kanal9.id – Proyek tanggul laut raksasa atau *giant sea wall* di Pantai Utara (Pantura) Jawa diproyeksikan memasuki babak baru. Pemerintah menargetkan peletakan batu pertama (*ground breaking*) dilakukan pada Oktober 2026 dengan Teluk Semarang diusulkan menjadi lokasi prioritas pembangunan.
Meski demikian, hingga kini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) masih menunggu kepastian desain teknis proyek dari Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ).
Kepala Bappeda Jawa Tengah, Yusmanto, mengatakan pihaknya belum menerima *detail engineering design* (DED), termasuk bentuk konstruksi, panjang tanggul, hingga titik pasti pembangunan.
Giant sea wall ini rencananya akan *ground breaking* sekitar bulan Oktober. Tetapi sampai sekarang kami belum mendapat kepastian bentuk konstruksinya seperti apa, titiknya di mana, berapa kilometernya, semua itu masih menunggu," ujar Yusmanto kepada wartawan, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, Pemprov Jateng telah mengusulkan agar pembangunan dimulai dari Teluk Semarang karena kawasan tersebut menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap banjir rob dan penurunan muka tanah.
Setelah proyek di Teluk Semarang berjalan, pembangunan diusulkan berlanjut ke kawasan pesisir Demak. Tahap berikutnya menyasar wilayah Pantura bagian barat Jawa Tengah, yakni Kabupaten dan Kota Pekalongan, hingga Tegal.
Yusmanto menjelaskan, wilayah Kendal dan Batang belum menjadi prioritas karena dinilai relatif lebih terlindungi berkat keberadaan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang telah memiliki sistem perlindungan pesisir.
"Kalau Kendal dan Batang relatif aman karena sudah dibentengi kawasan ekonomi khusus. Prioritas berikutnya adalah Pekalongan, baik kabupaten maupun kota, kemudian Tegal," katanya.
Namun, membangun tanggul laut raksasa di pesisir Jawa Tengah bukan perkara mudah. Hingga kini, berbagai aspek teknis masih terus dikaji, terutama karakteristik dasar laut di Teluk Semarang yang didominasi lumpur.
Kondisi tersebut membuat pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan metode konstruksi agar tanggul benar-benar kokoh dan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Yusmanto menyebut pengalaman pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak menjadi pelajaran penting. Saat itu, jutaan batang bambu digunakan sebagai pondasi untuk menahan tanah lunak, namun permukaan tanah tetap mengalami penurunan.
"Mereka masih belajar juga dari proyek Jalan Tol Semarang-Demak yang menggunakan jutaan batang bambu. Sudah diuruk, tetapi masih terus mengalami penurunan. Ini menjadi pelajaran penting dalam pembangunan giant sea wall," jelasnya.
Selain persoalan pondasi, lokasi pembangunan yang direncanakan berada sekitar 12 mil dari garis pantai juga menghadirkan tantangan tersendiri. Hingga kini, pemerintah masih mengkaji model konstruksi yang paling sesuai, mulai dari reklamasi pasir seperti di Dubai, tanggul batu masif, hingga kombinasi teknologi yang diterapkan pada proyek tol Semarang-Demak.
"Apakah nanti memakai pasir seperti di Dubai, bendungan batu, atau gabungan teknologi lainnya, semuanya masih dikaji karena setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda," ujarnya.
Di sisi lain, ancaman yang dihadapi kawasan pesisir Jawa Tengah terus membesar akibat penurunan muka tanah yang berlangsung setiap tahun.
Data Bappeda menunjukkan laju penurunan tanah di pesisir Semarang mencapai rata-rata 12 sentimeter per tahun. Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi di Demak dan Pekalongan, di mana tanah ambles hingga sekitar 16 sentimeter per tahun.
Fenomena tersebut diperparah dengan kenaikan permukaan air laut yang terus berlangsung, sehingga risiko banjir rob semakin tinggi.
"Jadi tanahnya terus ambles, sementara lautnya naik. Yang paling parah ada di kawasan Semarang, Demak, Pekalongan sampai Tegal," kata Yusmanto.
Karena itu, proyek *giant sea wall* diharapkan menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk melindungi kawasan Pantura Jawa Tengah dari ancaman rob, abrasi, serta dampak perubahan iklim yang kian nyata dirasakan masyarakat pesisir. Pemerintah kini tinggal menunggu kepastian desain teknis dan skema pembangunan sebelum proyek strategis nasional tersebut resmi dimulai pada Oktober mendatang.