Didik, Administrator
Tim Redaksi

Kanal9.id - Pandangan Generasi Z (Gen Z) terhadap kesuksesan karier mulai mengalami perubahan. Jika dulu promosi ke posisi manajerial menjadi target utama, kini banyak pekerja muda lebih memilih pekerjaan yang memberikan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance).

Perubahan pola pikir ini menjadi perhatian perusahaan di berbagai negara. Pasalnya, semakin sedikit karyawan dari kalangan Gen Z yang berminat menempati posisi manajemen, sehingga berpotensi memengaruhi regenerasi kepemimpinan di masa depan.

CEO Enpulse sekaligus pakar keterlibatan karyawan, Tomasz Szklarski, mengungkapkan bahwa berdasarkan riset global, hanya sekitar 6 persen Gen Z yang bercita-cita menjadi manajer senior atau pemimpin perusahaan.

"Data global menunjukkan hanya sekitar 6 persen Generasi Z yang ingin mengambil peran sebagai manajer senior atau bos. Bagi organisasi, kondisi ini menjadi tantangan besar," kata Szklarski, seperti dikutip dari Euronews, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, salah satu alasan utama rendahnya minat Gen Z menjadi manajer adalah besarnya tanggung jawab yang harus dipikul. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah anggota tim yang dipimpin seorang manajer meningkat cukup signifikan.

Ad Space

Jika sebelumnya seorang manajer rata-rata membawahi enam karyawan, kini jumlah tersebut bisa mencapai sekitar 12 orang. Kondisi itu membuat beban pekerjaan manajer semakin berat karena harus memenuhi target perusahaan sekaligus membina, memotivasi, dan menjaga kesejahteraan tim.

Szklarski menilai Gen Z melihat secara langsung besarnya tekanan yang dihadapi para manajer. Karena itu, mereka lebih memilih pekerjaan yang memungkinkan memiliki waktu luang, fleksibilitas, dan kualitas hidup yang lebih baik dibanding mengejar jabatan tinggi.

"Generasi Z memahami dengan baik konsekuensi menjadi seorang manajer. Mereka mempertimbangkan keseimbangan hidup dan pekerjaan dibanding pengorbanan yang harus dilakukan untuk menduduki posisi tersebut," ujarnya.

Fenomena ini dinilai bukan hanya menjadi tantangan bagi perusahaan, tetapi juga bagi dunia kerja secara global, khususnya di Eropa yang tengah menghadapi penurunan jumlah tenaga kerja akibat perubahan demografi.

Szklarski memperingatkan, jika perusahaan gagal menyiapkan calon pemimpin baru, maka efektivitas organisasi dapat terganggu karena semakin sedikit orang yang bersedia mengambil tanggung jawab memimpin tim.

Ad Space

Di sisi lain, meski teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkembang pesat dan mulai mengotomatisasi berbagai pekerjaan, ia menilai AI belum mampu menggantikan peran seorang manajer sepenuhnya.

Menurutnya, kepemimpinan tetap membutuhkan kemampuan yang bersifat manusiawi, seperti empati, membangun hubungan dengan tim, memberikan motivasi, hingga mengambil keputusan yang mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Keterampilan tersebut dinilai masih sulit digantikan oleh teknologi AI.

Bagikan: