KARO, SUMATRA UTARA — Di usia 16 tahun, Febiola Br Purba dikenal sebagai siswi berprestasi dengan segudang harapan. Namun, kehidupan remaja yang tengah menempuh pendidikan di SMK Swasta Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, berubah drastis setelah ia diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Febiola merupakan putri pasangan Icuk Sugiarto Purba dan Elvinus Lusiana Sitanggang. Kedua orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai pekerja atau tukang kebun.
Di sekolah, Febiola bukan hanya dikenal karena prestasi akademiknya. Ia disebut kerap meraih peringkat pertama di kelas dan dipercaya menjalankan tanggung jawab sebagai Wakil Ketua OSIS.

Namun, pada Kamis, 13 Agustus 2026, Febiola mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan program MBG.
Kondisinya sempat membaik. Akan tetapi, tiga hari kemudian, tepatnya pada 16 Agustus, kondisi Febiola tiba-tiba memburuk. Ia mengalami kejang hebat hingga kehilangan kesadaran.

Sejak saat itu, Febiola harus menjalani perawatan secara intensif dan berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Setidaknya lima fasilitas kesehatan telah menjadi tempat perawatannya, mulai dari RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, hingga RS Amanda Karo.
Dampak yang dialaminya pun disebut sangat berat. Berdasarkan keterangan keluarga, Febiola mengalami gangguan ingatan yang oleh dokter disebut mencapai sekitar 70 persen.
Kondisi tersebut membuat Febiola mengalami kesulitan mengenali orang-orang terdekatnya. Ia bahkan disebut sempat tidak mengenali wajah kedua orang tuanya, adiknya, teman-teman sekolah, guru, hingga sejumlah barang milik pribadinya.

Bagi keluarga, kondisi itu menjadi pukulan berat. Anak yang sebelumnya aktif belajar, berprestasi dan dipercaya menjadi pengurus OSIS tersebut kini membutuhkan pendampingan serta perawatan secara intensif.
Dokter disebut menyarankan Febiola menjalani terapi secara rutin dalam jangka panjang, setidaknya selama satu tahun.

Kasus yang dialami Febiola kemudian mendapat perhatian publik. Peristiwa tersebut juga mendorong pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di Kabupaten Karo, terutama terkait keamanan dan kualitas makanan yang diterima para siswa.
Ombudsman Sumatra Utara turut memberikan perhatian terhadap dugaan insiden keracunan tersebut. Pengawasan diperlukan untuk memastikan penanganan korban berjalan optimal sekaligus mengetahui secara terang penyebab kejadian dan memastikan pihak-pihak yang bertanggung jawab memenuhi kewajibannya.
Bagi keluarga Febiola, persoalan ini bukan sekadar tentang program makanan gratis. Ada masa depan seorang anak yang kini harus berjuang memulihkan kondisi tubuh dan ingatannya.

Febiola yang sebelumnya dikenal sebagai siswi berprestasi dan calon pemimpin di sekolah, kini harus menjalani perjuangan panjang untuk kembali mengenali dunia yang selama ini begitu dekat dengannya.
