SEMARANG — Di tengah permukiman Kampung Bugen, Tlogosari Kulon, Semarang, berdiri sebuah rumah kayu yang menyimpan jejak kelam sekaligus heroik perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Rumah milik almarhum Haji Mustofa itu menjadi saksi gugurnya 74 pejuang dalam pertempuran melawan pasukan Belanda pada 1946. Hingga kini, sejumlah lubang bekas tembakan masih terlihat pada bagian dinding kayu rumah tersebut.
Peristiwa itu terjadi ketika Kampung Bugen dalam kondisi kosong setelah warga mengungsi akibat situasi perang. Rumah Haji Mustofa kemudian digunakan sebagai tempat berlindung sekaligus markas pertahanan para pejuang dari kelompok Laskar Sabilillah dan Hizbullah.

Berdasarkan keterangan warga setempat, sebanyak 74 pejuang berada di rumah tersebut ketika pasukan Belanda mengetahui keberadaan mereka. Rumah kemudian diserang menggunakan senjata berat hingga para pejuang yang berada di dalamnya gugur.
Sebuah penelitian Universitas Katolik Soegijapranata Semarang juga mencatat bahwa sekitar 74 anggota laskar Hizbullah dan Fisabilillah gugur dalam penyerbuan tentara Belanda di sebuah rumah berdinding kayu jati di Kampung Bugen pada 1946.

Yang tersisa dari peristiwa tersebut bukan hanya catatan sejarah. Dinding rumah yang dipenuhi lubang peluru menjadi bukti fisik bahwa pertempuran pernah berlangsung di tempat itu.
Warga memilih mempertahankan bagian luar rumah dalam kondisi aslinya. Meski bagian dalam telah mengalami perbaikan, lubang-lubang pada dinding sengaja dibiarkan terlihat agar jejak sejarah tidak hilang ditelan waktu.
Para pejuang yang gugur kemudian dikenang sebagai syuhada. Kawasan tersebut juga memiliki Makam Syuhada yang menjadi salah satu penanda sejarah perjuangan di Kampung Bugen.

Namun, kisah 74 pejuang ini belum banyak diketahui masyarakat luas. Keterbatasan sumber tertulis turut membuat sejarah Kampung Bugen berisiko semakin terlupakan. Penelitian mengenai kawasan tersebut bahkan menyebut upaya warga dalam menjaga rumah dan makam sebagai bagian dari usaha mempertahankan ingatan kolektif tentang perjuangan melawan kolonialisme.
Kini, rumah tua itu bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Lubang-lubang peluru yang masih menempel di dindingnya menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia juga dipertahankan melalui pengorbanan orang-orang yang namanya mungkin tidak banyak tercatat dalam buku sejarah.

Dari Kampung Bugen, jejak 74 syuhada mengajarkan satu hal sederhana: sejarah tidak selalu tersimpan di monumen besar. Kadang, ia bertahan di balik dinding rumah sederhana yang masih menyimpan bekas luka perang.
Dan selama jejak itu dirawat serta diceritakan kembali, perjuangan mereka tidak akan benar-benar hilang.
