SEMARANG – Literasi ternyata bukan hanya soal membaca buku. Di tengah Festival Literasi Jawa Tengah 2026 yang berlangsung di Uptown Mall BSB City, Semarang, Kabupaten Demak justru membawa kekayaan budaya dan sejarahnya ke tengah masyarakat.
Melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Demak (Dinperpusar), sebuah stan khusus menampilkan berbagai potensi lokal Demak. Mulai dari batik khas daerah, kerajinan masyarakat, minuman tradisional Jamu Coro hingga arsip sejarah Demak dari masa ke masa.
Festival Literasi Jawa Tengah berlangsung selama tiga hari, 11–13 September 2026, dan menjadi ruang pertemuan berbagai unsur literasi dari kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Bagi Demak, kehadiran di festival tersebut bukan sekadar memamerkan produk daerah. Ada pesan yang ingin disampaikan bahwa literasi juga berkaitan erat dengan bagaimana masyarakat mengenal identitas, sejarah dan budaya daerahnya sendiri.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah Jamu Coro.

Minuman tradisional khas Demak itu dibawa ke tengah pengunjung sebagai bagian dari warisan kuliner lokal. Jamu Coro dikenal sebagai minuman berbahan rempah yang menjadi salah satu identitas kuliner Demak. Bahkan, minuman tersebut pernah mendapatkan penghargaan dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia pada 2021.
Kehadiran Jamu Coro di festival literasi menjadi menarik karena tradisi yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi tersebut tidak hanya dipandang sebagai produk kuliner, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan lokal yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
Batik Demak Ikut Bicara

Tak hanya Jamu Coro, batik khas Demak juga menjadi bagian dari materi yang dipamerkan.
Batik menjadi representasi lain bahwa kekayaan lokal dapat menjadi media untuk mengenalkan identitas daerah. Motif, proses pembuatan dan cerita yang berada di balik sebuah karya batik merupakan bagian dari pengetahuan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di sisi lain, stan Demak juga menampilkan berbagai hasil kerajinan dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) atau TPBIS.
Hal ini menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca dan menulis. Dari ruang-ruang literasi masyarakat, pengetahuan dapat berkembang menjadi keterampilan, karya kreatif dan bahkan memiliki nilai ekonomi.
Membuka Kembali Jejak Sejarah Demak

Bagian yang tak kalah menarik adalah kehadiran arsip Demak dari masa ke masa.
Dokumen-dokumen sejarah tersebut menjadi jendela bagi pengunjung untuk melihat perjalanan Kabupaten Demak melalui rekaman masa lalu.

Arsip bukan sekadar tumpukan dokumen lama. Di dalamnya terdapat informasi mengenai perjalanan sebuah daerah, sehingga dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus memori kolektif masyarakat.
Karena itu, membawa arsip Demak ke festival literasi memiliki pesan tersendiri: mengenal masa lalu merupakan bagian penting untuk memahami identitas daerah hari ini.
Literasi yang Dekat dengan Kehidupan

Keikutsertaan Demak dalam Festival Literasi Jawa Tengah 2026 akhirnya memperlihatkan wajah literasi yang lebih luas.
Literasi bisa hadir melalui buku, tetapi juga melalui secangkir Jamu Coro, selembar batik, sebuah karya kerajinan hingga arsip sejarah.

Semua memiliki cerita dan pengetahuan yang bisa diwariskan.
Festival tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi Demak untuk memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat yang lebih luas, khususnya generasi muda Jawa Tengah.
Dengan cara itu, literasi tidak hanya mengajak masyarakat untuk membaca, tetapi juga membaca daerahnya sendiri: mengenali budaya, memahami sejarah, menghargai karya masyarakat dan menjaga warisan yang dimiliki.
