Didik, Administrator
Tim Redaksi

Kanal9.id - Musik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap orang memiliki lagu, penyanyi, atau genre favorit yang biasa didengarkan dalam berbagai suasana.

Ada yang menikmati pop, rock, jazz, dangdut, musik klasik, hingga lagu-lagu bernuansa melankolis. Pilihan tersebut terkadang bukan hanya berkaitan dengan selera suara, tetapi juga dapat berhubungan dengan emosi, pengalaman, lingkungan, dan cara seseorang mengekspresikan dirinya.

Karena itu, tidak sedikit yang menganggap playlist seseorang bisa menjadi gambaran kecil mengenai karakter pemiliknya. Namun, apakah benar selera musik dapat menentukan kepribadian seseorang?

Selera Musik dan Kepribadian

Psikologi mempelajari berbagai aspek manusia, termasuk pikiran, perasaan, dan perilaku. Dalam konteks tersebut, musik dapat menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons dan mengekspresikan dirinya.

Ad Space

Teori Big Five Personality membagi kepribadian manusia ke dalam lima dimensi utama, yakni openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism.

Orang yang memiliki keterbukaan tinggi terhadap pengalaman baru, misalnya, dapat lebih tertarik mencoba beragam genre musik. Namun, hal itu bukan berarti seseorang yang hanya menyukai satu genre otomatis memiliki karakter tertentu.

Selera musik juga dapat dipengaruhi oleh keluarga, teman, lingkungan, tren, budaya, hingga pengalaman pribadi. Karena itu, musik tidak dapat dijadikan sebagai tes kepribadian yang berdiri sendiri.

Lagu yang Didengar Bisa Mengikuti Suasana Hati

Musik juga kerap menjadi teman ketika seseorang sedang mengalami perubahan emosi. Saat bahagia, seseorang mungkin memilih lagu dengan tempo cepat dan suasana ceria. Sebaliknya, ketika sedang sedih atau menghadapi masalah, lagu dengan lirik emosional terkadang terasa lebih cocok untuk didengarkan.

Ad Space

Namun, kebiasaan mendengarkan lagu sedih tidak otomatis menunjukkan seseorang memiliki kepribadian murung atau pesimistis.

Bisa saja musik tersebut justru digunakan sebagai sarana untuk memahami perasaan, meluapkan emosi, atau membantu seseorang menerima keadaan yang sedang dialami.

Dengan kata lain, lagu yang dipilih seseorang pada satu waktu belum tentu menggambarkan kondisi emosionalnya secara keseluruhan.

Musik Bisa Menghidupkan Kembali Kenangan

Sebuah lagu terkadang memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar melodi dan lirik.

Ad Space

Lagu tertentu dapat mengingatkan seseorang pada masa sekolah, keluarga, sahabat, perjalanan, hingga hubungan dengan orang yang pernah dekat dalam hidupnya.

Tidak mengherankan jika sebuah lagu yang sudah lama tidak didengar tiba-tiba mampu membawa seseorang kembali pada kenangan tertentu.

Di Indonesia, ketertarikan terhadap lagu dengan nuansa emosional juga cukup kuat. Sejumlah data mengenai kebiasaan pendengar menunjukkan banyak lagu populer memiliki karakter melankolis dan lirik yang dekat dengan pengalaman emosional.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa musik tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari cerita pribadi seseorang.

Selera Musik Dipengaruhi Lingkungan

Ad Space

Musik juga memiliki kaitan dengan kehidupan sosial. Pilihan genre atau penyanyi tertentu dapat dipengaruhi oleh keluarga, teman, komunitas, hingga lingkungan tempat seseorang tumbuh.

Kesamaan selera musik bahkan dapat membuat dua orang yang baru bertemu merasa lebih mudah membangun kedekatan.

Misalnya, seseorang yang mengetahui lawan bicaranya menyukai band atau penyanyi yang sama dapat langsung memiliki topik pembicaraan yang lebih personal.

Dalam kondisi seperti itu, musik berfungsi sebagai semacam bahasa sosial. Musik membantu seseorang menunjukkan identitas sekaligus menemukan kelompok yang memiliki minat serupa.

Jangan Menilai Seseorang Hanya dari Playlist

Ad Space

Meski selera musik dapat memberikan gambaran mengenai emosi, pengalaman, maupun kecenderungan seseorang, playlist tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk menilai kepribadian.

Karakter manusia terbentuk dari banyak faktor dan dapat berubah seiring pengalaman hidup. Seseorang yang saat ini gemar mendengarkan lagu sedih bisa saja beberapa tahun kemudian lebih menyukai musik ceria atau bahkan berpindah ke genre yang sama sekali berbeda.

Karena itu, selera musik lebih tepat dilihat sebagai salah satu jendela kecil untuk memahami seseorang, bukan sebagai alat untuk memberikan label kepribadian.

Pada akhirnya, pertanyaan sederhana seperti “Kamu suka musik apa?” bisa menjadi awal percakapan yang lebih dalam. Dari pilihan lagu, seseorang mungkin menemukan cerita, kenangan, emosi, bahkan sisi lain dari dirinya yang selama ini tidak terlihat oleh orang lain.

Bagikan: