Helmi, Administrator
Tim Redaksi

KETAPANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, semakin mengkhawatirkan. Luas wilayah terdampak terus meluas hingga mencakup sebagian besar wilayah kecamatan.


Pemerintah Kabupaten Ketapang akhirnya menaikkan status penanganan bencana kekeringan dan karhutla dari siaga menjadi tanggap darurat, mulai Rabu (2/9/2026).


Keputusan tersebut diambil setelah kebakaran dan dampak kekeringan semakin meluas. Dari total 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Ketapang, karhutla telah terjadi di 15 kecamatan.

Ad Space


Kondisi tersebut tidak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan, tetapi juga mulai berdampak langsung terhadap masyarakat. Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah, sementara kualitas udara mengalami penurunan drastis.


Kualitas Udara Memburuk


Ad Space

Salah satu persoalan paling serius akibat meluasnya karhutla adalah memburuknya kualitas udara.


Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Ketapang bahkan tercatat mencapai 300. Angka tersebut masuk dalam kategori sangat tidak sehat dan menunjukkan bahwa masyarakat berada dalam kondisi udara yang berisiko terhadap kesehatan.


Kabut asap akibat kebakaran membuat aktivitas masyarakat ikut terganggu. Kondisi tersebut terutama menjadi perhatian bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Ad Space


Pemerintah daerah juga dihadapkan pada persoalan lain yang muncul bersamaan dengan karhutla, yakni meningkatnya kebutuhan air bersih di tengah kondisi kekeringan.


Sejumlah wilayah mulai mengalami keterbatasan air bersih. Situasi ini membuat penanganan bencana tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga harus mencakup pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.


Ad Space

803 Kasus ISPA Tercatat


Dampak kesehatan akibat kepungan kabut asap mulai terlihat.


Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang mencatat sedikitnya 803 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah memburuknya kualitas udara akibat karhutla.

Ad Space


Angka tersebut menjadi salah satu indikator serius bahwa bencana kebakaran tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mulai memberikan tekanan terhadap sektor kesehatan.


Masyarakat di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap. Penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi langkah penting, terutama ketika kualitas udara berada dalam kondisi buruk.


Ad Space

Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Kalbar


Persoalan karhutla di Ketapang juga tidak berdiri sendiri.


Aktivitas kebakaran terjadi di tengah tingginya jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat.

Ad Space


Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 6.169 titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat hingga 31 Agustus 2026.


Ketapang dan Kubu Raya termasuk wilayah yang tercatat memiliki jumlah titik panas tinggi.


Ad Space

Banyaknya titik panas tersebut menjadi peringatan bahwa ancaman karhutla masih cukup besar. Kondisi cuaca kering dapat membuat api lebih mudah menyebar dan menyulitkan proses pemadaman, terutama apabila kebakaran terjadi di kawasan gambut atau lahan yang sulit dijangkau.


Status Tanggap Darurat Diberlakukan


Dengan kondisi yang semakin meluas, Pemkab Ketapang mengambil langkah dengan menaikkan status penanganan dari siaga menjadi tanggap darurat.

Ad Space


Status tersebut diharapkan memperkuat koordinasi antarinstansi sekaligus mempercepat langkah penanganan di lapangan.


Penanganan tidak hanya diarahkan untuk memadamkan titik api, tetapi juga mengurangi dampak kabut asap, memenuhi kebutuhan air bersih, serta memberikan perlindungan kepada masyarakat yang terdampak.


Ad Space

Pergerakan titik api dan kondisi kualitas udara juga perlu terus dipantau karena situasi dapat berubah dengan cepat mengikuti kondisi cuaca dan arah angin.


Karhutla yang kini telah meluas ke 15 kecamatan, kualitas udara yang mencapai kategori sangat tidak sehat, serta munculnya ratusan kasus ISPA menjadi sinyal bahwa situasi di Ketapang tidak lagi bisa dianggap sebagai kebakaran biasa.


Api meluas, kabut asap menebal, kualitas udara memburuk, dan kebutuhan air bersih mulai terbatas. Ketapang kini resmi memasuki status tanggap darurat untuk menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan.

Ad Space
Bagikan: