SLEMAN — Puluhan pelajar dan seorang guru di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendadak mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (7/9/2026).
Keluhan yang dialami para korban cukup beragam, mulai dari pusing dan mual hingga muntah-muntah. Mereka berasal dari sejumlah jenjang pendidikan yang diketahui menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto).
Kejadian tersebut bermula setelah paket makanan MBG dikirim ke sekolah-sekolah sejak pagi. Di SMPN 3 Turi, makanan tiba sekitar pukul 07.10 WIB. Sebelum dibagikan kepada siswa, pihak sekolah melakukan pemeriksaan makanan sesuai prosedur yang berlaku.

Saat pemeriksaan awal, makanan disebut masih dalam kondisi normal. Tidak ditemukan tanda-tanda seperti perubahan tekstur maupun lendir. Menu yang dibagikan terdiri atas nasi, bola-bola daging, sayuran kol dan wortel, edamame, serta buah semangka kuning.
Situasi berubah ketika seorang guru pendamping yang ikut menyantap makanan tersebut tiba-tiba mengalami mual dan muntah berulang kali.

Tak lama berselang, sejumlah siswa mulai mengeluhkan gejala yang serupa.
Di SMPN 3 Turi, sedikitnya 24 orang dilaporkan terdampak. Mereka terdiri atas 23 siswa dan seorang guru. Karena mengalami muntah cukup berat, sejumlah korban harus mendapatkan penanganan medis.
Satu orang guru bersama beberapa siswa dilarikan ke RSUD Sleman, sementara puluhan siswa lainnya mendapat pertolongan di Puskesmas Turi.

Persoalan kemudian diketahui tidak hanya terjadi di satu sekolah.
Makanan dari dapur SPPG Wonokerto ternyata juga didistribusikan ke sejumlah satuan pendidikan lainnya. Laporan mengenai siswa yang mengalami gejala serupa kemudian muncul dari SD Ma’arif Balirante dan SMK Muhammadiyah 1 Turi.

Panewu Anom Kapanewon Turi, Muhamad Yunan, membenarkan adanya laporan korban dari beberapa sekolah penerima makanan yang berasal dari dapur yang sama.
Kondisi tersebut membuat distribusi makanan dari SPPG Wonokerto menjadi perhatian. Langkah cepat dilakukan dengan menarik paket makanan yang sebelumnya telah disiapkan untuk TK Indriasana.
Paket tersebut ditarik sebelum sempat dikonsumsi oleh anak-anak sehingga potensi bertambahnya korban dapat dicegah.

Kasus ini kini menjadi perhatian karena kembali terjadi setelah sebelumnya muncul insiden dugaan keracunan yang juga berkaitan dengan penyaluran MBG di wilayah Kapanewon Sleman.
Meski muncul dalam waktu yang berdekatan setelah makanan dikonsumsi, penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa masih harus dipastikan melalui pemeriksaan dan pengujian lebih lanjut. Sampel makanan maupun pemeriksaan terhadap korban menjadi bagian penting untuk mengetahui apakah gejala tersebut benar-benar berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi.

Peristiwa ini sekaligus kembali menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap seluruh rantai penyediaan makanan MBG, mulai dari pengolahan di dapur, penyimpanan, pengemasan, pengiriman hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh para siswa.
Sebab, satu dapur yang menyuplai banyak sekolah memiliki potensi dampak yang luas apabila terjadi persoalan pada makanan yang didistribusikan.
