Joe Kris, Joe Kris
Tim Redaksi

kanal9.id -Di balik suasana tenang yang selama ini menyelimuti kawasan Mata Air Benoyo di Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, tersimpan kegelisahan besar. Sumber mata air yang selama puluhan tahun menjadi penopang kehidupan warga itu kini menunjukkan tanda-tanda krisis. Debit air terus menyusut akibat pendangkalan yang terjadi dari tahun ke tahun, memunculkan kekhawatiran akan masa depan pasokan air bagi masyarakat.

Namun pada Kamis (23/7/2026) malam, suasana di sekitar mata air yang berdekatan dengan Tempat Pemakaman Umum (TPU) tersebut berubah drastis. Gemerlap lampu, alunan musik, dan riuh tepuk tangan warga memecah kesunyian. Sebuah panggung berdiri di tepi kolam, menghadirkan pertunjukan seni yang bukan sekadar hiburan, melainkan menjadi media kampanye penyelamatan sumber mata air.

Acara bertajuk Aluntirtana ini digagas oleh mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Beragam penampilan disuguhkan untuk menarik perhatian masyarakat, mulai dari atraksi drum blek NGK, tari kontemporer, hingga penampilan unik grup Sahita asal Solo yang beranggotakan empat perempuan lanjut usia. Dengan perpaduan tari, nyanyian, dan komedi, mereka berhasil menghibur sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Tak hanya pertunjukan seni, acara juga diwarnai tradisi kungkum di kolam Benoyo yang menambah nuansa budaya sekaligus mempererat hubungan masyarakat dengan sumber air yang telah menjadi bagian dari sejarah kawasan tersebut.

Ketua panitia Aluntirtana, Gabriel Jordan Renaldian, mengatakan kegiatan ini merupakan upaya mengajak masyarakat melihat persoalan lingkungan melalui pendekatan yang lebih kreatif dan menyenangkan.

Ad Space

Menurut Jordan, Mata Air Benoyo bukan hanya penting bagi warga Salatiga, tetapi juga mengalir hingga wilayah Pabelan, Kabupaten Semarang. Karena itu, jika debit air terus menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan di satu daerah, tetapi juga wilayah lain yang bergantung pada aliran tersebut.

"Kalau satu sumber mata air mengalami kekeringan, dampaknya bisa meluas. Karena itu penyelamatan harus dilakukan bersama, dimulai dari hal-hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kawasan resapan air," ujarnya.

Ia mengungkapkan perubahan kondisi Benoyo kini terlihat sangat jelas. Jika dahulu masyarakat bisa langsung melompat ke kolam tanpa rasa khawatir, kini dasar kolam yang semakin dangkal membuat batu-batu besar mudah tersentuh. Kondisi itu menjadi bukti nyata bahwa pendangkalan terus terjadi.

Jordan juga mengingatkan bahwa Salatiga sejak dahulu dikenal sebagai kota yang kaya sumber air. Hal itu bahkan tercermin dari banyaknya nama kawasan yang diawali kata "Kali", seperti Kalicacing, Kalimangkak, Kalinongko, hingga Kalibening. Nama-nama tersebut menjadi penanda sejarah bahwa wilayah tersebut pernah memiliki aliran sungai atau sumber mata air yang melimpah.

Melalui Aluntirtana, panitia berharap kampanye pelestarian lingkungan tidak lagi terasa membosankan. Seni dipilih sebagai bahasa yang mampu menyentuh emosi masyarakat sehingga pesan menjaga mata air lebih mudah diterima oleh semua kalangan, terutama generasi muda.

Ad Space

Pengunjung pun menyambut positif konsep tersebut. Salah satunya, Wisnu, yang mengaku baru pertama kali menyaksikan pertunjukan seni digelar di kawasan Mata Air Benoyo.

"Jarang ada acara seperti ini di Benoyo. Menarik karena bukan hanya menghibur, tapi juga mengingatkan kita bahwa sumber air ini harus dijaga bersama. Semoga kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan," katanya.

Lewat perpaduan seni, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan, Aluntirtana membuktikan bahwa kampanye pelestarian alam tidak selalu harus dilakukan melalui seminar atau aksi bersih-bersih. Di tengah ancaman menyusutnya debit Mata Air Benoyo, panggung sederhana di tepi kolam justru menjadi pengingat bahwa menjaga sumber kehidupan adalah tanggung jawab seluruh masyarakat.


Bagikan: