Helmi, Administrator
Tim Redaksi

Semarang – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang terpaksa mengurangi jumlah armada yang beroperasi setelah lima unit mobil pemadam untuk sementara dikandangkan. Langkah tersebut dilakukan agar armada yang masih aktif tetap dapat beroperasi hingga akhir tahun dengan dukungan anggaran yang tersedia.


Meski jumlah armada berkurang, Damkar memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu. Seluruh personel tetap disiagakan selama 24 jam dan armada yang masih beroperasi dioptimalkan untuk menjangkau seluruh wilayah Kota Semarang ketika terjadi kebakaran maupun keadaan darurat lainnya.


Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan Pemerintah Kota Semarang menjadi penyebab utama berkurangnya operasional armada pemadam kebakaran tersebut. Dampak kebijakan itu mulai dirasakan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk Dinas Pemadam Kebakaran yang harus melakukan penyesuaian penggunaan armada di tengah meningkatnya kebutuhan pelayanan kepada masyarakat.

Ad Space


Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, menjelaskan bahwa pagu anggaran Damkar pada tahun 2026 mencapai sekitar Rp41 miliar. Namun sebagian besar anggaran tersebut telah dialokasikan untuk belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji dan tunjangan bagi sekitar 330 personel.


Setelah kebutuhan rutin tersebut dipenuhi, anggaran yang tersisa untuk mendukung operasional hanya sekitar Rp6 miliar. Dana tersebut harus digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pemeliharaan kendaraan, pengadaan suku cadang, pembelian bahan bakar, perawatan peralatan pemadam, hingga perlengkapan keselamatan petugas.


Ad Space

Dengan anggaran yang terbatas, Damkar harus menetapkan skala prioritas. Kendaraan yang masih dalam kondisi terbaik dipertahankan untuk operasional harian, sedangkan lima unit lainnya dihentikan sementara agar biaya perawatan dapat ditekan dan anggaran tetap mencukupi hingga akhir tahun.


Di tengah keterbatasan tersebut, jumlah kejadian kebakaran justru menunjukkan tren peningkatan. Sepanjang Juni 2026 tercatat 44 peristiwa kebakaran di Kota Semarang. Sementara hingga 20 Juli 2026, jumlah kejadian sudah mendekati 50 kasus atau hampir melampaui total kejadian pada bulan sebelumnya.


Artinya, petugas Damkar kini rata-rata menangani dua hingga tiga laporan kebakaran setiap hari. Kondisi tersebut menuntut kesiapan personel dan armada yang tersisa agar tetap mampu memberikan respons cepat kepada masyarakat.

Ad Space


Tidak hanya menangani kebakaran, Damkar juga dibebani meningkatnya layanan penyelamatan nonkebakaran. Salah satu yang paling mendominasi adalah evakuasi ular yang jumlah laporannya terus bertambah dari waktu ke waktu.


Hingga pertengahan Juli 2026, Damkar Kota Semarang telah menerima sekitar 1.700 laporan evakuasi ular. Selain itu, petugas juga menangani penyelamatan hewan, membuka pintu rumah yang terkunci, membantu warga yang terjebak di ruang tertentu, hingga berbagai kondisi darurat lainnya.


Ad Space

Untuk mengurangi risiko kebakaran, Damkar terus mengoptimalkan langkah pencegahan melalui pemeriksaan sistem proteksi kebakaran pada gedung-gedung, sosialisasi kepada masyarakat, edukasi penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), serta pelatihan mitigasi kebakaran di berbagai lingkungan.


Sementara itu, armada yang masih aktif terus menjalani pemeriksaan rutin setiap pergantian regu. Seluruh komponen penting, mulai dari mesin, pompa air, sistem pengereman, lampu rotator, sirene, hingga perlengkapan keselamatan diperiksa secara berkala guna memastikan kendaraan selalu siap digunakan ketika terjadi keadaan darurat.


Pada tahun ini, Damkar Kota Semarang juga memperoleh tambahan tiga kendaraan baru berupa mobil rescue, mobil pemadam berkapasitas 800 liter, dan mobil sosialisasi. Kehadiran armada tersebut diharapkan dapat memperkuat pelayanan kepada masyarakat, meski belum sepenuhnya mampu menutupi keterbatasan akibat lima kendaraan yang harus dihentikan operasionalnya.

Ad Space


Di tengah keterbatasan anggaran, Damkar Kota Semarang menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Namun meningkatnya jumlah kebakaran dan tingginya permintaan layanan penyelamatan menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan sumber daya yang lebih terbatas dibanding kebutuhan di lapangan.

Bagikan: