Helmi, Administrator
Tim Redaksi

SEMARANG – Nama Arya Penangsang menjadi salah satu tokoh yang paling sering disebut dalam sejarah Kesultanan Demak. Sosok yang dikenal sebagai Adipati Jipang Panolan sekaligus penguasa kelima Demak itu dikenang bukan hanya karena keberaniannya di medan perang, tetapi juga karena konflik berdarah yang mengiringi perebutan takhta setelah masa kejayaan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa tersebut.


Menurut sejumlah sumber sejarah, Arya Penangsang lahir di wilayah Jipang sekitar tahun 1505 dengan nama Raden Arya Penangsang. Ia merupakan putra Pangeran Surowiyoto atau Raden Kikin, putra Raja Demak pertama, Raden Patah. Dari garis keturunan tersebut, Arya Penangsang memiliki hubungan langsung dengan keluarga pendiri Kesultanan Demak dan dianggap sebagai salah satu pewaris takhta.


Sejumlah catatan juga menyebut Raden Patah memiliki darah Tionghoa dari ayahnya yang dikenal dengan nama Tan Jin Bun, sehingga garis keturunan tersebut turut diwarisi Arya Penangsang.

Ad Space


Perebutan Takhta Seusai Wafatnya Pati Unus


Pergantian kekuasaan di Kesultanan Demak menjadi awal munculnya konflik di lingkungan keluarga kerajaan. Setelah Sultan Pati Unus wafat, muncul persaingan antara Pangeran Trenggana dan Pangeran Kikin untuk memperebutkan takhta.


Ad Space

Dalam tradisi babad Jawa, Pangeran Trenggana akhirnya naik menjadi Sultan Demak. Sementara itu, Pangeran Kikin tewas terbunuh di tepi sungai dalam sebuah peristiwa yang kemudian dikenang sebagai Sekar Seda ing Lepen, yang berarti "bunga yang gugur di sungai".


Sebagian naskah babad menyebut pembunuhan tersebut dilakukan oleh Raden Mukmin atau Sunan Prawoto, putra Sultan Trenggana, menggunakan pusaka Keris Kiai Setan Kober. Namun, detail mengenai peristiwa ini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan karena lebih banyak bersumber dari literatur babad daripada catatan sejarah kontemporer.


Dendam yang Berujung Perang Saudara

Ad Space


Kematian ayahnya menjadi titik balik kehidupan Arya Penangsang. Setelah diangkat menjadi Adipati Jipang, ia diyakini bertekad membalas kematian sang ayah sekaligus merebut takhta Demak yang menurutnya merupakan hak keluarganya.


Dalam berbagai kisah babad, Arya Penangsang kemudian mengirim orang kepercayaannya untuk membunuh Sunan Prawoto. Peristiwa itu menandai pecahnya konflik terbuka di lingkungan keluarga Kesultanan Demak.


Ad Space

Perseteruan semakin meluas ketika Pangeran Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat, juga menjadi korban. Peristiwa tersebut mendorong munculnya kekuatan-kekuatan baru yang menentang Arya Penangsang.


Di sisi lain, Jaka Tingkir atau Raden Mas Karebet, yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya, mulai tampil sebagai tokoh penting. Setelah melemahnya kekuasaan Demak, ia memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang dan mendirikan Kesultanan Pajang.


Duel yang Menjadi Legenda

Ad Space


Kisah paling terkenal mengenai Arya Penangsang adalah kematiannya dalam duel melawan pasukan Pajang. Menurut tradisi babad, Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara bagi siapa pun yang mampu mengalahkan Arya Penangsang dengan hadiah berupa Hutan Mentaok, yang kelak berkembang menjadi wilayah Kerajaan Mataram.


Sayembara itu dimenangkan oleh Danang Sutawijaya, anak angkat Hadiwijaya, yang kemudian dikenal sebagai pendiri Kesultanan Mataram.


Ad Space

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat Jawa, duel berlangsung sengit di tepi Bengawan Sore. Arya Penangsang disebut terkena tombak pusaka Kiai Plered hingga perutnya robek. Meski terluka parah, ia dikisahkan tetap bertempur dengan melilitkan ususnya menggunakan ikat pinggang.


Legenda kemudian menyebut usus tersebut tanpa sengaja terpotong oleh Keris Kiai Setan Kober yang dibawanya sendiri sehingga Arya Penangsang akhirnya gugur.


Antara Sejarah dan Legenda

Ad Space


Arya Penangsang dikenang sebagai salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Jawa. Ia digambarkan sebagai pemimpin yang pemberani, memiliki kemampuan bertempur yang luar biasa, tetapi juga keras dalam mempertahankan hak atas takhta.


Meski demikian, banyak kisah mengenai kesaktian, duel, maupun kronologi peristiwa berasal dari Babad Tanah Jawi dan tradisi lisan yang memadukan unsur sejarah dengan sastra. Karena itu, para sejarawan membedakan antara fakta sejarah yang dapat diverifikasi dan cerita legenda yang berkembang di tengah masyarakat.


Ad Space

Terlepas dari berbagai versi tersebut, konflik yang melibatkan Arya Penangsang menjadi salah satu peristiwa penting yang menandai berakhirnya dominasi Kesultanan Demak dan membuka jalan bagi lahirnya Kesultanan Pajang, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Mataram.

Bagikan: