Joe Kris, Administrator K9
Tim Redaksi

kanal9.id - Ada kuliner yang belakangan ini bikin banyak orang rela mampir ke kawasan Ngaliyan, Kota Semarang. Sekilas memang terlihat seperti rujak buah biasa. Namun begitu pesanan datang, tampilannya langsung mencuri perhatian karena tidak disajikan di piring, melainkan di dalam batok kelapa.

Di sebuah gerobak sederhana bertuliskan "Kedai Rujak Amerika" di Jalan Prof. Dr. Hamka, tepat di depan SDN 4 Tambakaji, Arif menghadirkan kreasi yang tak biasa, yakni rujak degan. Perpaduan aneka buah segar, serutan kelapa muda, dan sambal rujak ini menjadi menu andalan yang membuat banyak orang penasaran.

Saat ada pembeli memesan, Arif terlebih dahulu mengambil kelapa muda dari penjual es degan yang berada tepat di samping lapaknya. Daging kelapa diserut, lalu dipadukan dengan potongan buah seperti mangga, nanas, pepaya, bengkuang, hingga kedondong. Semua bahan kemudian dimasukkan ke dalam batok kelapa dan disiram bumbu rujak racikan khasnya.

Sensasi rasanya pun berbeda dari rujak pada umumnya. Serutan kelapa muda membuat sambal terasa lebih gurih dan lembut, sementara sedikit air kelapa yang tercampur ke dalam bumbu menghadirkan rasa segar di setiap suapan. Air kelapanya sendiri disajikan terpisah dalam gelas sehingga bisa diminum setelah menikmati pedasnya rujak.

Menariknya, menu yang kini menjadi favorit pelanggan itu lahir tanpa perencanaan khusus. Arif mengaku ide tersebut muncul secara spontan saat mencoba mencampurkan kelapa muda milik pedagang di sebelah lapaknya dengan sambal rujak buatannya.

Ad Space

Hasil percobaan sederhana itu ternyata di luar dugaan. Setelah videonya diunggah ke media sosial oleh sang istri, banyak orang datang penasaran untuk mencicipi. Sejak saat itu, rujak degan menjadi salah satu menu paling dicari di Kedai Rujak Amerika.

Satu porsi rujak degan dibanderol Rp35 ribu, sedangkan rujak buah biasa dijual Rp15 ribu. Meski harga buah dan kelapa sempat mengalami kenaikan, Arif memilih mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau bagi pelanggan.

Dalam sehari, pria yang telah 16 tahun berjualan rujak itu mampu menghabiskan sekitar 20 hingga 30 batok kelapa. Bahkan, tak jarang dagangannya ludes sebelum jam operasional berakhir karena stok bahan sudah habis.

Nama "Rujak Amerika" sendiri juga memiliki cerita unik. Bukan karena menggunakan resep dari luar negeri, melainkan karena gerobaknya dulu dihiasi bendera Amerika. Sejak saat itu pelanggan lebih mudah menyebut lapaknya sebagai "Rujak Amerika", hingga akhirnya nama tersebut melekat sampai sekarang.

Salah satu pembeli, Elsa, mengaku sengaja datang setelah melihat rujak degan viral di media sosial. Menurutnya, kombinasi buah segar, kelapa muda, dan penyajian menggunakan batok kelapa memberikan pengalaman kuliner yang berbeda dari rujak yang biasa ia temui.

Ad Space

Meski harganya lebih tinggi dibanding rujak biasa, Elsa menilai satu porsi rujak degan sepadan dengan isinya yang melimpah. Bahkan, menurutnya satu batok rujak bisa dinikmati bersama dua hingga tiga orang, sehingga tetap terasa ramah di kantong.


Bagikan: