SEMARANG - Serial horor Korea Selatan The East Palace tengah menjadi perbincangan luas di media sosial. Bukan hanya karena alur ceritanya yang penuh misteri dan visual yang mencekam, tetapi juga karena munculnya berbagai pembahasan yang mengaitkan unsur-unsur dalam serial tersebut dengan ajaran Islam mengenai waktu senja atau menjelang malam.
Dalam serial tersebut, tokoh utama digambarkan memasuki sebuah dimensi yang disebut Gwi, yakni dunia yang dihuni roh-roh gentayangan dan makhluk supranatural. Dunia tersebut divisualisasikan dengan nuansa merah, jingga, kuning, lembayung hingga abu-abu, menghadirkan suasana yang gelap, sunyi, dan penuh ancaman. Warna-warna tersebut kemudian memicu diskusi di kalangan warganet karena dianggap menyerupai spektrum langit saat matahari mulai terbenam.
Sebagian pengguna media sosial menghubungkan penggambaran tersebut dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menganjurkan agar anak-anak tidak dibiarkan berkeliaran ketika matahari mulai terbenam karena pada waktu itu setan disebut sedang bertebaran. Umat Islam juga dianjurkan menutup pintu sambil menyebut nama Allah, menutup wadah makanan dan minuman, serta memperbanyak zikir sebagai bagian dari adab ketika memasuki waktu malam.

Interpretasi tersebut kemudian berkembang lebih jauh. Beberapa unggahan menyebut bahwa warna jingga dan lembayung pada langit senja berkaitan dengan "frekuensi" makhluk gaib atau perubahan energi di alam. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan konsep dunia Gwi dalam serial tersebut. Namun, hingga saat ini klaim tersebut belum memiliki dasar ilmiah yang dapat dibuktikan. Tidak ada penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa perubahan warna langit saat matahari terbenam berkaitan dengan keberadaan makhluk gaib ataupun fenomena supranatural.
Dari sisi ilmiah, perubahan warna langit saat senja dijelaskan melalui fenomena hamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering). Ketika matahari berada rendah di cakrawala, cahaya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal sehingga panjang gelombang berwarna biru lebih banyak tersebar. Akibatnya, warna merah, jingga, dan kuning menjadi lebih dominan terlihat oleh mata manusia. Fenomena ini merupakan proses alam yang telah lama dipahami dalam ilmu fisika atmosfer.

Sementara itu, dalam tradisi Islam, anjuran untuk menjaga anak-anak tetap berada di rumah menjelang malam dipahami oleh para ulama sebagai bagian dari adab dan ikhtiar menjaga keselamatan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa waktu pergantian siang menuju malam merupakan waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak zikir, berdoa, serta menjaga keluarga dari berbagai potensi bahaya, baik yang bersifat fisik maupun yang berkaitan dengan keyakinan agama.
Di sisi lain, The East Palace merupakan karya fiksi yang mengangkat unsur mitologi, legenda, dan cerita rakyat Korea. Dunia Gwi yang ditampilkan dalam serial tersebut adalah bagian dari kreativitas penulis skenario dan tidak dimaksudkan sebagai representasi ajaran agama tertentu. Penggambaran makhluk halus, dunia arwah, maupun simbol-simbol mistis telah lama menjadi bagian dari budaya populer Korea Selatan.
Fenomena viral ini menunjukkan bagaimana sebuah tayangan hiburan dapat memicu beragam interpretasi dari berbagai sudut pandang, mulai dari budaya, sejarah, agama, hingga sains. Namun, para pengamat mengingatkan pentingnya membedakan antara unsur fiksi, keyakinan keagamaan, dan penjelasan ilmiah agar masyarakat tidak mencampuradukkan informasi yang bersifat hiburan dengan fakta yang telah terverifikasi.

Hingga kini, perdebatan mengenai kemiripan penggambaran dunia Gwi dengan hadis tentang waktu senja masih menjadi diskusi di berbagai platform media sosial. Meski demikian, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa serial tersebut secara resmi mengambil inspirasi dari ajaran Islam. Sebagian besar kemiripan yang dibahas publik masih berada pada ranah interpretasi dan pandangan masing-masing individu.

