Administrator, Administrator
Tim Redaksi

PADANG — Badan Pusat Statistik atau BPS mencatatkan bahwa Provinsi Sumatera Barat mengalami tingkat inflasi sebesar 3,76 persen pada periode bulan Agustus. Angka tersebut mencerminkan adanya pergerakan kenaikan harga pada sejumlah komoditas kebutuhan pokok di pasar tradisional maupun modern.


Berdasarkan laporan resmi dari pihak BPS daerah, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama terhadap pembentukan laju inflasi wilayah tersebut.


Komoditas daging ayam ras menjadi salah satu komoditas pangan utama yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan dan mendorong laju inflasi daerah.

Ad Space


Kenaikan harga daging ayam disebabkan oleh meningkatnya biaya pakan ternak di tingkat peternak serta adanya penyesuaian rantai distribusi di kawasan Sumatra Barat.


Selain daging ayam ras, beberapa bahan pangan holtikultura seperti cabai merah dan beras juga mencatatkan fluktuasi harga yang turut memengaruhi indeks konsumsi warga.


Ad Space

Pemerintah Daerah Sumatra Barat bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID langsung bergerak cepat menyiapkan sejumlah langkah intervensi pasar.


Program operasi pasar murah dan fasilitasi distribusi pangan disiapkan di beberapa kabupaten dan kota untuk menekan laju kenaikan harga kebutuhan pokok.


Pihak BPS mengimbau pemerintah daerah untuk terus memantau ketersediaan pasokan pangan dari daerah sentra produksi agar harga di tingkat konsumen tetap stabil.

Ad Space


Kerja sama antar-daerah dalam pemenuhan komoditas pangan yang defisit menjadi salah satu solusi jangka pendek yang akan terus dioptimalkan oleh Pemprov Sumbar.


Dengan pengawasan rantai pasok yang ketat serta intervensi pasar secara berkala, tingkat inflasi di Sumatera Barat diharapkan dapat kembali terkendali pada bulan-bulan berikutnya.

Bagikan: