Helmi, Administrator
Tim Redaksi

AKARTA – Bursa saham Indonesia kembali berada dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam pada perdagangan Selasa (22/9/2026), setelah sebelumnya sempat dibuka di zona hijau.


Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) sekitar pukul 10.45 WIB, IHSG anjlok 84,62 poin atau 1,33 persen ke level 6.300,11. Padahal saat pembukaan perdagangan, indeks masih berada di level 6.392,34.


Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor saham. Kondisi tersebut menunjukkan pelemahan pasar yang cukup merata.

Ad Space


Sektor energi menjadi yang mengalami koreksi paling dalam dengan penurunan 1,99 persen. Berikutnya sektor utilitas turun 1,77 persen, properti 1,72 persen, konsumer non-primer 1,52 persen, bahan baku 1,33 persen, industri 1,18 persen, konsumer primer 0,87 persen, finansial 0,84 persen, dan kesehatan 0,72 persen.


Saham Big Cap Jadi Beban IHSG


Ad Space

Pelemahan IHSG semakin dalam karena sejumlah saham berkapitalisasi besar ikut terkoreksi dan memberikan tekanan signifikan terhadap indeks.


Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi pemberat terbesar. Pergerakannya memberikan kontribusi negatif sebesar 14,6 poin terhadap IHSG.


Di posisi berikutnya terdapat PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang menekan indeks sebesar 7,74 poin.

Ad Space


Tekanan juga datang dari PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan kontribusi negatif 2,98 poin. Kemudian PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 2,77 poin dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 2,45 poin.


Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masing-masing memberikan tekanan 2,21 poin.


Ad Space

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) ikut melemah dan mengurangi IHSG sebesar 2,15 poin, disusul PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar 2,11 poin.


Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memberikan tekanan negatif sebesar 1,98 poin.


Masih Ada Saham yang Bertahan Hijau

Ad Space


Di tengah dominasi tekanan jual, sejumlah saham masih mampu bergerak positif dan memberikan kontribusi terhadap IHSG.


PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi saham dengan kontribusi positif terbesar, yakni 2,11 poin. Selanjutnya PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menyumbang 0,38 poin dan PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar 0,36 poin.


Ad Space

Namun, jumlah saham yang menguat belum mampu mengimbangi tekanan dari saham-saham yang mengalami koreksi.


Data IDX Mobile menunjukkan sebanyak 137 saham menguat, 546 saham melemah, dan 280 saham stagnan.


Lanjutkan Pelemahan Perdagangan Sebelumnya

Ad Space


Koreksi tajam IHSG pada Selasa ini melanjutkan tren negatif perdagangan sebelumnya. Pada Senin (21/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,72.


Pergerakan pasar domestik juga berlangsung di tengah dinamika pasar global. Harga minyak dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian investor karena berpotensi berdampak terhadap inflasi serta arah kebijakan suku bunga.


Ad Space

Menariknya, pelemahan IHSG terjadi ketika sejumlah indeks saham utama Asia justru bergerak positif.


Pada perdagangan pagi, KOSPI Korea Selatan tercatat naik 1,84 persen, Nikkei 225 Jepang menguat 1,38 persen, Taiwan naik 0,84 persen, Malaysia 0,69 persen, SGX CNBC China Growth 0,62 persen, Shenzhen 0,62 persen, SET Thailand 0,56 persen, dan STI Singapura 0,44 persen.


Hang Seng Hong Kong juga menguat 0,42 persen, sementara Shanghai Composite naik 0,22 persen. Adapun Nifty 50 India tercatat stagnan.

Ad Space


Investor Menanti Keputusan BI


Dari dalam negeri, perhatian investor kini juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang mulai berlangsung selama dua hari.


Ad Space

Keputusan mengenai suku bunga acuan atau BI Rate dijadwalkan diumumkan pada Rabu (23/9/2026).


Keputusan tersebut menjadi perhatian karena merupakan pengumuman suku bunga pertama sejak Destry Damayanti dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September 2026.


Konsensus pasar memperkirakan BI masih akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Sementara itu, suku bunga deposit facility diperkirakan tetap 4,75 persen dan lending facility 6,5 persen.

Ad Space


Pada RDG Agustus lalu, BI juga mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.


Kini, pelaku pasar mencermati apakah keputusan BI pada Rabu nanti mampu menjadi katalis bagi pasar atau justru menambah tekanan di tengah pelemahan IHSG yang telah berlangsung dalam dua sesi perdagangan terakhir.

Bagikan: