SEMARANG - Jauh sebelum Indonesia merdeka, ketika dunia penerbitan masih berada di bawah bayang-bayang ketatnya pengawasan pemerintah kolonial Belanda, muncul seorang tokoh yang kelak dikenal sebagai salah satu pelopor penerbitan nasional. Sosok tersebut adalah Tan Khoen Swie, seorang perantau asal Jawa Tengah yang mengawali perjalanan hidupnya dengan penuh perjuangan.
Tan Khoen Swie datang ke Kediri tanpa kemewahan dan tanpa modal besar. Ia menempuh perjalanan panjang dari Jawa Tengah menuju Kediri dengan berjalan kaki. Perjalanan yang menguras tenaga itu menjadi awal dari kisah seorang pemuda yang kelak meninggalkan jejak penting dalam sejarah literasi dan penerbitan di Indonesia.
Setelah menetap di Kediri, Tan Khoen Swie membangun kehidupan baru. Ia kemudian menikahi seorang perempuan asal Surabaya bernama Liem Gien Nio. Pernikahan tersebut menjadi titik awal bagi keduanya untuk membangun masa depan bersama, termasuk merintis usaha yang saat itu masih sangat jarang digeluti, yakni usaha percetakan dan penerbitan buku.

Pilihan untuk memasuki dunia penerbitan bukanlah keputusan yang mudah. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda menerapkan berbagai regulasi ketat terhadap penerbit. Setiap buku yang akan diterbitkan harus melewati pengawasan, sementara isi terbitan yang dianggap berpotensi mengganggu kepentingan pemerintah kolonial dapat sewaktu-waktu disensor bahkan dilarang beredar.
Di tengah kondisi tersebut, bisnis penerbitan juga belum menjanjikan keuntungan besar. Tingkat literasi masyarakat masih rendah, jumlah pembaca terbatas, dan biaya produksi buku relatif tinggi. Kondisi itu membuat banyak orang enggan terjun ke dunia penerbitan.

Namun Tan Khoen Swie justru melihat peluang yang berbeda. Ia meyakini bahwa buku bukan sekadar barang dagangan, melainkan media untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, menjaga warisan budaya, dan memperluas wawasan masyarakat. Keyakinan itulah yang membuatnya tetap bertahan meski harus menghadapi berbagai tantangan.
Melalui penerbit yang didirikannya di Kediri, Tan Khoen Swie mulai menerbitkan berbagai buku yang berisi ajaran filsafat, kebudayaan, sastra, sejarah, hingga naskah-naskah klasik Nusantara. Ia juga dikenal aktif menerbitkan karya-karya para pujangga Jawa, tokoh kebatinan, serta kitab-kitab yang mengangkat nilai moral dan spiritual.
Keberanian Tan Khoen Swie menerbitkan berbagai karya penting menjadikan perusahaannya berkembang menjadi salah satu penerbit paling berpengaruh di Hindia Belanda. Banyak karya yang mungkin hilang ditelan zaman justru berhasil diselamatkan melalui percetakan miliknya.

Tak hanya berorientasi pada keuntungan, Tan Khoen Swie juga memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian budaya lokal. Ia berupaya mendokumentasikan berbagai pemikiran dan karya sastra Jawa agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Berkat jasanya, banyak manuskrip kuno dan karya sastra klasik masih dapat dinikmati hingga sekarang.
Di kalangan sejarawan dan pemerhati literasi, Tan Khoen Swie dikenang sebagai sosok visioner yang mampu melihat pentingnya penerbitan sebagai sarana mencerdaskan masyarakat. Ketika banyak orang menganggap usaha percetakan penuh risiko, ia justru menjadikannya sebagai misi untuk menjaga pengetahuan dan kebudayaan.

Perjalanan hidup Tan Khoen Swie membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Berawal dari seorang perantau yang datang ke Kediri dengan berjalan kaki, ia berhasil membangun salah satu penerbit paling berpengaruh pada zamannya dan meninggalkan warisan besar bagi dunia literasi Indonesia.
Hingga kini, nama Tan Khoen Swie tetap dikenang sebagai pelopor penerbitan nasional sekaligus tokoh yang berjasa besar dalam melestarikan khazanah sastra, budaya, dan pemikiran Nusantara di tengah kerasnya tekanan pemerintah kolonial Belanda.
