Helmi, Administrator
Tim Redaksi

SEMARANG — Sekaten merupakan salah satu tradisi keagamaan dan kebudayaan yang telah berkembang di tengah masyarakat Jawa. Tradisi ini lekat dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan hingga kini masih dilestarikan di sejumlah wilayah, khususnya lingkungan keraton di Jawa.


Sekaten umumnya digelar pada bulan Mulud dalam kalender Jawa, yang bertepatan dengan bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Rangkaian tradisi biasanya berlangsung sejak awal bulan dan mencapai puncaknya pada 12 Rabiul Awal melalui pelaksanaan Garebeg Mulud.


Lebih dari sekadar perayaan, Sekaten menjadi bagian dari sejarah panjang perjumpaan antara budaya Jawa dan perkembangan Islam di Tanah Jawa.

Ad Space


Berawal dari Tradisi Kerajaan


Sejumlah catatan mengenai sejarah Sekaten menyebutkan bahwa tradisi ini memiliki akar dari kebiasaan masyarakat dan kerajaan Jawa sebelum berkembangnya Islam. Pada masa itu, berbagai upacara dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan rasa syukur.


Ad Space

Seiring berkembangnya Islam di Jawa, tradisi tersebut kemudian mengalami perubahan fungsi dan makna. Para penyebar Islam memanfaatkan kesenian dan kebudayaan yang telah akrab dengan masyarakat sebagai sarana dakwah.


Salah satu kesenian yang memiliki daya tarik besar bagi masyarakat Jawa ketika itu adalah gamelan.


Gamelan kemudian digunakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi. Pendekatan melalui kesenian tersebut membuat masyarakat lebih mudah berkumpul, sekaligus menjadi kesempatan bagi para ulama untuk menyampaikan ajaran Islam.

Ad Space


Gamelan Menjadi Bagian Penting Sekaten


Dalam perkembangan tradisi Sekaten, gamelan menjadi salah satu unsur yang paling dikenal. Salah satu tokoh yang kerap dikaitkan dengan penggunaan gamelan sebagai media dakwah adalah Sunan Kalijaga.


Ad Space

Gamelan yang dikenal dengan nama Kyai Sekati dimainkan dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi. Pada masa Kesultanan Demak, gamelan tersebut ditempatkan di sekitar Masjid Demak dan dimainkan pada momentum perayaan.


Alunan gamelan menjadi daya tarik bagi masyarakat dari berbagai daerah. Warga datang untuk menyaksikan pertunjukan sekaligus mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan.


Momentum berkumpulnya masyarakat tersebut kemudian dimanfaatkan para wali untuk menyampaikan ajaran Islam. Dakwah dilakukan melalui nasihat, pengajaran agama, serta pengenalan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.

Ad Space


Dari Syahadatain hingga Sekati


Asal-usul nama “Sekaten” memiliki sejumlah versi. Salah satu pendapat mengaitkannya dengan kata Sekati, yang merujuk pada nama perangkat gamelan pusaka keraton yang digunakan dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi.


Ad Space

Ada pula pendapat yang menyebut Sekaten berasal dari gabungan kata “suka” dan “ati”, yang dimaknai sebagai “senang hati”. Versi lainnya mengaitkannya dengan istilah “sesek” dan “ati”, yang berarti “sesak hati”.


Sementara itu, pendapat lain menghubungkan istilah Sekaten dengan kata syahadatain, yakni dua kalimat syahadat. Penafsiran ini berkaitan dengan fungsi awal tradisi tersebut sebagai bagian dari sarana dakwah dan pengenalan ajaran Islam.


Sekaten sebagai Media Dakwah

Ad Space


Dalam sejarah perkembangannya, Sekaten tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga memiliki fungsi sebagai media dakwah Islam di Jawa.


Masyarakat yang datang mengikuti rangkaian acara diperkenalkan dengan ajaran Islam. Dalam sejumlah kisah mengenai tradisi tersebut, pengunjung yang hendak memasuki lingkungan masjid diarahkan untuk mengucapkan syahadat terlebih dahulu.


Ad Space

Selain itu, terdapat pula tradisi membersihkan diri sebelum mengikuti kegiatan keagamaan. Masyarakat yang berada di sekitar masjid diarahkan membasuh tangan, wajah, dan kaki dengan air yang tersedia di sekitar lingkungan masjid.


Rangkaian tersebut menunjukkan bagaimana penyebaran Islam pada masa awal dilakukan dengan pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.


Tetap Bertahan hingga Kini

Ad Space


Sekaten kemudian berkembang menjadi tradisi yang tidak hanya memiliki dimensi keagamaan, tetapi juga kebudayaan. Gamelan Sekaten, prosesi keraton, hingga Garebeg Mulud menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan tersebut.


Tradisi ini menjadi salah satu contoh bagaimana Islam dan kebudayaan lokal berinteraksi dalam sejarah masyarakat Jawa. Nilai-nilai keagamaan disampaikan melalui medium budaya yang telah dikenal masyarakat sehingga membentuk tradisi yang terus diwariskan lintas generasi.


Ad Space

Hingga kini, Sekaten masih menjadi salah satu tradisi yang dinantikan masyarakat pada momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi bagian dari warisan budaya Jawa yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Bagikan: