JAKARTA — Fenomena anak yang bertindak atau berpikir jauh lebih dewasa dibanding usianya atau yang dikenal dengan istilah parentification mendapat sorotan dari ahli psikologi. Sikap terlalu dewasa pada anak rupanya dapat memberikan dampak buruk pada perkembangan emosional mereka.
Psikolog menjelaskan bahwa kondisi ini sering kali dipicu oleh beban tanggung jawab berlebih yang diberikan orang tua secara tidak sengaja.
Anak yang dipaksa menjadi penengah konflik keluarga atau mengambil peran pengasuh cenderung kehilangan masa-masa bahagianya.

Secara kasat mata anak tampak mandiri dan bijak, namun di dalam diri mereka tersimpan potensi kecemasan serta stres yang menumpuk.
Dampak jangka panjang dari kondisi ini dapat membuat anak kesulitan memahami batas emosional dan kebutuhan pribadinya saat dewasa.

Mereka cenderung tumbuh menjadi pribadi yang terlalu perfectionist dan selalu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain.
Psikolog mengingatkan para orang tua untuk tidak melibatkan anak dalam urusan atau masalah finansial dan rumah tangga orang dewasa.
Anak perlu diberikan ruang yang cukup untuk bermain, bereksplorasi, serta melakukan kesalahan sesuai dengan tahap usianya.

Dukungan emosional dan batasan peran yang jelas dari orang tua sangat krusial untuk menjaga tumbuh kembang jiwa anak tetap sehat.
Jika anak menunjukkan gejala kelelahan emosional akibat beban mental, pendampingan dari profesional sangat disarankan.
