Kanal9.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah membuat kualitas udara memburuk. Paparan asap dalam waktu lama dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi kelompok yang rentan.
Di tengah kondisi tersebut, masker dan alat penyaring udara menjadi pilihan masyarakat untuk mengurangi paparan polutan. Namun, penggunaan alat pelindung tetap perlu disertai pemahaman bahwa tidak ada perlindungan yang mampu memberikan jaminan keamanan 100 persen.
Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), menjelaskan bahwa gangguan akibat paparan asap biasanya muncul secara bertahap.
Gejala dimulai dari bersin hingga sesak
Menurut Erlina, tubuh umumnya memberikan tanda-tanda awal ketika saluran pernapasan terpapar udara yang tercemar asap.

Keluhan dapat diawali dengan bersin, kemudian muncul rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Jika paparan terus berlanjut, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sakit tenggorokan.
Setelah itu, gejala bisa berlanjut berupa batuk yang terjadi terus-menerus. Dalam kondisi yang lebih berat, seseorang dapat mengalami sesak napas.
"Pertama bersin dulu. Kemudian tenggorokan enggak enak, terganjal-ganjal kayak ada yang ngeganjal, lama-lama sakit tenggorokan," ujar Erlina kepada Kompas.com, Rabu (2/9/2026).
Apabila kondisi tersebut terus dibiarkan dan tubuh juga terpapar kuman, gejala dapat berkembang lebih serius, termasuk demam dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Dalam kondisi tertentu, infeksi bahkan dapat berkembang menjadi pneumonia.

"Terus batuk. Batuk terus-menerus. Lama-lama sesak. Apalagi kalau kemudian selain itu ada kuman yang masuk, ya bisa demam juga. Lama-lama akhirnya ISPA dan ujung-ujungnya pneumonia," jelasnya.
Karena itu, masyarakat disarankan tidak mengabaikan gejala awal. Pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan apabila keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik.
"Jadi, kita atasi dari dini, jangan tunggu ada komplikasi, malah nanti kan susah sembuhnya," kata Erlina.
Masker dapat membantu, tetapi bukan perlindungan mutlak
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap adalah menggunakan pelindung pernapasan ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

Adjunct Professor di Griffith University, Prof. Dr. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE, FISR, mengatakan penggunaan respirator atau masker sebaiknya dilakukan semaksimal mungkin ketika kualitas udara memburuk.
Namun, masyarakat tidak boleh menganggap masker sebagai perlindungan yang menjamin seseorang sepenuhnya terbebas dari risiko.
"Respirator (dan masker) silakan digunakan sebaik mungkin. Kalau bisa pakai respirator lebih bagus. Tetapi sama sekali tidak menjamin 100 persen orang akan aman atau tidak," ujar Tjandra kepada Kompas.com, Selasa (1/9/2026).
Erlina menambahkan, jenis masker dapat disesuaikan dengan kondisi dan tingkat kerentanan seseorang. Masker bedah masih dapat digunakan, sementara kelompok yang sangat rentan dapat mempertimbangkan respirator seperti N95.
Meski lebih protektif, penggunaan masker tertentu dalam waktu lama juga dapat terasa pengap dan tidak nyaman bagi sebagian orang.

Air purifier tidak wajib dimiliki semua orang
Selain melindungi saluran pernapasan ketika berada di luar rumah, kualitas udara di dalam ruangan juga perlu diperhatikan.
Penggunaan air purifier dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu menyaring polutan di dalam ruangan. Namun, menurut Tjandra, alat tersebut bukan sesuatu yang wajib dimiliki setiap rumah.
"Kalau ada air purifier silakan digunakan. Kenapa saya pakai kalau ada? Karena kalau kita bilang harus digunakan air purifier, nanti orang beli (membebani)," jelasnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak memiliki anggapan bahwa penggunaan air purifier secara otomatis membuat seseorang sepenuhnya aman dari dampak kabut asap.

Dengan demikian, masyarakat yang tidak memiliki perangkat tersebut tidak perlu merasa harus membelinya hanya karena berada di wilayah terdampak.
Saat kabut asap pekat, tutup pintu dan jendela
Pengaturan ventilasi rumah juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika kabut asap berada pada tingkat sangat pekat.
Erlina menyarankan agar pintu dan jendela ditutup ketika kondisi udara di luar sangat buruk. Langkah tersebut bertujuan mengurangi masuknya asap ke dalam rumah.
"Kalau sangat pekat itu kabutnya, ya terpaksa jendela rumah, pintu rumah, ditutup semua. Jangan masuk ke dalam rumah," tuturnya.

Namun, penutupan ventilasi tidak seharusnya dilakukan terus-menerus. Ketika kondisi udara di luar mulai membaik, rumah tetap membutuhkan sirkulasi udara yang memadai.
Karena itu, masyarakat perlu menyesuaikan kondisi ventilasi dengan kualitas udara di lingkungan sekitar.
Jangan menunggu gejala semakin parah
Paparan kabut asap karhutla perlu diwaspadai, terutama oleh anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki kerentanan terhadap gangguan pernapasan.
Penggunaan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menjaga kualitas udara dalam rumah, dan memantau kondisi udara dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi paparan asap.

Yang tidak kalah penting, masyarakat perlu mengenali gejala sejak dini. Bersin, iritasi tenggorokan, batuk hingga sesak napas merupakan tanda yang sebaiknya tidak diabaikan apabila muncul setelah terpapar kabut asap.
Jika keluhan semakin berat, pemeriksaan medis perlu dilakukan agar gangguan pernapasan dapat ditangani sebelum berkembang menjadi komplikasi.
