kanal9.id - Berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng rasanya belum lengkap tanpa mencicipi carica. Buah berwarna kuning cerah ini telah menjadi salah satu ikon kuliner khas Wonosobo yang selalu diburu wisatawan sebagai oleh-oleh.
Sekilas, carica memang tampak seperti pepaya berukuran mini. Namun, buah yang dijuluki "pepaya gunung" ini memiliki karakter yang berbeda. Daging buahnya lebih kenyal dengan perpaduan rasa manis dan sedikit asam yang menyegarkan, sementara bijinya menyerupai buah markisa.
Keunikan carica tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga tempat tumbuhnya. Tanaman ini hanya dapat berkembang dengan baik di kawasan pegunungan dengan ketinggian tertentu dan suhu yang sejuk. Tak heran jika carica menjadi buah langka yang identik dengan Dataran Tinggi Dieng.
Selain di Dieng, tanaman carica juga ditemukan di sejumlah wilayah pegunungan di Amerika Selatan, seperti Chili dan Brasil. Kondisi alam yang khas membuat buah ini sulit dibudidayakan di dataran rendah.
Kehadiran carica di Dieng ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Tanaman ini mulai dikenal masyarakat sekitar pada era 1950-an setelah diperkenalkan oleh warga Belanda. Tak hanya membawa bibit tanaman, mereka juga mengenalkan cara membudidayakan dan mengolah buah tersebut agar memiliki nilai ekonomi.

Awalnya, carica hanya diolah menjadi manisan sederhana. Namun seiring meningkatnya permintaan pasar, masyarakat terus berinovasi. Kini buah khas Dieng itu hadir dalam beragam produk olahan, seperti sirup, selai, dodol, keripik, permen, hingga minuman siap saji yang mudah ditemukan di pusat oleh-oleh.
Di balik cita rasanya yang khas, carica juga memiliki berbagai manfaat. Kandungan enzim pada buah ini dimanfaatkan sebagian masyarakat sebagai pelunak daging, sementara ekstraknya mulai digunakan sebagai bahan baku sejumlah produk perawatan kulit dan kosmetik.
Tanaman carica juga dikenal produktif. Setelah memasuki masa panen, satu pohon mampu menghasilkan buah secara rutin hampir setiap minggu. Bahkan ketika kondisi cuaca mendukung, petani bisa memanen hingga dua kali dalam sepekan. Produktivitas inilah yang menjadikan carica sebagai salah satu komoditas andalan masyarakat Dieng.
Hingga kini, industri olahan carica terus berkembang. Sebagian besar diproduksi oleh pelaku usaha mikro dan rumahan yang tetap mempertahankan cita rasa autentik. Menariknya, banyak produk carica diproses tanpa tambahan bahan pengawet. Meski begitu, produk dalam kemasan plastik dapat bertahan hingga sekitar enam bulan, sedangkan kemasan kaleng mampu disimpan hingga dua tahun.
Bagi masyarakat Dieng, carica bukan sekadar buah khas pegunungan. Lebih dari itu, buah ini telah menjadi identitas daerah sekaligus sumber penghidupan yang menggerakkan perekonomian warga. Sementara bagi wisatawan, membawa pulang olahan carica menjadi cara sederhana untuk membawa sedikit cita rasa dan kenangan dari sejuknya Dataran Tinggi Dieng.


