Helmi, Administrator
Tim Redaksi

JAKARTA – Jutaan orang setiap tahun terbang melalui Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa nama bandara tersebut diambil dari sosok pahlawan udara Indonesia yang memiliki kisah luar biasa, bahkan pernah bertempur melawan pasukan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.


Sosok itu adalah Abdul Halim Perdanakusuma, putra kelahiran Sampang, Madura, yang dikenal sebagai salah satu pelopor Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Jauh sebelum Indonesia memiliki angkatan udara yang kuat, Halim telah lebih dulu mengukir prestasi sebagai penerbang dan navigator militer di kancah internasional.


Saat Perang Dunia II berkecamuk, Halim bergabung dengan Royal Canadian Air Force (RCAF) dan bertugas dalam operasi yang berada di bawah komando Royal Air Force (RAF) Inggris. Sebagai navigator pesawat pengebom, ia ikut menjalankan berbagai misi Sekutu menyerang sasaran-sasaran militer Jerman Nazi di Eropa.

Ad Space


Kemampuan, keberanian, dan ketenangannya di udara membuat Halim dikenal luas di kalangan rekan-rekannya. Sejumlah kisah menyebut ia dijuluki "The Black Mascot", karena pesawat yang ditumpanginya hampir selalu berhasil kembali ke pangkalan dengan selamat setelah menjalankan misi berbahaya.


Pulang ke Tanah Air Demi Kemerdekaan


Ad Space

Meski memiliki peluang berkarier di luar negeri setelah perang usai, Halim memilih kembali ke Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945.


Ia bergabung dengan AURI dan ikut membangun kekuatan udara Republik yang saat itu masih sangat terbatas. Indonesia bahkan hanya memiliki sejumlah pesawat bekas peninggalan Jepang yang kondisinya jauh dari ideal.


Dengan pengalaman tempurnya, Halim melatih penerbang-penerbang muda Indonesia sekaligus menyusun strategi operasi udara dalam menghadapi agresi militer Belanda.

Ad Space


Misi Rahasia Menembus Blokade Belanda


Pada akhir 1947, Republik Indonesia menghadapi blokade ketat yang dilakukan Belanda. Persediaan senjata, amunisi, obat-obatan, dan perlengkapan militer sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kemerdekaan.


Ad Space

Halim Perdanakusuma bersama Opsir Udara Iswahyudi mendapat tugas menjalankan misi rahasia ke Thailand menggunakan pesawat Avro Anson RI-003 untuk membawa pulang perlengkapan militer bagi Republik.


Misi tersebut berhasil dilaksanakan. Namun nahas, dalam perjalanan pulang pada 14 Desember 1947, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan akibat cuaca buruk di kawasan Tanjung Hantu, Labuhan Bilik Besar, Perak, Malaya (kini Malaysia).


Keduanya gugur dalam tugas negara.

Ad Space


Kepergian Halim dan Iswahyudi menjadi pukulan besar bagi perjuangan Indonesia yang saat itu masih mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kolonial.


Namanya Diabadikan Menjadi Bandara


Ad Space

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah kemudian mengabadikan nama Abdul Halim Perdanakusuma sebagai nama pangkalan udara utama di Jakarta.


Lapangan Udara Tjililitan resmi berganti nama menjadi Bandara Halim Perdanakusuma, yang hingga kini menjadi salah satu gerbang transportasi udara nasional.


Setiap pesawat yang lepas landas maupun mendarat di bandara tersebut sejatinya membawa nama seorang pahlawan yang pernah mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ad Space
Bagikan: