Administrator, Administrator
Tim Redaksi

kanal9.id - Di kompleks Makam Kanjeng Sunan Kalijaga, Kadilangu, Kabupaten Demak, terdapat sebuah batu sederhana yang setiap hari tak pernah sepi dari perhatian peziarah. Sekilas tampilannya tak jauh berbeda dengan batu biasa. Namun bagi masyarakat, batu yang dikenal sebagai Selo Panenggahanipun itu menyimpan cerita panjang tentang perjalanan spiritual salah satu wali terbesar penyebar Islam di Tanah Jawa.

Konon, di atas batu inilah Sunan Kalijaga menghabiskan waktu untuk bertapa, berzikir, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sebelum menjalankan dakwahnya. Karena diyakini menjadi saksi perjalanan batin sang wali, Selo Panenggahanipun hingga kini tetap dihormati sebagai salah satu patilasan bersejarah yang memiliki makna religius mendalam.

Seiring berjalannya waktu, batu tersebut tidak hanya menjadi objek sejarah, tetapi juga melahirkan berbagai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dahulu, menurut penuturan masyarakat sekitar, ukuran Selo Panenggahanipun jauh lebih besar dibandingkan yang terlihat saat ini. Namun perlahan batu itu terus menyusut. Penyebabnya bukan karena terkikis usia semata, melainkan kebiasaan sebagian peziarah pada masa lalu yang mengambil serpihan kecil batu atau memipilnya.

Mereka percaya serpihan batu tersebut memiliki tuah atau karomah, sehingga disimpan sebagai benda yang diyakini membawa berkah. Tradisi itu berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya mengancam kelestarian batu bersejarah tersebut.

Ad Space

Melihat kondisinya yang semakin mengkhawatirkan, pengelola makam mengambil langkah pelestarian. Kini Selo Panenggahanipun ditempatkan di balik pelindung kaca agar tidak lagi mengalami kerusakan akibat sentuhan langsung maupun pengambilan bagian batu oleh pengunjung.

Selain ukurannya yang berubah, warna batu juga menjadi perhatian banyak peziarah. Jika dahulu dikenal berwarna hitam pekat, kini permukaannya tampak lebih cerah dengan nuansa putih gading. Perubahan ini kerap memunculkan berbagai cerita mistis di tengah masyarakat.

Namun secara ilmiah, fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang supranatural. Perubahan warna terjadi akibat proses kondensasi dan kristalisasi mineral yang berlangsung secara alami di dalam ruang kaca pelindung. Kelembapan yang terperangkap dalam penutup kaca memicu perubahan pada permukaan batu sehingga warnanya tampak semakin terang dari waktu ke waktu.

Terlepas dari berbagai kisah yang berkembang, Selo Panenggahanipun memiliki nilai yang jauh melampaui cerita mistis. Batu ini menjadi simbol perjalanan spiritual Sunan Kalijaga, sosok yang dikenal mampu menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya, seni, dan kearifan lokal tanpa menghilangkan tradisi masyarakat Jawa.

Bagi para peziarah, keberadaan batu ini bukan sekadar peninggalan fisik, tetapi juga pengingat akan nilai kesabaran, ketekunan, dan kebijaksanaan dalam berdakwah. Sementara bagi generasi muda, Selo Panenggahanipun menjadi warisan sejarah yang mengajarkan pentingnya menjaga peninggalan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.

Ad Space

Di tengah derasnya perkembangan modern, batu sederhana di Kadilangu itu tetap berdiri menjadi saksi bisu perjalanan dakwah Sunan Kalijaga. Sebuah pengingat bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dirawat dan diwariskan sebagai bagian dari identitas budaya dan religi bangsa Indonesia.


Bagikan: