Didik, Administrator
Tim Redaksi

Kanal9,id - Bagi sebagian orang, gigitan nyamuk seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas di luar ruangan. Saat orang lain hampir tidak mengalami gangguan, tubuh mereka justru dipenuhi bentol merah yang terasa gatal.

Anggapan bahwa seseorang memiliki “darah manis” ternyata bukan penjelasan ilmiah. Nyamuk justru memanfaatkan sejumlah sinyal biologis dari tubuh manusia untuk menemukan calon mangsanya.

Sinyal tersebut antara lain berasal dari karbondioksida, panas tubuh, keringat, hingga aroma khas yang dihasilkan kulit.

Karbondioksida Menjadi Petunjuk Awal

Hanya nyamuk betina yang mengisap darah manusia. Darah dibutuhkan untuk memperoleh protein yang menunjang perkembangan telurnya.

Ad Space

Untuk menemukan manusia, nyamuk memanfaatkan penglihatan dan sistem penciumannya. Dari jarak sekitar 10 meter, salah satu petunjuk yang dapat mereka deteksi adalah karbondioksida (CO2) yang dilepaskan melalui napas dan kulit.

Semakin banyak CO2 yang dilepaskan seseorang, semakin mudah keberadaannya terdeteksi.

Karena itu, orang dewasa cenderung lebih menarik bagi nyamuk dibandingkan anak-anak. Orang dengan ukuran tubuh lebih besar juga dapat menghasilkan lebih banyak CO2 dan panas tubuh.

Kondisi tertentu, seperti kehamilan, juga dapat meningkatkan daya tarik terhadap nyamuk. Peningkatan metabolisme dan volume pernapasan membuat tubuh menghasilkan lebih banyak panas dan CO2.

Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang sedang berolahraga. Aktivitas fisik meningkatkan metabolisme, membuat tubuh lebih hangat, menghasilkan lebih banyak CO2, serta memicu keringat.

Ad Space

Aroma Kulit Menjadi Penentu Berikutnya

Ketika jaraknya semakin dekat, nyamuk mengandalkan aroma tubuh untuk menentukan target. Kulit manusia menghasilkan ratusan senyawa organik yang mudah menguap atau volatile organic compounds (VOCs).

Senyawa tersebut antara lain terbentuk dari aktivitas mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit. Bakteri kulit memecah berbagai zat seperti karbohidrat, asam lemak, dan peptida sehingga menghasilkan senyawa beraroma yang dapat dideteksi nyamuk.

Penelitian menunjukkan bahwa komposisi aroma kulit setiap orang berbeda. Salah satu kelompok senyawa yang berperan adalah asam karboksilat.

Dalam penelitian terhadap 64 orang, para ilmuwan menggunakan potongan nilon yang telah dikenakan responden selama beberapa jam untuk menangkap aroma kulit mereka. Sampel tersebut kemudian diperhadapkan dengan nyamuk.

Ad Space

Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan daya tarik yang cukup mencolok. Individu dengan kadar asam karboksilat lebih tinggi cenderung lebih disukai nyamuk.

Menariknya, tingkat daya tarik tersebut dapat relatif konsisten dalam jangka panjang. Artinya, kecenderungan seseorang menjadi sasaran nyamuk bukan semata-mata akibat apa yang baru saja dimakan atau dilakukan.

Bakteri Kulit Juga Berpengaruh

Mikrobioma atau kumpulan mikroorganisme yang hidup di kulit turut diduga memengaruhi aroma tubuh manusia.

Penelitian mengenai nyamuk malaria menemukan bahwa individu yang lebih menarik bagi nyamuk memiliki komposisi bakteri kulit yang berbeda dibandingkan mereka yang kurang menarik.

Ad Space

Bakteri tersebut berperan dalam menghasilkan berbagai senyawa yang membentuk aroma tubuh. Tanpa aktivitas mikroorganisme di kulit, keringat manusia sendiri sebenarnya tidak menghasilkan bau yang sama.

Faktor genetik juga tampaknya memiliki peran. Penelitian terhadap pasangan kembar menunjukkan bahwa kembar identik cenderung memiliki tingkat daya tarik yang lebih mirip bagi nyamuk dibandingkan kembar tidak identik.

Temuan ini mengindikasikan bahwa karakteristik tubuh yang membuat seseorang lebih mudah ditemukan nyamuk kemungkinan sebagian dipengaruhi faktor keturunan.

Bentol Besar Bukan Berarti Lebih Sering Digigit

Ada satu hal lain yang sering membuat seseorang merasa dirinya menjadi “magnet nyamuk”, yakni ukuran reaksi kulit setelah digigit.

Ad Space

Respons setiap orang terhadap gigitan nyamuk tidak sama. Ada orang yang mengalami bentol besar dan gatal selama berhari-hari, sementara orang lain hanya memiliki titik merah kecil atau bahkan hampir tidak menunjukkan tanda apa pun.

Faktor genetik yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh diketahui dapat memengaruhi reaksi terhadap gigitan nyamuk. Beberapa wilayah genetik yang berhubungan dengan respons tersebut juga berkaitan dengan kecenderungan alergi.

Akibatnya, seseorang yang mengalami reaksi kulit lebih kuat mungkin merasa dirinya jauh lebih sering digigit, meskipun jumlah gigitan yang diterimanya belum tentu lebih banyak.

Tetap Perlu Melindungi Diri

Kemampuan nyamuk dalam menemukan manusia dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, mulai dari CO2 dalam napas, panas tubuh, aktivitas fisik, keringat, aroma kulit, mikrobioma, hingga faktor genetik.

Ad Space

Jadi, istilah “darah manis” sebenarnya tidak menggambarkan alasan seseorang lebih sering menjadi sasaran nyamuk.

Meski tingkat ketertarikan setiap orang berbeda, tidak ada manusia yang sepenuhnya berada di luar radar nyamuk. Karena itu, perlindungan seperti menggunakan penolak nyamuk, mengenakan pakaian yang menutup kulit, serta menghindari tempat yang banyak nyamuk tetap penting, terutama di wilayah yang memiliki risiko penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.

Bagikan: