Joe Kris, Administrator
Tim Redaksi

kanal9.id - Cedera olahraga bisa datang kapan saja. Salah gerakan saat latihan, terjatuh ketika bertanding, atau terlalu memaksakan tubuh dapat membuat otot terasa nyeri, kram, hingga mengalami keseleo.

Penanganannya tentu tidak cukup hanya dengan beristirahat. Dalam kondisi tertentu, cedera membutuhkan pemeriksaan dokter, rehabilitasi, serta terapi untuk membantu mengembalikan fungsi tubuh.

Salah satu terapi pendukung yang mulai digunakan dalam pemulihan cedera olahraga adalah akupunktur.

Akupunktur dilakukan dengan menusukkan jarum berukuran sangat kecil pada titik-titik tertentu di tubuh. Dalam akupunktur medik, tindakan ini dilakukan berdasarkan pertimbangan anatomi, fisiologi, patologi, serta prinsip kedokteran berbasis bukti.

Dokter spesialis akupunktur medik subspesialis analgesi dan anestesi dari RS Pondok Indah - Pondok Indah, R. Handaya Dipanegara, mengatakan akupunktur dapat menjadi bagian dari terapi kombinasi pada pasien dengan cedera olahraga.

Ad Space

Terapi tersebut antara lain dapat membantu mengurangi rasa nyeri, merelaksasi otot yang tegang, meredakan pegal, serta mendukung pemulihan fleksibilitas jaringan dan pergerakan sendi.

Lantas, bagaimana sebenarnya jarum kecil bisa membantu proses pemulihan setelah cedera?

Handaya menjelaskan, ketika jarum akupunktur ditusukkan ke tubuh, muncul rangsangan mekanik ringan pada jaringan. Rangsangan tersebut kemudian memicu respons dari sel saraf, sel imun, dan berbagai mediator yang berada di sekitar area penusukan.

Respons tubuh itu dapat memengaruhi pelepasan sejumlah zat, termasuk histamin, prostaglandin, dan nitric oxide atau NO.

Salah satu efeknya adalah pelebaran pembuluh darah di sekitar area yang mendapat terapi. Kondisi tersebut membuat aliran darah ke jaringan menjadi lebih baik.

Ad Space

"Proses tersebut memicu pelepasan zat kimia seperti histamin, prostaglandin, dan nitric oxide (NO). Mediator ini berperan dalam pelebaran pembuluh darah sehingga aliran darah di sekitar area penusukan meningkat," ujar Handaya dalam keterangan tertulis.

Aliran darah yang lebih lancar membantu membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan yang sedang membutuhkan perbaikan. Sirkulasi yang meningkat juga membantu tubuh membuang sisa metabolisme dari jaringan.

Pada cedera yang melibatkan otot, tendon, maupun ligamen, berbagai proses tersebut dapat mendukung mekanisme pemulihan alami tubuh. Salah satunya berkaitan dengan pembentukan kolagen yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan dan elastisitas jaringan.

Namun, akupunktur bukan berarti menggantikan pemeriksaan dan penanganan medis. Terapi ini lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari rangkaian pemulihan, sesuai kondisi pasien.

Kapan akupunktur bisa dilakukan setelah cedera?

Ad Space

Handaya mengatakan terapi akupunktur dapat dimulai setelah pertolongan pertama diberikan atau berdasarkan anjuran dokter. Waktu pemberian terapi perlu mempertimbangkan kondisi cedera dan kebutuhan masing-masing pasien.

Jadi, tidak ada patokan bahwa semua orang yang mengalami cedera harus mendapatkan jumlah sesi akupunktur yang sama.

"Jumlah dan durasi sesi akupunktur untuk cedera olahraga juga akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien," jelasnya.

Karena itu, jika cedera olahraga menimbulkan nyeri yang menetap, pembengkakan, keterbatasan gerak, atau keluhan lain yang mengganggu aktivitas, sebaiknya jangan buru-buru mencoba terapi sendiri.

Pemeriksaan tenaga medis tetap menjadi langkah penting untuk mengetahui jenis dan tingkat keparahan cedera. Setelah itu, dokter dapat menentukan apakah akupunktur maupun terapi lainnya sesuai untuk membantu proses pemulihan.

Ad Space


Bagikan: