Helmi, Administrator
Tim Redaksi

BANTUL - Dunia seni rupa Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Maestro seni lukis kontemporer Indonesia, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) pukul 05.50 WIB setelah mengalami henti jantung yang didahului sesak napas. Seniman kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965, itu mengembuskan napas terakhir pada usia 60 tahun.


Kabar duka tersebut pertama kali menyebar melalui unggahan sejumlah kerabat, sahabat, dan rekan sesama seniman di media sosial. Penulis sekaligus budayawan Yogyakarta, Hairus Salim, menjadi salah satu yang mengabarkan wafatnya Nasirun melalui akun Facebook pribadinya.


"Kabar duka, telah meninggal dunia sahabat kita, pelukis Nasirun pukul 05.58 di RS AMC Yogyakarta," tulis Hairus, Sabtu pagi.

Ad Space


Ucapan belasungkawa kemudian mengalir dari berbagai tokoh seni dan budaya, termasuk perupa Entang Wiharso serta sastrawan Agus Noor. Dalam unggahannya di media sosial, Agus Noor mengenang Nasirun sebagai pribadi yang hangat dan penuh humor.


"Cerita-cerita jenaka dan caranya tertawa akan terus saya ingat, seperti mengingat kebaikan-kebaikannya. Sugeng tindak Mas Nasirun. Selamat jalan. Doa terbaik," tulis Agus Noor.


Ad Space

Suasana duka menyelimuti rumah almarhum di Bayeman Permai, Ngestiharjo, Bantul, tempat keluarga, sahabat, seniman, akademisi, hingga para kolektor berkumpul memberikan penghormatan terakhir.


Kurator seni sekaligus dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, menilai Nasirun merupakan sosok yang berhasil membuktikan bahwa seorang seniman mampu hidup secara profesional dari karya-karyanya. Menurutnya, sejak masih menjadi mahasiswa, Nasirun telah aktif berpameran dan karya-karyanya diterima oleh banyak kolektor, baik di dalam maupun luar negeri.


Lebih dari itu, Mikke menyebut warisan terbesar Nasirun terletak pada kemampuannya memadukan kekayaan tradisi Jawa dengan pendekatan seni rupa kontemporer. Melalui simbol-simbol wayang, mitologi, dan nilai-nilai spiritual, Nasirun menghadirkan karya yang khas dan diakui di tingkat internasional.

Ad Space


"Beliau mampu mengelaborasi tradisionalisme ke ranah global. Dia seorang post-traditionalist," ujar Mikke.


Hal senada disampaikan perupa Jumaldi Alfi Chaniago, yang mengenang Nasirun sebagai sosok sederhana dan rendah hati. Meski namanya telah dikenal di berbagai negara, Nasirun tetap bersedia menghadiri berbagai pameran seni, termasuk kegiatan-kegiatan kecil yang digelar oleh komunitas maupun masyarakat.


Ad Space

Bagi banyak seniman, Nasirun bukan hanya seorang pelukis, tetapi juga figur yang menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya tanpa meninggalkan akar budaya Indonesia.


Usai disemayamkan, jenazah Nasirun dimakamkan di Makam Seniman Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Sabtu (1/8/2026) sore.


Kepergian Nasirun meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni Indonesia. Namun, karya-karya yang lahir dari tangan kreatifnya akan terus menjadi warisan berharga, memperkenalkan nilai-nilai budaya Jawa kepada masyarakat dunia sekaligus mengukuhkan namanya sebagai salah satu maestro seni rupa terbesar yang pernah dimiliki Indonesia.

Ad Space
Bagikan: