kanal9.id - Anak petani identik dengan pekerjaan di sawah. Namun, bagi Nurul Arifin, pemuda asal Desa Bandungrejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, latar belakang sebagai anak petani justru menjadi inspirasi untuk menghadirkan inovasi yang memadukan teknologi dengan dunia pertanian.
Di usia 25 tahun, lulusan Teknik Elektro itu memilih jalan yang tak biasa. Alih-alih berkarier di perusahaan atau industri, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya untuk meneruskan profesi sang ayah sebagai petani. Bedanya, Arifin membawa bekal ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tantangan pertanian modern.
Dari tangan kreatifnya lahirlah aplikasi bernama Ar Farm, sebuah sistem pemantauan pertanian berbasis internet yang memungkinkan petani mengawasi kondisi tanaman secara real time hanya melalui telepon pintar. Berbagai informasi penting, mulai dari kadar nutrisi, kelembapan media tanam hingga suhu lingkungan, dapat dipantau selama 24 jam tanpa harus terus berada di lahan.
Menurut Arifin, teknologi tersebut dibuat untuk memudahkan petani dalam merawat tanaman sekaligus meminimalkan risiko kesalahan dalam pemberian air maupun nutrisi.
"Melalui aplikasi ini kita bisa memonitor kondisi tanaman dari handphone. Kelembapan media tanam, nutrisi hingga suhu semuanya tercatat dalam bentuk grafik sehingga kita tahu apa yang dibutuhkan tanaman," ujarnya.

Inovasi tersebut kini diterapkan pada budidaya melon menggunakan dua metode tanam modern, yakni sistem polybag dan hidroponik. Keduanya sama-sama tidak menggunakan tanah sebagai media tanam.
Pada sistem polybag, Arifin memanfaatkan kokofiber atau serat dari limbah kulit kelapa sebagai media tanam yang dipadukan dengan sistem irigasi tetes atau drip irrigation. Sementara itu, metode hidroponik sepenuhnya menggunakan media air yang telah dicampur nutrisi sesuai kebutuhan tanaman.
Seluruh proses penyiraman dan pemberian nutrisi dikendalikan secara otomatis melalui mesin kontrol yang terhubung dengan sensor. Ketika tanaman membutuhkan air atau nutrisi, sistem akan bekerja secara otomatis berdasarkan data yang diterima dari berbagai sensor di greenhouse.
Teknologi tersebut diterapkan di dalam greenhouse berukuran sekitar 21 meter x 7,5 meter. Di lokasi itu terdapat sekitar 150 tanaman melon dengan sistem polybag dan fasilitas hidroponik yang mampu menampung hingga 400 tanaman.
Hasil uji coba awal menunjukkan prospek yang menjanjikan. Tanaman melon dengan sistem polybag telah memasuki fase berbuah dan tinggal menunggu waktu panen. Sementara tanaman hidroponik mulai berbunga dan sebagian telah menghasilkan buah.

Arifin mengaku bersyukur karena inovasi yang dikembangkannya mampu memberikan hasil yang memuaskan. Tingkat keberhasilan uji coba mencapai sekitar 80 persen. Meski masih ada beberapa tanaman yang terserang penyakit, sebagian besar tumbuh sehat dan berkembang sesuai harapan.
"Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan. Sekitar 80 persen berhasil dan untuk sistem drip tetes diperkirakan dua minggu lagi sudah bisa dipanen," katanya.
Kisah Nurul Arifin menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi tidak selalu lahir dari kota-kota besar atau perusahaan rintisan. Dari sebuah desa di Demak, seorang anak petani berhasil menunjukkan bahwa inovasi dapat tumbuh dari kepedulian terhadap profesi orang tua dan keinginan untuk mempermudah kehidupan para petani.
Di tengah tantangan regenerasi petani di Indonesia, langkah Arifin menjadi inspirasi bahwa generasi muda tidak harus meninggalkan sektor pertanian. Dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, digitalisasi, dan teknologi Internet of Things (IoT), pertanian dapat berkembang menjadi sektor yang modern, efisien, produktif, sekaligus menjanjikan bagi masa depan.
