Helmi, Administrator
Tim Redaksi

SEMARANG - Sebuah foto hitam putih yang diabadikan lebih dari seabad lalu menjadi saksi berakhirnya sebuah kekaisaran yang pernah menguasai tiga benua. Di gerbang Istana Dolmabahçe, Istanbul, tampak para prajurit berdiri tegak memberikan penghormatan terakhir kepada Sultan Mehmed VI (Vahdeddin), penguasa terakhir Kesultanan Utsmani.


Dengan langkah perlahan dan kepala sedikit menunduk, sang Sultan meninggalkan istana yang selama bertahun-tahun menjadi pusat pemerintahan Dinasti Utsmani. Tidak ada lagi kemegahan upacara kerajaan. Yang tersisa hanyalah suasana sunyi dan tatapan haru para prajurit yang menyaksikan berakhirnya sebuah era.


Foto tersebut memperlihatkan para pengawal dan pejabat kerajaan mengangkat tangan memberikan salam hormat ketika Mehmed VI berjalan melewati gerbang istana. Ekspresi mereka menggambarkan kesedihan sekaligus penghormatan kepada pemimpin yang akan meninggalkan tanah airnya untuk selamanya.

Ad Space


Dari Istana Dolmabahçe, Mehmed VI menuju Pelabuhan Istanbul. Di sana telah menunggu kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris HMS Malaya yang membawanya meninggalkan Turki setelah Kesultanan Utsmani dihapuskan oleh Majelis Nasional Turki.


Kepergian Mehmed VI bukan sekadar perpindahan seorang kepala negara. Peristiwa itu menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Utsmani yang telah memerintah selama lebih dari enam abad sejak didirikan oleh Osman I pada akhir abad ke-13.


Ad Space

Bagi banyak prajurit yang berdiri di halaman istana hari itu, penghormatan terakhir tersebut bukan hanya ditujukan kepada seorang Sultan, melainkan kepada berakhirnya sebuah institusi yang selama ratusan tahun menjadi simbol politik dan peradaban dunia Islam.


Setelah meninggalkan Istanbul pada 17 November 1922, Mehmed VI menjalani pengasingan di Malta sebelum menetap di Sanremo, Italia. Ia wafat pada tahun 1926 tanpa pernah kembali menginjakkan kaki di tanah airnya.


Kini, foto bersejarah itu dikenang sebagai salah satu dokumentasi paling emosional dalam sejarah modern Turki. Bukan karena menampilkan peperangan atau kemenangan, melainkan karena mengabadikan detik-detik terakhir seorang Sultan meninggalkan istana, diiringi hormat para prajurit yang menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan berakhirnya sebuah kekaisaran.

Ad Space
Bagikan: