepenuhnya pada awal abad ke-20, Pulau Bali rupanya tidak dikuasai oleh satu pemerintahan tunggal. Pulau ini terbagi ke dalam wilayah-wilayah otonom yang digerakkan oleh 9 kerajaan tradisional.
Sebagian besar dari sembilan kerajaan ini lahir pasca melemahnya Kerajaan Gelgel pada pertengahan abad ke-17. Momen tersebut membuat berbagai wilayah kekuasaan di Bali memerdekakan diri dan membentuk kedaulatannya masing-masing.
Kini, meskipun kekuasaan politik dan kedaulatan formal mereka telah berakhir seiring dengan integrasi Bali ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jejak dan eksistensi kerajaan-kerajaan ini tidak lantas sirna. Puri atau istana tetap dipertahankan sebagai pusat pelestarian adat, seni, dan budaya Bali. Kepemimpinan budaya ini sekarang dipegang oleh seorang Penglingsir—kepala keluarga kerajaan atau tokoh pewaris tahta bergelar kebangsawanan—yang bertugas menjaga tradisi leluhur.

Lantas, apa saja 9 kerajaan yang pernah menorehkan tinta emas dan merah dalam sejarah Bali? Berikut adalah ulasan mendalamnya:
1. Kerajaan Klungkung: Sang Pewaris Tahta Tertinggi
Secara historis dan adat, Klungkung dianggap sebagai kerajaan tertinggi di Bali karena rajanya merupakan pewaris langsung dari Dinasti Gelgel yang pernah menyatukan seluruh Bali. Sisa peninggalan kemegahannya yang paling ikonis adalah Balai Peradilan Kertha Gosa. Klungkung juga dikenang sebagai lokasi Perang Puputan Klungkung, sebuah perlawanan heroik hingga titik darah penghabisan melawan Belanda.

2. Kerajaan Karangasem: Penguasa Timur hingga ke Lombok
Berada di ujung timur Bali, Kerajaan Karangasem pernah memiliki pengaruh militer dan politik yang sangat luas, di mana kekuasaannya bahkan sempat mencakup sebagian Pulau Lombok. Kerajaan ini mewariskan arsitektur istana air (water palace) yang luar biasa indah dan megah, seperti Taman Ujung dan Tirta Gangga, yang kini menjadi destinasi wisata favorit.
3. Kerajaan Badung (Denpasar): Simbol Keberanian Puputan 1906

Menguasai wilayah selatan Bali, Kerajaan Badung sangat terkenal akibat peristiwa bersejarah Puputan Badung pada tahun 1906. Dalam pertempuran tersebut, raja beserta rakyatnya memilih bertempur sampai mati ketimbang menyerah kepada penjajah Belanda. Pusat pemerintahannya dahulu berada di Puri Agung Denpasar.
4. Kerajaan Tabanan: Penguasa Tanah Agraris yang Subur
Didirikan oleh keturunan Arya Kenceng—salah satu panglima tangguh dari era Majapahit—Kerajaan Tabanan menguasai wilayah agraris yang sangat subur di barat daya Bali. Hingga hari ini, Puri Agung Tabanan terus bertindak sebagai pusat spiritual dan tatanan adat bagi masyarakat Tabanan.

5. Kerajaan Mengwi: Sang Raksasa yang Runtuh oleh Konflik Internal
Mengwi pernah mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-18 dan diakui sebagai salah satu kerajaan terkuat di Bali. Sayangnya, kerajaan ini akhirnya runtuh akibat konflik dengan kerajaan-kerajaan Bali lainnya pada tahun 1891. Walau begitu, warisan arsitekturnya tetap abadi, yang paling masyhur adalah Pura Taman Ayun.
6. Kerajaan Buleleng: Gerbang Utara yang Pertama Jatuh
Terletak di pesisir utara dan didirikan oleh Wangsa Panji Sakti pada pertengahan abad ke-17, Buleleng menempati posisi yang sangat strategis di jalur perdagangan laut. Ironisnya, karena posisinya yang strategis pula, Buleleng menjadi gerbang utama sekaligus kerajaan Bali pertama yang jatuh ke tangan kolonial Belanda.

7. Kerajaan Gianyar: Poros Kebudayaan dan Jalan Diplomasi
Gianyar sejak lama dipandang sebagai poros utama kebudayaan dan seni ukir di Bali. Di masa kolonial, raja Gianyar mengambil keputusan diplomatis dengan beraliansi bersama Belanda. Langkah kompromi ini terbukti berhasil menyelamatkan puri dari kehancuran peperangan Puputan, sehingga warisan istananya masih berdiri sangat utuh hingga saat ini.
8. Kerajaan Jembrana: Benteng di Bali Barat

Membawahi wilayah Bali Barat, sejarah kerajaan ini terkait erat dengan Kerajaan Mengwi. Dahulu, Mengwi mengutus puteranya untuk memimpin wilayah perbatasan ini. Saat ini, pusat pelestarian adat kerajaan Jembrana berada di Puri Agung Negara.
9. Kerajaan Bangli: Penjaga Dataran Tinggi Batur
Kerajaan Bangli menguasai dataran tinggi dan wilayah pegunungan di tengah Bali, termasuk kawasan suci Batur. Senada dengan Gianyar, Bangli juga memiliki sejarah kompromi politik dengan Belanda untuk menghindari pertumpahan darah. Kebijakan ini menjadikan warisan budaya di Puri Agung Bangli tetap lestari tanpa harus menghadapi intervensi peperangan fisik yang destruktif.

Kisah kesembilan kerajaan ini menjadi cerminan dinamika Pulau Dewata di masa lampau—mulai dari ekspansi kekuasaan, perlawanan heroik (Puputan), hingga taktik diplomasi demi menyelamatkan warisan leluhur. Saat ini, pesona budaya Bali yang kita nikmati tidak lepas dari peran ke-9 kerajaan tersebut yang telah bertransformasi menjadi benteng pelestari peradaban.
