Joe Kris, Administrator
Tim Redaksi

kanal9.id - Di balik ramainya aktivitas Kota Semarang, ternyata masih ada banyak orang yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan seporsi makan. Hampir setiap malam, akun Instagram Gerakan Nasi Darurat Semarang menerima pesan yang isinya sederhana, tetapi begitu menyentuh.

"Kak, saya belum makan."

Kalimat singkat itu datang dari berbagai orang. Ada mahasiswa yang kehabisan uang kiriman, perantau yang belum juga mendapatkan pekerjaan, hingga warga yang memilih menahan lapar karena uang yang dimiliki harus dipakai untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

Bagi sebagian orang, seporsi nasi mungkin hal biasa. Namun bagi mereka yang sedang berada di masa sulit, makanan itu menjadi penyemangat untuk tetap bertahan menjalani hari.

Gerakan Nasi Darurat Semarang digagas oleh Eko Purnama, seorang tenaga kesehatan yang pernah merasakan sulitnya hidup saat masih menjadi mahasiswa. Ketika uang bulanan menipis, ia memilih berhemat karena memahami kondisi ekonomi keluarganya. Pengalaman itulah yang membuatnya ingin membantu orang lain yang mengalami nasib serupa.

Ad Space

Bersama dua rekannya, Eko kemudian membentuk Gerakan Nasi Darurat Semarang. Bukan organisasi besar, melainkan gerakan sederhana dengan semangat saling membantu antarwarga.

Cara kerjanya pun cukup unik. Mereka tidak memasak makanan sendiri. Setiap ada permintaan bantuan yang masuk melalui Instagram atau WhatsApp, relawan lebih dulu melakukan verifikasi. Setelah itu, mereka akan membelikan makanan di warung terdekat dari lokasi penerima, dengan nilai maksimal sekitar Rp25 ribu per porsi.

Selain membuat bantuan lebih cepat sampai, cara ini juga membantu warung makan kecil di sekitar penerima.

Saat pertama kali berjalan, seluruh biaya berasal dari kantong pribadi Eko. Namun seiring semakin banyak orang yang membutuhkan bantuan, masyarakat mulai ikut berdonasi. Semua dana yang masuk dikelola secara terbuka. Donatur bisa melihat bukti pembayaran hingga rincian penggunaan dana, sehingga semuanya berjalan dengan transparan.

Selama menjalankan gerakan ini, banyak kisah yang membekas di hati para relawan. Salah satunya datang dari seorang mahasiswa yang mengaku sudah dua hari belum makan karena kiriman dari orang tua belum tiba, sementara pekerjaan sambilannya berhenti saat libur kuliah.

Ad Space

Tak hanya mahasiswa, banyak juga perantau yang menghubungi mereka. Datang ke Semarang dengan harapan mendapatkan pekerjaan, tetapi bekal yang dibawa habis sebelum kesempatan itu datang. Dalam kondisi seperti itulah, satu bungkus nasi menjadi bekal untuk kembali melangkah keesokan harinya.

Setiap malam, mulai pukul tujuh hingga sembilan malam, para relawan membuka layanan dan berusaha menjawab semua pesan yang masuk. Hingga kini, lebih dari seratus orang telah merasakan manfaat dari Gerakan Nasi Darurat Semarang.

Meski dana pribadi yang dikeluarkan masih lebih besar dibandingkan donasi yang diterima, Eko mengaku tak pernah mempermasalahkannya. Baginya, yang terpenting adalah memastikan tidak ada orang yang harus tidur dalam keadaan lapar.

Ke depan, ia berharap Gerakan Nasi Darurat Semarang bisa berkembang lebih besar. Tak hanya membantu lewat media sosial, tetapi juga menghadirkan lebih banyak aksi nyata yang melibatkan masyarakat untuk saling berbagi.

Karena pada akhirnya, kepedulian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, semuanya berawal dari kesediaan membaca dan menjawab satu pesan sederhana, "Kak, saya belum makan."

Ad Space


Bagikan: