SEMARANG, Kanal9.id — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah didorong tidak berhenti meningkatkan volume ekspor, tetapi juga memperkuat nilai tambah berbagai komoditas unggulan daerah agar mampu bersaing di pasar internasional.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, Jateng memiliki beragam potensi komoditas yang bisa dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan komoditas tersebut tidak hanya dikirim ke luar negeri dalam bentuk bahan mentah.
"Tantangannya tentu adalah bagaimana komoditas unggulan itu memberikan nilai tambah dan nilai jual di pasar global," kata Sarif.

Politikus yang akrab disapa Kakung itu menilai ekspor bahan baku membuat keuntungan terbesar justru dinikmati industri di negara tujuan.Karena itu, pemerintah daerah perlu mendorong terbentuknya ekosistem industri dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, proses pengolahan dan peningkatan nilai produk dapat dilakukan di daerah asal.
"Karena itu, perlu terus digerakkan bagaimana masing-masing daerah bisa membangun ekosistem industri yang utuh," ujar Ketua DPW PKB Jawa Tengah tersebut.
Dorong Pusat Riset hingga Laboratorium Berstandar Internasional
Sarif mengatakan penguatan industri daerah perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas riset dan pengujian produk.
Pemerintah provinsi, kata dia, dapat mendorong daerah mengembangkan pusat riset serta laboratorium pengujian yang memenuhi standar internasional.

Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting agar produk lokal mampu memenuhi persyaratan pasar ekspor yang semakin ketat.
Selain kualitas produk, aspek lingkungan juga menjadi perhatian. Industri di Jawa Tengah dinilai perlu memperkuat sistem pengelolaan limbah sekaligus meningkatkan kepatuhan terhadap standar hijau.
"Satu sisi juga bagaimana bisa memperkuat standar pengelolaan limbah, dan sertifikat hijau," katanya.
Ekspor Jateng Capai 7,2 Miliar Dolar AS
Dorongan tersebut datang ketika kinerja ekspor Jawa Tengah menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Jawa Tengah sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 7.207,69 juta dolar AS. Angka tersebut meningkat 23,53 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok masih menjadi tiga negara tujuan utama ekspor Jawa Tengah. Secara kumulatif, kenaikan nilai ekspor nonmigas terutama ditopang sektor industri pengolahan yang tumbuh 18,29 persen.
Sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tercatat mengalami penurunan 0,78 persen. Sektor pertambangan dan lainnya juga turun 13,19 persen.
Menurut Sarif, capaian tersebut menunjukkan masih besarnya peluang bagi Jateng untuk memperkuat posisi di pasar global.
Namun, persaingan internasional kini tidak cukup hanya mengandalkan kualitas barang.
"Kualitas produk saja tidak cukup. Persaingan global saat ini bukan hanya soal kualitas produk, tapi juga kepatuhan terhadap standar lingkungan dan pengelolaan limbah," tegasnya.

Karena itu, pemerintah daerah bersama pelaku usaha dinilai perlu membangun industri yang tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memenuhi standar lingkungan dan persyaratan pasar internasional.
