JAKARTA — Keluhan para pelaku industri nasional terkait seretnya pasokan gas bumi kembali mengemuka di publik. Pengamat ekonomi menyoroti adanya celah kekurangtepatan pelaksanaan dalam skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
Ketidakpastian pasokan gas bumi ini mengancam kelangsungan operasional pabrik di sektor pupuk, keramik, hingga tekstil.
Pengamat menilai masalah utama terletak pada ketidakseimbangan antara alokasi gas yang ditetapkan dengan realisasi produksi di tingkat hulu.

Skema HGBT yang berniat memberikan gas murah bagi industri domestik dinilai belum berjalan optimal karena kendala infrastruktur pipa.
Beberapa produsen gas lebih memilih menyalurkan produknya ke pasar ekspor karena dinilai memiliki margin keuntungan lebih menggiurkan.

Kondisi ini membuat persaingan daya saing industri pengolahan dalam negeri makin tertekan di tengah persaingan global.
Pemerintah diminta segera melakukan audit komprehensif terhadap tata kelola dan alokasi pasokan gas dari pipa penyalur.
Penetapan sanksi tegas bagi kontraktor hulu yang tidak memenuhi komitmen kuota pasokan domestik (Domestic Market Obligation) menjadi desakan utama.

Penguatan regulasi pasar gas bumi sangat dibutuhkan agar sektor manufaktur nasional mendapatkan kepastian bahan baku energi.
Langkah perbaikan tata niaga gas ini krusial demi menjaga pertumbuhan industri manufaktur serta daya serap tenaga kerja nasional.
