Kanal9.id – Menjaga kebersihan rumah tidak selalu menjamin kualitas udara di dalam ruangan tetap sehat. Sebab, sejumlah aktivitas sehari-hari justru dapat menghasilkan polutan berbahaya yang tidak terlihat maupun tercium oleh penghuni rumah.
Jika terhirup secara terus-menerus, partikel dan zat kimia tertentu berpotensi mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan. Paparan dalam jangka panjang juga dapat memicu alergi, sakit kepala, hingga memperburuk kondisi penderita asma.
Ketua Departemen Penyakit Pernapasan, Perawatan Kritis, Kedokteran Tidur, Alergi, dan Transplantasi Paru di Artemis Hospital, Gurugram, India, dr Prashant Saxena, mengingatkan bahwa pencemaran udara tidak hanya terjadi di luar ruangan.
Dikutip dari Hindustan Times, Saxena menjelaskan bahwa udara di dalam rumah juga berpotensi mengandung berbagai polutan yang luput dari perhatian.
"Rumah merupakan tempat yang aman, terutama ketika tingkat polusi udara di luar ruangan semakin meningkat. Namun, udara di dalam rumah juga bisa mengandung polutan berbahaya yang sering kali tidak terlihat," jelasnya.

Ia menambahkan, paparan polutan dalam waktu lama dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
"Paparan jangka panjang dapat menyebabkan masalah pernapasan, alergi, sakit kepala, dan gangguan kesehatan lainnya," imbuh Saxena.
Lantas, apa saja sumber pencemaran udara yang sering ditemukan di dalam rumah? Berikut empat di antaranya.
1. Asap dari Kegiatan Memasak
Aktivitas memasak ternyata menjadi salah satu sumber polusi udara dalam ruangan. Proses menggoreng dan memanggang makanan dapat menghasilkan asap serta partikel halus yang menyebar ke udara.

Partikel berukuran kecil tersebut berpotensi masuk ke paru-paru ketika terhirup. Selain itu, penggunaan kompor gas juga dapat menghasilkan nitrogen dioksida yang berisiko menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan.
"Memasak, terutama menggoreng dan memanggang, menghasilkan asap dan partikel halus yang bisa masuk ke paru-paru. Nitrogen dioksida juga dihasilkan oleh kompor gas dan dapat mengiritasi saluran pernapasan," ungkap Saxena.
Untuk mengurangi risiko tersebut, penghuni rumah disarankan menggunakan kipas pengisap asap atau exhaust fan. Ventilasi dapur juga perlu dipastikan berfungsi dengan baik agar asap dan polutan tidak menumpuk di dalam ruangan.
2. Cairan Pembersih dan Pengharum Ruangan
Penggunaan cairan pembersih, pengharum ruangan, hingga lilin aromaterapi sering dianggap sebagai bagian dari upaya menciptakan rumah yang nyaman.

Namun, beberapa produk tersebut justru dapat melepaskan senyawa organik volatil atau volatile organic compounds (VOC) ke udara.
Paparan VOC dapat memicu iritasi mata, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan. Risiko tersebut perlu lebih diperhatikan oleh orang yang memiliki riwayat asma.
"Banyak produk pembersih rumah tangga, pengharum ruangan, dan lilin beraroma melepaskan bahan kimia yang dikenal sebagai senyawa organik volatil. Bahan-bahan ini dapat menyebabkan iritasi mata, sakit kepala, serta kesulitan bernapas, terutama pada penderita asma," kata Saxena.
Ia menyarankan masyarakat memilih produk pembersih tanpa pewangi apabila memungkinkan. Penggunaan pengharum ruangan dalam bentuk semprotan juga sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan.
3. Debu dan Tungau pada Karpet serta Furnitur

Sumber polusi berikutnya berasal dari debu yang menumpuk pada berbagai perlengkapan rumah tangga.
Debu tidak hanya ditemukan di lantai, meja, atau sudut ruangan. Kasur, tirai, karpet, hingga furnitur yang dilapisi kain juga dapat menjadi tempat berkumpulnya debu, serbuk sari, dan tungau.
Kondisi tersebut berpotensi memicu reaksi alergi pada penghuni rumah. Gejalanya dapat berupa bersin berulang, batuk, hingga gangguan pernapasan.
"Kasur, tirai, karpet, dan furnitur berlapis kain dapat memerangkap debu, serbuk sari, serta tungau debu yang bisa menyebabkan bersin, batuk, dan reaksi alergi," tuturnya.
Untuk mengatasinya, Saxena menganjurkan pembersihan rumah secara rutin menggunakan penyedot debu. Seprai dan tirai juga perlu dicuci secara berkala, termasuk membersihkan bagian rumah yang sering terlewat saat kegiatan bersih-bersih.

4. Dinding Lembap dan Jamur
Kondisi rumah yang lembap juga dapat menjadi pemicu buruknya kualitas udara dalam ruangan. Kebocoran pipa, sirkulasi udara yang tidak memadai, serta permukaan yang terus-menerus basah dapat memicu pertumbuhan jamur.
Jamur yang berkembang di dinding atau bagian rumah lainnya dapat menghasilkan spora yang menyebar melalui udara. Jika terhirup, spora tersebut berpotensi memperburuk gejala alergi maupun asma.
"Kebocoran pipa, ventilasi yang tidak memadai, dan kelembapan dapat mendorong pertumbuhan jamur. Spora yang dihasilkan jamur bisa memperburuk gejala asma atau alergi," jelas Saxena.
Karena itu, kebocoran pada saluran air sebaiknya segera diperbaiki. Penghuni rumah juga perlu menjaga kelembapan ruangan dan memastikan permukaan yang basah segera dikeringkan agar jamur tidak berkembang.

Kebersihan Rumah Harus Diikuti Kualitas Udara yang Baik
Saxena mengingatkan bahwa menciptakan lingkungan rumah yang sehat tidak cukup hanya dengan menyapu, mengepel, atau membersihkan debu yang terlihat.
Penghuni rumah juga perlu mengenali berbagai sumber polusi tersembunyi yang berasal dari aktivitas sehari-hari. Perbaikan ventilasi, pemilihan produk rumah tangga, serta pengendalian kelembapan menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas udara.
"Menjaga rumah tetap sehat bukan hanya soal membersihkan kotoran. Kamu juga perlu mengenali sumber polusi yang tersembunyi dan mengurangi paparan sehari-hari terhadap polutan tersebut," pungkasnya.
Dengan memperhatikan empat sumber polusi tersebut, masyarakat diharapkan dapat menciptakan lingkungan tempat tinggal yang tidak hanya bersih secara visual, tetapi juga lebih nyaman dan mendukung kesehatan seluruh anggota keluarga.