Administrator, Administrator
Tim Redaksi

SEMARANG — Kawasan Tugu Muda Semarang akan kembali dipenuhi ribuan orang pada Rabu (14/10) malam. Bukan sekadar seremoni, kawasan bersejarah tersebut akan menjadi panggung untuk menghidupkan kembali kisah perjuangan dalam Pertempuran 5 Hari di Semarang.

Lebih dari 2.000 orang akan terlibat dalam peringatan yang digelar untuk mengenang peristiwa heroik 14-18 Oktober 1945 tersebut.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengajak masyarakat datang dan menyaksikan langsung rangkaian peringatan tersebut. Menurutnya, momentum itu bukan hanya milik pemerintah atau kalangan tertentu, melainkan bagian dari sejarah yang melekat pada Kota Semarang.

“Ini sejarah kota kita sendiri. Ajak keluarga, ajak anak-anak, supaya mereka tahu apa yang pernah diperjuangkan di sini,” kata Agustina di Semarang, Selasa.

Peringatan tahun ini menjadi penyelenggaraan yang ke-81. Berbagai rangkaian kegiatan disiapkan, mulai dari napak tilas, upacara, pembacaan cukilan sejarah hingga teatrikal yang akan membawa kembali suasana pertempuran di kawasan Tugu Muda dan Museum Mandala Bhakti.

Ad Space

Teatrikal sejarah menjadi salah satu atraksi utama. Pertunjukan yang melibatkan Untag dan Teater Pitoelas bersama sejumlah pihak itu akan menggambarkan kembali perjuangan para pemuda, tentara, polisi, dan masyarakat Semarang ketika berhadapan dengan pasukan Jepang.

Pertempuran tersebut bermula pada 14 Oktober 1945. Delapan anggota Polisi Istimewa yang berjaga di tandon air Wungkal diserang tentara Jepang.

Pada hari yang sama, dr Kariadi, kepala laboratorium rumah sakit, gugur setelah dicegat ketika hendak memeriksa kabar dugaan peracunan sumber air.

Situasi kemudian semakin memanas. Sehari berikutnya, ribuan tentara Jepang bersenjata lengkap bergerak menyerbu pusat Kota Semarang. Mereka mendapat perlawanan dari pemuda, BKR, polisi, hingga warga yang hanya bermodalkan persenjataan seadanya.

Pertempuran berlangsung selama lima hari sebelum berakhir melalui perundingan pada 18 Oktober 1945. Peristiwa tersebut menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Sedikitnya 2.000 pemuda dan pejuang gugur dalam pertempuran.

Ad Space

Bagi Agustina, perjuangan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai cerita dalam buku sejarah.

“Yang berjuang waktu itu orang-orang biasa. Tugas kita yang hidup hari ini adalah merawat apa yang mereka tinggalkan,” ujarnya.

Tahun ini, sedikitnya 1.051 peserta upacara dari unsur TNI, Polri, taruna, pelajar, mahasiswa, dan relawan sosial akan terlibat. Selain itu, terdapat sekitar 300 tamu undangan serta personel penunjang dari 37 instansi dan perangkat daerah

Rangkaian utama peringatan akan berlangsung di kawasan Tugu Muda dan halaman Museum Mandala Bhakti mulai pukul 18.00 WIB.

Namun, masyarakat yang hendak menyaksikan acara tersebut perlu memperhatikan rekayasa lalu lintas. Dinas Perhubungan Kota Semarang akan melakukan pengalihan arus di sejumlah ruas sekitar Tugu Muda, baik saat gladi bersih maupun pelaksanaan kegiatan.

Ad Space

Penutupan dan pengaturan arus antara lain dilakukan di depan LP Wanita Bulu, Simpang Kariadi, Simpang Eka Karya Pandanaran, dan Simpang Paragon.

Pemkot Semarang juga menyiapkan sejumlah kantong parkir, di antaranya Pasar Bulu, Udinus, Gereja Katedral, serta Ruko Pandanaran

Penyesuaian juga dilakukan terhadap sejumlah rute Trans Semarang, meliputi Koridor 1, 2, 3, 4, 5, 8 dan Feeder 1B.

Malam itu, Tugu Muda bukan hanya menjadi ruang berkumpulnya ribuan orang. Di tempat yang menjadi saksi sejarah tersebut, warga Semarang diajak kembali menengok perjuangan generasi terdahulu sekaligus mengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari pengorbanan orang-orang biasa yang berani melawan di tengah situasi luar biasa.

Bagikan: