Helmi, Administrator
Tim Redaksi

JAKARTA — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tidak hanya menjadi perhatian karena aktivitas vulkaniknya. Sebaran abu vulkanik juga mulai memberikan dampak terhadap sektor penerbangan, khususnya rute yang melintasi wilayah udara sekitar Jawa, Sumatra bagian selatan, dan Lampung.


Abu vulkanik yang menyebar ke ruang udara membuat sejumlah penerbangan harus melakukan penyesuaian. Maskapai dapat memilih membatalkan penerbangan, menunda keberangkatan, melakukan holding, hingga mengalihkan rute demi menjaga keselamatan penerbangan.


Dampak tersebut terutama dirasakan pada penerbangan dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta (CGK) serta Bandar Udara Radin Inten II Lampung (TKG). Sejumlah rute menuju Sumatra bagian selatan dan Australia bahkan harus dialihkan ke jalur yang lebih jauh melalui wilayah utara Jawa.

Ad Space


Akibat pengalihan tersebut, waktu tempuh penerbangan dapat bertambah sekitar 20 hingga 40 menit. Kondisi ini juga membuat kebutuhan bahan bakar pesawat meningkat karena pesawat harus menempuh jarak tambahan.


Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier Association (INACA), Bayu Sutanto, menyebut dampak erupsi terhadap maskapai bersifat ganda. Di satu sisi, perusahaan berpotensi kehilangan pendapatan akibat pembatalan penerbangan. Di sisi lain, maskapai harus menanggung tambahan biaya operasional.


Ad Space

INACA memperkirakan gangguan penerbangan di CGK dan TKG berpotensi menimbulkan kerugian sekitar Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari.


Perhitungan tersebut mencakup potensi kerugian dari sekitar 30-50 penerbangan yang batal, tambahan konsumsi avtur akibat pengalihan rute, biaya parkir pesawat, hingga kompensasi bagi penumpang.


Jika kondisi tersebut berlangsung lebih lama, akumulasi kerugian industri penerbangan diperkirakan dapat mencapai Rp70 miliar hingga Rp130 miliar dalam sepekan.

Ad Space


Situasi ini menunjukkan bahwa erupsi gunung api dapat menimbulkan efek berantai yang jauh melampaui kawasan sekitar gunung. Selain ancaman terhadap masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau, aktivitas vulkanik juga dapat mengganggu mobilitas udara dan meningkatkan beban operasional industri penerbangan.


Karena itu, perkembangan sebaran abu vulkanik menjadi salah satu faktor penting yang terus dipantau untuk menentukan keamanan jalur penerbangan. Keselamatan penumpang dan awak pesawat tetap menjadi pertimbangan utama sebelum maskapai memutuskan untuk menerbangkan, menunda, atau mengalihkan pesawat.

Bagikan: